Mengapa Monetisasi Media Tidak Akan Pernah Berhasil


Saat ini, banyak yang membicarakan isu-isu tentang media dalam hal memonetisasi konten mereka. Sederhananya, iklan tidak berjalan dengan baik, dan media berjuang untuk mengubah pembaca/pemirsa mereka menjadi penghasil profit yang aktual.

Dan sebagian besar, orang-orang sepertinya berasumsi bahwa ini adalah hambatan bagi mereka. Bahwa media akhirnya harus berjuang karena orang tidak ingin membayar untuk berlangganan dan lebih memilih untuk membeli artikel tunggal atau mendukung media dengan cara lain.

Sebetulnya itu adalah ide yang menarik, dan satu ide yang memiliki banyak solusi potensial di dalamnya. Beberapa termasuk menyediakan layanan mirip Netflix untuk berita, di mana artikel dari berbagai publikasi dapat dibeli di satu tempat (seperti Blendle).

Ada juga yang menyarankan browser yang harus mengambil alih, dengan titik penjualan yang cukup besar yang dimiliki oleh Brave maka penulis dan kreator dapat menghasilkan uang dari pengguna mereka dengan membagi pembayaran bulanan kepada orang-orang yang telah dikunjungi.

Dan seperti biasa, beberapa menyarankan cryptocurrency dan blockchains adalah solusinya, dimana para pedagang minyak wangi murahan mulai berbicara tentang bagaimana Bitcoin dapat menyelamatkan industri.

Tapi masalahnya: Tak satu pun dari solusi ini akan berhasil.

Mengapa? Karena mereka sepenuhnya tidak memahami masalahnya. Alasan media berjuang untuk menghasilkan uang bukan hanya karena sulit untuk membeli artikel tunggal secara online. Penyebabnya adalah karena internet benar-benar menghilangkan kebutuhan mengeluarkan dana untuk berita.

Dan ada dua cara utama yang dilakukan. Di awal, dimungkinkan bagi banyak orang untuk mengatur outlet media mereka sendiri, baik dalam bentuk situs berita, saluran YouTube, blog atau akun media sosial. Ini berarti sekarang ada berita yang tersedia secara online, dan bahwa pasokan media secara signifikan lebih besar daripada permintaan.

Jadi sekarang tidak ada insentif untuk membayar apa pun, dan setiap outlet media yang mencoba meminta apa pun sebagai bayaran akan dikalahkan oleh pasar bebas. Coba deh pikirkan dulu sebentar. Menurut Anda apa yang akan terjadi jika setiap outlet media mainstream memasang paywall atau meminta orang untuk membeli artikel mereka?

Sederhana, pihak lain akan datang dan mengambil jatah mereka. Lagipula, tidak mahal untuk membeli hosting web dan domain, dan lalu membuat situs menggunakan WordPress dengan beberapa berita di dalamnya. Jadi, New York Times yang ada sekarang hanya akan memberi jalan kepada munculnya ‘pengganti New York Times’ yang baru dan siklus baru akan memulai lagi. Tidak ada insentif untuk membayar apa pun di sisi pengguna, dan tidak ada insentif untuk membebankan biaya apa pun di sisi publikasi, karena itu hanya berarti menemukan outlet media baru atau menyerahkan pangsa pembaca/pemirsa ke pesaing Anda.

Dan itu bukan masalah yang dapat benar-benar diperbaiki oleh reputasi brand atau konten yang berkualitas. Oh ya tentunya ini mungkin bisa berpengaruh bagi sebagian orang. Pasti ada beberapa orang di luar sana yang menghargai kualitas konten yang mereka baca dan membuat mereka mau membayarnya.

Namun orang-orang seperti ini masuk kedalam golongan minoritas. Bagi kebanyakan orang, berita bukanlah produk yang dinilai dari kualitas, namun dinilai berdasarkan kenyamanan. Mereka tidak peduli jika New York Times atau Washington Post memiliki jurnalis yang ‘luar biasa’, mereka hanya peduli dengan apa yang dikatakan Trump di Twitter pagi ini atau berita pernikahan Reino Barack dan Syahrini beberapa hari yang lalu.

Oleh karena itu sekarang tidak ada insentif bagi mereka untuk membayar siapa pun. Lagi pula, mengapa repot-repot ketika semua yang Anda pedulikan dapat ditemukan di tempat lain secara gratis bukan? Bagi orang kebanyakan, sebenarnya tidak ada alasan untuk membayar berita.

