Pelajaran dari Kegagalan Uber di Indonesia


Foto: Reuters

Seperti yang kita tahu akhirnya Uber di Indonesia diakuisisi oleh Grab. Banyak pertanyaan yang muncul tentang bagaimana perusahaan pelopor disrupsi ekonomi ini akhirnya harus menjual perusahaannya pada perusahaan yang justru mengadopsi bisnis model yang mereka mulai duluan. Pada tulisan ini saya ingin menyoroti penyebab kegagalan Uber sehingga kita semua terutama untuk usaha rintisan bisa mendapatkan masukkan juga.

Kasus ini sebenarnya bukanlah kasus pertama kalinya buat mereka. Uber sebelumnya sudah meninggalkan China dan Russia sebelumnya. Kegagalan Uber ini sebenarnya sudah bisa diramalkan sejak beberapa saat lalu. Mereka sulit berkompetisi dengan pemain lokal selain juga harus berurusan dengan hambatan aturan di beberapa negara.

Adam Komarnicki menyebutkan  bahwa cara Uber melakukan bisnisnya saat ekspansi terlalu mengcopy dan sangat mengacu gaya hidup di Amerika sehingga terkadang tidak terlalu “match”. Selain itu Adam juga juga menyebutkan bahwa Uber masuk ke beberapa negara saat pemain lokal sudah menjiplak model bisnis mereka dan berhasil. Sehingga saat Uber masuk kondisinya justru terbalik karena pasar di negara tersebut sudah mengenal model bisnis tersebut dan tidak terlalu kagum dengan apa yang dilakukan oleh Uber. Pemain lokal yang muncul terlebih dahulu dengan menjiplak model bisnis Uber langsung mendapat perhatian banyak orang.

Itulah yang terjadi di Indonesia. Uber tidak segera mengatasinya dengan mencoba mendekatkan diri kepada masyarakat setempat yang merupakan calon konsumen mereka, sehingga kesan berjarak lah yang dilihat oleh orang-orang.

Dari sisi layanan banyak juga konsumen yang kecewa karena kebanyakan pengemudi mobil dalam usaha transportasi online cenderung tidak bersikap melayani karena kebanyakan pengemudinya kebanyakan bukan pemilik kendaraan melainkan orang yang bekerja pada pemilik kendaraan, sehingga rasa memiliki terhadap kendaraannya juga kurang. Mereka hanya bekerja untuk mengejar setoran.

Ini berbeda dengan yang terjadi pada pengendara motor dalam usaha transportasi online. Pengendara motor rata-rata adalah pemilik langsung dari kendaraan mereka sendiri sehingga mereka bisa merasakan langsung dampak dari usaha mereka.

Hal lain dari Uber yang dikritik banyak orang adalah mereka masuk ke Indonesia tanpa mempelajari dahulu situasi yang ada didalam negeri. Sehingga jadi terkesan asal masuk saja. Salah satu contoh adalah kesulitan pengemudi untuk menggunakan smartphone dimana smartphone adalah bagian yang krusial yang harus dikuasai untuk menjalankan usaha ini. Atau kesulitan pengemudi untuk mendapatkan smartphone karena untuk kebanyakan pengemudi smartphone adalah barang mahal. Penggunaan kartu kredit yang digunakan sebagai moda pembayaran jadi masalah karena belum sepenuhnya bisa diterima oleh penumpang pun tidak segera dicarikan solusinya. Uber masuk ke Indonesia di tahun 2014 namun pembayaran tunai baru dibuka pada tahun 2016. Perusahaan lain malah sudah duluan dan sukses menyelesaikan masalah tersebut.

Uber sepertinya kurang peka dengan market diluar Amerika dan ini membuat bisnis mereka jadi tidak bisa bertahan di Indonesia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.