Mengapa Orang Percaya dan Membagikan Berita Hoax?


Dalam blogpost saya sebelumnya saya mengangkat tentang bagaimana mengidentifikasi hoax di internet. Namun muncul pertanyaan lanjutan yang cukup mendasar, yaitu jika kita sudah tahu yang mana yang hoax dan yang mana yang bukan tapi mengapa masih tetap banyak orang yang menyakini ataupun memilih untuk menyakini berita-berita hoax tersebut? Ada beberapa penyebab yang akan saya coba bahas di sini. 

Kita semua tahu bahwa hoax adalah berita-berita atau tulisan-tulisan yang berisi informasi yang tidak benar yang sengaja dirancang dan disebarluaskan agar orang percaya kepada informasi yang tidak benar di dalam hoax tersebut. Agar hoax bisa dipercayai, maka banyak pembuat hoax memanfaatkan kelemahan dalam pikiran manusia yang mencegahnya berpikir kritis dan rasional. Hoax akan membuat orang menjadi salah-pikir dan salah-paham , curiga, dan kemudian menimbulkan emosi negatif seperti marah, benci dan permusuhan, yang akhirnya memicu perbuatan-perbuatan tertentu. Karena itu hoax dapat saja sengaja dirancang untuk memasuki pikiran banyak orang dengan maksud untuk menggerakan massa dalam jumlah besar untuk berbuat destruktif. Banyak informasi yang tidak benar, bahkan yang sebenarnya menggelikan dan irasional bisa mendapatkan pengikut yg banyak. Misalnya pendapat “bumi itu datar, bukan bulat” yang dipercaya oleh banyak sekali orang dari berbagai latar belakang dan pendidikan.

Hoax dapat masuk ke dalam pikiran seseorang karena adanya kelemahan-kelemahan dalam sistem pertahanan pikiran manusia. Kelemahan ini oleh ahli psikologi disebut bias pikiran. Bias pikiran membuat orang tidak berpikir secara rasional-logis. Ahli psikologi telah mengidentifkasi banyak sekali bias yang bisa mempengaruhi pikiran manusia. Namun secara garis besar bias tersebut dapat dikelompokan menjadi 2 golongan yaitu Beliefs Perseverance dan Information-Processing errors.

Confirmation Bias

Confirmation Bias ini termasuk dalam golongan Beliefs Perseverance. Bias ini membuat seseorang tertarik dan terpikat terhadap informasi baru yang mendukung atau sejalan dengan kepercayaan (atau sesuatu yang sudah diyakini) yang sudah ada dalam diri orang tersebut, sekalipun gagasan atau informasi tersebut tidak benar atau tidak rasional-logis. Sebaliknya bias ini akan membuat orang mengabaikan, menolak atau memodifikasi informasi yang bertentangan atau tidak sejalan dengan sistem kepercayaan orang tersebut, sekalipun informasi baru tersebut benar atau rasional-logis. Hal ini terkait dengan adanya perasaan ketidaknyamanan secara psikologis yang timbul karena informasi baru yang diterima tidak sesuai dengan kepercayaan (atau sesuatu yang sudah diyakini) yang sudah terlanjur mapan dalam diri orang tersebut.

Hoax dengan memanfaatkan Confirmation Bias ini sangat ampuh jika menggunakan agama atau sentimen atau stereotype (misalnya SARA) yang merupakan sistem kepercayaan yangg sudah berakar sangat kuat dalam diri kelompok tertentu. Dengan menggunakan framing agama dan sentimen, suatu berita atau informasi yang tidak benar dapat diolah sehingga terkesan mendukung atau sejalan dengan apa yang sudah diyakini kelompok tersebut. Berita atau informasi yang sudah diolah tersebut menjadi sesuatu yang bisa diterima oleh kelompok tersebut. Hoax tersebut dapat dengan mudah “disuntikkan” dan masuk ke dalam pikiran karena sistem pertahanan pikiran sudah lumpuh (sehingga kehilangan daya pikir rasional) karena kelemahan yang disebabkan oleh Confirmation Bias tersebut.

Conservatism Bias

Conservatism Bias (bersama dengan Confirmation Bias) membuat orang sulit menyesuaikan atau mengubah kepercayaan yang sudah ada sekalipun ada informasi baru yang lebih benar. Orang cenderung sungkan mengganggu gugat apa yang sudah mereka yakini atau sistem kepercayaan yang sudah mapan dalam diri mereka. Kecenderungan ini terjadi karena adanya ketidakmampuan untuk memproses informasi, dan juga karena adanya cognitive cost. Untuk memproses informasi, yaitu menyaring, menganalisis dan memahami memerlukan skill dan usaha (biaya, waktu, energi). Ini yang disebut dengan cognitive cost. Orang cenderung mengabaikan informasi baru yang bisa merevisi atau meluruskan kepercayaan yang sudah ada karena dia sulit memahami informasi tersebut. Setiap usaha untuk mengklarifikasi atau membantah suatu berita bohong (hoax) atau meluruskan suatu sentimen/stereotip yg tidak benar yang sudah terlanjur menjadi bagian sistem kepercayaan menjadi sangat sulit karena usaha ini akan ditantang oleh Conservatism Bias yang ada dalam pikiran orang-orang tersebut.

