Cambridge Analytica, Etika dan Facebook


CEO Cambridge Analytica, Alexander Nix dan Co-Founder Cambridge Analytica, Christopher Wylie (Joshua Bright/Redux, Andrew Testa/The New York Times/Redux)

Beberapa hari lalu saya dikejutkan dengan sebuah video yang masuk ke timeline saya di Twitter dimana video tersebut menayangkan sebuah pengakuan tentang pelanggaran privacy dengan menyedot data profil jutaan pengguna sebuah jejaring sosial terbesar di dunia yang dilakukan oleh perusahaan tempatnya bekerja yang bernama Cambridge Analytica.

Efek berantai terjadi setelah Christopher Wylie, ex karyawan perusahaan analitik, Cambridge Analytica membeberkan apa yang sebenarnya yang dilakukan oleh perusahaan tersebut dalam kaitannya dalam proses pemenangan presiden Amerika terpilih Donald Trump.

Facebook under fire dalam kasus ini karena dianggap memberikan akses pada aplikasi yang digunakan oleh Dr. Aleksandr Kogan dari Cambridge Analytica.

Siapa yang salah?

Dengan pembeberan yang dilakukan oleh Christopher Wylie atas apa yang dilakukan oleh Cambridge Analytica maka sudah bisa dipastikan perusahaan tersebut yang mendapat kecaman keras atas cara mereka mengambil data dengan mengelabui responden. Namun kecaman terkeras ada pada Facebook karena dianggap “memberikan” akses kepada aplikasi luar untuk bisa mengambil data pengguna yang seharusnya tidak diberikan berdasarkan hak privacy.

Seperti yang dipaparkan oleh Herman Saksono, seorang mahasiswa S3 di Northeastern University pada status Facebooknya, sebenarnya praktek pencarian data untuk sebuah kepentingan itu lumrah dilakukan, namun masalahnya adalah Cambridge Analytica (saya singkat CA) melakukannya dengan cara yang tidak etis. CA mengambil 50 juta pengguna Facebook dengan cara mengundang 270 ribu pengguna Facebook untuk melakukan tes kepribadian dengan menggunakan apps yang diberi nama thisisyourdigitallife tanpa diketahui oleh para responden bahwa apps tersebut bisa mengambil juga data-data teman-teman para responden yang terhubung lewat hubungan pertemanan mereka di Facebook tersebut.

Hasil yang didapat oleh CA adalah 50 juta data pengguna Facebook, yang sebagian besar tidak tahu data-data mereka diambil oleh CA. Pencurian data ini yang jelas tidak bisa dibenarkan, dan cara CA mengelabui responden yang dianggap melanggar etika.

Lalu mengapa Facebook juga dianggap memegang peranan dalam kebocoran data-data mereka? Ya ada dua skenario yang dua-duanya harus dibuktikan. Skenario pertama diambil dari pengakuan Dr. Aleksandr Kogan yang menyebutkan bahwa CA punya hubungan baik dengan Facebook sehingga Facebook memberikan akses tersebut pada CA dengan asumsi Facebook sudah tahu kemampuan aplikasi tersebut dalam pengambilan data secara ilegal. Lalu skenario kedua, Dr. Aleksandr Kogan mengelabui Facebook dengan tidak mereveal kemampuan sesungguhnya dari aplikasi thisisyourdigitallife tersebut sehingga Facebook memberikan akses dengan pertimbangan bahwa aplikasi tersebut hanya digunakan untuk kepentingan survei semata.

Terlepas dari kedua skenario tersebut, Mark Zuckerberg setelah 5 hari kasus ini terungkap angkat bicara dan mengakui kesalahan (ketidaktelitian) mereka serta memohon maaf secara terbuka. Mark juga berjanji untuk segera mengaudit ulang seluruh sistem pada Facebook agar bisa menjamin kejadian serupa tidak lagi terulang.

Cambridge Analytica pun tidak tinggal diam, walaupun mereka tidak bisa mengelak dari kesalahan yang mereka lakukan. Dengan diterbitkannya sebuah rekaman video rahasia yang mengungkapkan bahwa CEO mereka, Alexander Nix mendiskusikan potensi penggunaan cara-cara penyuapan dan pemerangkapan, perusahaan tersebut langsung mengambil momen tersebut untuk mensuspen jabatan Nix sebagai CEO perusahaan tersebut. Namun sepertinya tindakan tersebut tidaklah cukup untuk bisa membersihkan nama CA setelah pembeberan yang dilakukan oleh Christopher Wylie.

Pembelajaran

Seperti pendapat yang disampaikan oleh mas Wicaksono (@ndorokakung) saat diskusi dengan saya di Twitter dibawah ini, pada akhirnya memang rakyat yang jadi korban, dan itu semua terjadi bukan karena peranan satu pihak.

Kita semua sebagai pengguna sebaiknya menggunakan momen kejadian ini sebagai pembelajaran betapa pentingnya menjaga data pribadi kita. Kesadaran dalam menyerahkan data pada pihak lain harus juga disertai dengan kesadaran tentang keamanan data tersebut yang seharusnya jadi tanggung jawab pihak yang kita percayai untuk menjaganya.

Semua itu biasanya tercantum dalam term of condition saat kita membuka akun kita di aplikasi ataupun layanan apapun yang sayangnya kebanyakan dari kita terlalu malas untuk membacanya dan memilih langsung ke bagian terakhir untuk segera menekan tombol ACCEPT.

Sepertinya kita sudah harus segera mulai lebih teliti dan tidak bersikap acuh tak acuh terhadap data-data pribadi kita ya.

Iklan

3 pemikiran pada “Cambridge Analytica, Etika dan Facebook

  1. Ping balik: Cara Mengetahui Data Tentang Anda yang Dimiliki oleh Facebook | bangwin.net

  2. Ping balik: Cara Menjaga Data Anda di Facebook | bangwin.net

  3. Ping balik: Bagaimana Mendapatkan Ide untuk Blog Post? | bangwin.net

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.