Dampak Ekonomi Pembangunan Jalur Tol


Kita boleh bersyukur atas banyaknya jalan tol yang telah rampung diselesaikan/hampir selesai di negara ini karena ini memudahkan hidup kita jika kita melakukan perjalanan (walaupun harus ditukar dengan tiket tol yang lumayan juga) namun apakah dari kita banyak yang sadar bahwa penambahan jalur tol atas jalur sebelumnya itu juga membuat masalah perekonomian baru pada jalur-jalur non-tol yang sudah ada sebelum tol dibangun?

Masalah perekonomian apa yang terkena dampak dengan adalnya jalan tol? Jalan itu adalah roda ekonomi bagi masyarakat disekitarnya, sebagaimana sungai dan juga pelabuhan. Saat waktu tempuh perjalanan melebihi 2 jam, tentunya dibutuhkan tempat beristirahat, ya sekedar mengaso, makan, minum atau bahkan tempat untuk melepaskan lelah dengan beristirahat. Oleh karena itu di jalur non-tol biasanya bermunculan tempat makan, tempat menginap, dan sebagainya. Perekonomian disepanjang jalur non-tol jadi tumbuh dan berkembang menghidupi daerah sekitarnya.

Bisa dibayangkan bukan jika tol dibangun dan jadi jalan pilihan utama untuk menuju ke suatu tempat? Jalur non-tol jadi jalur alternatif karena tentu saja berkaitan dengan waktu tempuh jalur tol akan jadi jalur utama. Perekonomian di jalur non-tol tidak akan lagi seperti sebelumnya bukan? Tidak akan mati, hanya saja memang harus mencari cara agar bisa tetap survive dan berkembang tentunya.

Lalu bagaimana dong? Ya tidak bijak juga jika kita protes karena pembangunan jalur tol. Suka atau tidak suka adanya jalan tol juga membantu kita semua. Mengapa tidak mulai berfikir kreatif dengan bagaimana mengembangkan potensi dan daya tarik daerah di jalur non-tol sehingga bisa menjadi pilihan persinggahan?

Intinya adalah mulailah berfikir kreatif!

Iklan

8 pemikiran pada “Dampak Ekonomi Pembangunan Jalur Tol

  1. Setuju Bang ! Salah satu program pemerintah saya saya semangat mendukungnya adalah pembukaan jalan raya sebagai jalur transportasi, salah satunya adalah jalan tol. Pernah membaca bahwa pembuatan jalan tol juga menyerap banyak tenaga kerja lokal bahkan dari daerah lain.

    Suka

    • Iya betul pada proses pembuatannya jalan tol memang menyerap banyak tenaga kerja lokal tapi seperti yang saya bahas di tulisan saya tersebut, setelah jalan tolnya jadi dan lalu menjadi pilihan jalan ketimbang jalan non-tol yang sebelumnya jadi rute utama, lalu bagaimana dengan perekonomian disepanjang jalan non-tol tersebut? Inti tulisannya sih sebetulnya di situ

      Disukai oleh 1 orang

      • Ia, betul sekali. Haduh, saya salah fokus nih.
        Mungkin, karena namanya jalan tol yang kesannya bebas hambatan, mungkin akan susah memunculkan usaha disepanjang jalan ini. Kecuali memang sebelumnya sudah dirancang per berapa kilometer begitu, pembuatan rest area yang khusus untuk berjualan atau membuat penawaran untuk membantu para pengguna jalan.
        Kira-kira begitu ya

        Suka

      • Bagaimana dengan perekonomian yang ada di jalan non-tol nya yang sebelum jalan tolnya ada merupakan jalan utama? Tentunya dengan adanya jalan tol yang baru maka yang akan melewati jalan non-tol nya pasti akan berkurang bukan? Yang mampir di restoran2 sepanjang jalan non-tol tersebut juga pasti berkurang? Kira2 gimana solusinya ya?

        Suka

      • Perlu ada kebijakan yang mengatur alur lalu lintas tol dan non-tol diikuti dengan kesadaran dari para pengendara sekalian. Memang, kita tidak bisa menghindari efek buruk dari adanya dua jenis jalan ini. Efeknya memang adalah ketika terjadi salah fungsi antara pengguna jalan tol dan nontol.
        kalau tidak salah, jalan tol memang diperuntukkan untuk pengendara yang harus ‘segera’ sampai tujuan, misalkan mereka yang ingin pergi ke bandar udara, jalan kearah ini biasanya disambungkan dengan jalan tol (Mohon koreksi kalau saya keliru). Sedangkan jalan non-tol mungkin sebaliknya. Terlalu banyak pengguna jalan tol juga akan membuat jalan tol kehilangan fungsinya, demikian juga kalau jalan non-tol terlalu banyak penggunanya.

        Ya…agak susah sih untuk memberi saran pada masalah seperti ini. karena kita tidak bisa menerka maksud hati banyak orang dan tujuan perjalananya. Perlu kerjasama dari banyak pihak untuk menentukan mana yang terbaik bagi pengguna jalan dan bagi mereka yang memutuskan untuk membuka bisnis disepanjang jalan.

        Disukai oleh 1 orang

  2. Inefisiensi sebabkan lebih 50% aktivitas ekonomi Indonesia terjadi di Jabodetabek, hampir 75% di Jabodetabek+Jabar+Jateng. Peningkatan kapasitas & jangkauan jaringan transportasi bisa mematikan aktivitas ekonomi di jalur-jalur transportasi lama, tapi bisa membuat aktivitas ekonomi di lokus-lokus baru jadi lebih memungkinkan bahkan bisa lebih efektif.

    Contoh:

    BBM 1 harga se-Indonesia tidak mungkin terwujud tanpa efisiensi transportasi.
    Selama ini Surabaya dan Medan sebagai nomor urut 2 & 3 aktivitas ekonomi masih sangat jauh tertinggal dibanding DKI Jakarta; bila biaya logistik lebih murah aktivitas ekonomi di kedua metropolitan tersebut bisa lebih meningkat lagi sehingga aktivitas ekonomi Indonesia tidak hanya di Jakarta saja.

    …dan seterusnya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.