Meskipun demikian, pengaturan yang sama tidak akan bekerja untuk sebagian besar publikasi. Hanya segelintir elit yang memiliki reputasi cukup baik dan fanbase yang cukup loyal bisa bertahan dengan pengaturan berlangganan berbayar, dan sisanya pada dasarnya hanya populer karena mereka ada.

Seperti misalnya, dalam dunia game hampir semua situs menawarkan berita game. Tidak ada yang peduli dengan IGN atau Gamespot atau Kotaku sebagai brand, mereka hanya peduli dengan berita yang mereka posting setiap beberapa jam. Apa yang diumumkan Nintendo dalam Nintendo Direct terakhir. Apakah ‘loot boxes’ akan ada pada game multiplayer EA yang semua orang sedang bicarakan. Atau mungkin seperti apa bentuk Pokemon generasi 8.

Oleh karena itu, jika situs-situs itu meminta bayaran, pada dasarnya mereka akan tenggelam tanpa jejak. Pasar game memiliki begitu banyak situs berita dan layanan di dalamnya sehingga orang-orang hanya akan pergi ke salah satu pengganti dan mendapatkan berita mereka dari sana secara gratis.

Lagipula, gaming itu benar-benar bisnis lucu yang sudah lama berjalan, dimana para pengembang dan penerbitnya sendiri yang memotong pihak perantara. Apakah Anda benar-benar perlu membaca artikel berita tentang Super Mario Maker 2 ketika Nintendo menghentikan presentasi yang bagus untuk Anda tonton di YouTube secara gratis?

Jadi jurnalisme hiburan itu dua kali kena kutuk. Tidak hanya harus bertarung melawan setiap blog dan saluran YouTube yang ada, tetapi juga bertarung dengan orang-orang yang membuat materi itu menjalankan outlet berita mereka sendiri dan bersaing melawan mereka.

Bisa saja kita asumsikan bahwa entah bagaimana caranya sebagian besar outlet berita mulai meminta bayaran untuk konten mereka dan dalam jumlah tertentu ada yang tertarik untuk membayar. Akankah itu menjadi hal yang baik?

Terus terang saya tidak yakin itu akan terjadi.

Karena pada akhirnya, memiliki semua konten online gratis ini mungkin adalah satu hal yang membuat literasi media tetap bertahan. Faktanya adalah, dengan memberi orang-orang konten gratis, Anda telah memberi orang-orang yang sebaliknya tidak akan membeli akses koran ke sumber informasi berkualitas tinggi.

Tetapi jika Anda mengambilnya … apa yang akan tersisa?

Proyek yang didasari oleh passion, situs media sosial dan semua outlet media tidak akan bisa dalam jutaan tahun membuat orang membayar mereka.

Di mana hampir semua ‘hoax’ dan situs-situs yang berisi teori konspirasi terkandung. Jadi artikel-artikel yang menolak ide-ide bodoh mendapatkan daya tarik lebih sedikit dari sebelumnya, orang-orang kebanyakan dikurung dari sumber-sumber berita yang kredibel, dan situs-situs teori konspirasi seperti Breitbart dan InfoWars mendapatkan lonjakan popularitas. Bukan semacam utopia, kan?

Kembali ke dunia nyata di sisi lain, ada beberapa kendala juga menghalangi proses monetisasi media.

Seperti misalnya, fakta bahwa pasar media terperangkap dalam dilema tahanan yang mematikan di mana segala upaya untuk mendapatkan lebih banyak uang berarti kehilangan popularitas, dan harapan orang-orang telah di set ke angka nol.

Orang-orang mengharapkan berita gratis, dan jika Anda tidak memberikannya kepada mereka, orang lain akan melakukannya. Jadi harga pasar untuk berita pada dasarnya adalah nol.

Sama seperti app store sebenarnya. Di sana, persaingan dan pasokan berlebih telah mendorong harga begitu rendah sehingga permintaan pada orang untuk membayar membuat Anda mendapatkan kumpulan review buruk dan juga membuat marah para pengguna karena mereka tidak bisa mendapatkan apps/game secara gratis. Tanyakan saja kepada Nintendo, yang aplikasi Super Mario Run-nya disalib oleh pasar mobile hanya karena memasang label harga.