Framing Bias

Bias yang masuk dalam golongan Information-Processing errors ini adalah kecenderungan pikiran manusia memahami suatu informasi berdasarkan cara informasi tersebut disajikan. Suatu berita yang sama yang disajikan oleh dua orang wartawan bisa saja dipahami dan ditanggapi secara berbeda oleh pembaca yang sama, karena kedua wartawan tersebut menyampaikannya dengan cara yang berbeda (framing). Bias ini bisa dimainkan dalam membuat hoax.

Contoh salah satu dari banyak hoax yg terkenal adalah “bumi itu datar, bukan bulat”. Di sini, bahkan suatu hal yang sudah merupakan fakta pun bisa ditantang oleh hoax. Pernyataan menggelikan dan irasional tersebut di-framing sedemikian rupa sehingga kelihatan rasional dan meyakinkan bagi orang-orang tertentu. Sebenarnya jika dikaji secara mendalam pikiran yg teliti dan jeli dapat melihat bahwa framing tersebut merupakan tipuan belaka. Anda dapat melihat sendiri di YouTube bagaimana hoax tersebut di framing. Dan bukan hanya memanfaatkan Framing Bias, hoax tersebut juga memanfaatkan Confirmation Bias. Dengan mengutip ayat-ayat dari kepercayaan tertentu si pencipta hoax berusaha membuat orang-orang bisa menerimanya. Seolah-olah hoax tersebut sesuai dengan kepercayaan atau agama tertentu. Namun, pemikiran yang jeli dan teliti bisa membedakannya.

Availability Bias

Bias yang dalam golongan Information-Processing errors ini membuat otak menganggap suatu informasi atau gagasan yang tersedia secara luas, mudah diingat atau diakses oleh pikiran sebagai informasi yang lebih terpercaya. Karena itu suatu hoax yang setiap saat diulang-ulang dan diperkatakan lama kelamaan akan dianggap sebagai suatu fakta atau menjadi suatu kepercayaan yang tak tergoyahkan. Orang akan menganggap suatu produk yang satu lebih dipercayai daripada yang lain hanya karena produk tersebut lebih sering diiklankan. Orang yang pengalamannya hanya dalam lingkungan tertentu akan cenderung menganggap orang yang paling baik, paling cantik, paling pandai, karya paling hebat, berasal dari kalangan mereka sendiri. Fakta-fakta yang bertentangan tidak terjangkau oleh pikiran mereka karena pengalaman mereka sempit. Jika ada hal-hal yang buruk menimpa mereka, misalnya kemiskinan, keterbelakangan, dan sebagainya, mereka akan meganggap ada konspirasi dari pihak luar sana karena iri dan dengki kepada mereka.

Hati-hati terhadap hoax dan bias

Sebetulnya masih banyak bias yang bisa terjadi dalam pikiran manusia namun tidak semuanya bisa dipaparkan disini. Diharapkan penjelasan singkat tentang bias ini bisa meningkatkan kewaspadaan kita. Harus disadari bahwa bias pikiran menyebabkan otak tidak berpikir rasional sehingga dengan mudah mempercayai hoax. Juga ada baiknya kita mengkaji kembali apa yang sudah ada dalam pikiran kita yang kita yakini sebagai berita atau informasi yang benar. Siapa tahu itu merupakan hoax yang terlanjur masuk kedalam pikiran kita.

Tidak ada orang yang kebal terhadap bias pikiran dan hoax. Tiap orang dengan karakteristik berbeda mempunyai kecenderungan rentan terhadap bias yang berbeda. Karena itu jangan heran jika seorang ahli agama sekaligus akademisi tingkat tinggi bergelar profesor doktor pun bisa tertipu oleh hoax yang tidak masuk akal. Jadi ada baiknya kita membiasakan diri berfikir kritis dan jangan langsung mempercayai mentah-mentah tanpa tahu lebih dalam. Kenalilah perbedaan kebenaran dan hoax. Kebenaran kadang tidak terasa nyaman (pahit) karena bertentangan dengan apa yang sudah kita yakini. Sebaliknya hoax sering terasa manis karena sesuai atau mendukung apa yang kita percayai, sadar atau tidak sadar. Namun hoax pada umumnya menimbulkan perpecahan, kecurigaan, permusuhan dan kebencian.

*disadur dari berbagai sumber

Iklan

2 pemikiran pada “Mengapa Orang Percaya dan Membagikan Berita Hoax?

  1. Note closingnya:

    “… Namun hoax pada umumnya menimbulkan perpecahan, kecurigaan, permusuhan dan kebencian!”

    Harus membiasakan diri lebih kritis, hanya itu kiat untuk menghindari hoax. Note!

    Suka

Tinggalkan Balasan ke dwi bambang irianto Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.