Bohemian Rhapsody dari Kacamata Saya


Sebagai penggemar Queen sejak jaman saya duduk dibangku SMP, tentu saja saya tidak ketinggalan untuk menyempatkan diri menonton film layar lebar yang berjudul Bohemian Rhapsody. Film ini bercerita tentang kisah hidup Freddie Mercury dengan band Queen yang membesarkan namanya.

Bagus? Menurut so so karena alur ceritanya memang sangat biasa dengan sedikit mencoba menguras emosi di beberapa titik. Pemilihan Rami Malek sebagai pemeran Freddie Mercury memiliki satu kekurangan yaitu  matanya yang terlalu besar dan memberikan kesan tengil yang berlebihan untuk seorang Freddie (Freddie Mercury memiliki ukuran mata yang lebih kecil dan tatapan yang lebih lembut ketimbang Rami). Apakah ini menjadi masalah? Mungkin tidak bagi kebanyakan orang namun bagi saya cukup masalah, karena ketidak akuratan penggambaran sosok tokoh utama film ini membuat dalam sepanjang film menghantui kenyamanan saya dalam menonton. Hal lain adalah tinggi badan. Freddie memiliki sosok yang lebih tinggi ketimbang Rami, namun ini masih bisa dimaafkan dibandingkan masalah ukuran mata Rami (maafkan saya karena ini bukan salahnya Rami juga).

Dari sudut cerita, memang sangat terlihat bahwa fokus utama dari film ini adalah jalan hidup Freddie Mercury sementara itu Queen sebagai bandnya menjadi pembungkus yang justru menjadi daya pikat hampir semua penonton karena nilai sentimental dalam lagu-lagunya. Tak dapat dipungkiri setelah meninggalnya Freddie Mercury, kerinduan semua penggemar Queen memang tak dapat dipuaskan oleh semua penyanyi pengganti (Paul Rodgers, George Michael, Adam Lambert). Oleh karena itu alasan menonton film ini kebanyakan karena faktor nostalgik dari lagu-lagu yang dibawa oleh film ini.

Rasanya tidak adil jika saya tidak mengangkat kelebihan dari film ini. Rami Malek adalah aktor yang sangat baik. Ia berhasil membawakan gesture yang dimiliki oleh Freddie Mercury, diluar dari segala kekurangan film ini yang saya angkat dan nilai nostalgik yang berhasil memboyong saya dan banyak generasi yang besar di tahun 80an berbondong-bondong pergi ke bioskop untuk bernyanyi bersama.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.