Dan ini adalah situasi yang membuat kerja sama hampir mustahil. Jika setiap outlet media kecuali Anda meminta pembayaran, Anda akan mendapatkan bagian terbesar dari pasar. Karenanya, insentif Anda bukan untuk mendapatkan pembayaran, dan juga bukan dari pesaing Anda, betapapun besar atau kecilnya.

Namun, walaupun jika Anda berhasil di sana, lalu apa? Anda pada dasarnya akan menghancurkan pasar bebas untuk berita dan jurnalisme.

Mereka akan segera menyesalinya jika keinginan mereka menjadi kenyataan. Karena pada saat itu menjadi kenyataan, akan muncul the anti-trust lawsuit, denda untuk penetapan harga, dan lain sebagainya. Bahkan jika disebabkan oleh ‘keajaiban’ semua orang memutuskan untuk meminta pembayaran, yah itu hanya akan membawa kemarahan para regulator media dan pemerintah.

Jadi sekarang bahkan dalam skenario kasus ‘terbaik’ pun Anda masih akan mengalami kekacauan. Anda akan melihat banyak outlet media populer terpukul oleh denda yang bisa dibilang lumayan.

Dan itu masih akan menjadi lebih buruk. Karena untuk menjadikan sebuah situs menjadi populer secara online, situs tersebut membutuhkan dukungan dari setidaknya dua kelompok utama:

    1. Mesin pencari/Search Engine (terutama Google)
    2. Ditambah dengan situs media sosial (seperti Facebook, Twitter, dan lain-lain)

Kedua kelompok ini memiliki kepentingan yang jelas untuk tidak mendorong penulis dan penerbit untuk membebankan biaya atas pekerjaan mereka.

Dalam kasus Google, hal tersebut dikarenakan aturan nomer 1 dari mesin pencari mereka adalah bahwa pengguna dan bot harus melihat konten yang sama. Tidak pakai ‘jika’, tidak pakai ‘tetapi’; pengguna yang mencari Google harus dapat mengklik tautan dan melihat hal yang sama persis seperti yang dilakukan Googlebot ketika mengindeks situs.

Jadi setiap situs berita yang ingin memiliki kontennya terdaftar di Google (yang pada dasarnya wajib pada saat ini) dibiarkan dalam kebingungan.

Apakah mereka akan memasang paywall yang solid lalu diblokir/dihapuskan dari pencarian Google?

Atau apakah mereka akan memasang paywall yang dapat ditembus dan lalu menemukan para pengguna membaca artikel mereka secara gratis melalui archive.is/outline situs web dan tautan pencarian Google? Solusi yang mana saja tetap  berarti masalah untuk situs dan mencegah mereka membebankan biaya untuk pekerjaan mereka.

Apapun yang akan dilakukan, mencoba mengakali Google juga tidak bisa jadi opsi di sini. Anda melakukan hal tersebut, akan membuat Anda melakukan hal yang disebut sebagai black hat SEO dan itu akan jadi alasan alasan bagi Google untuk memban situs Anda.

Ini bukanlah situasi yang menguntungkan

Sama halnya dengan situs media sosial. Anda membutuhkan orang untuk dapat membagikan konten Anda, dan itu hanya akan berhasil jika orang lain benar-benar dapat membacanya. Jadi sekali lagi, ada insentif besar untuk membuat semuanya gratis, karena dari situlah Anda mendapatkan pembaca dari Facebook, Twitter, atau media sosial lainnya.

Jadi masalah dengan monetisasi pada media tidak datang dari beberapa kesulitan dalam menjual artikel secara individual, dan itu bukan sesuatu yang dapat diselesaikan oleh cryptocurrency, blockchain atau browser khusus. Karena internet telah menghilangkan kebutuhan untuk membayar apa pun, persyaratan tidak tertulis yang terbentuk telah membuat mustahil untuk siapapun membayar dan jumlah pesaing di pasar berita telah mengubah setiap upaya menghasilkan uang menjadi usaha yang tak berguna.

Dan semua itu adalah masalah yang belum ada solusinya.

Iklan

3 pemikiran pada “Mengapa Monetisasi Media Tidak Akan Pernah Berhasil

  1. Nyesek sekali ya membaca ini. Saya yang bergerak di bidang konten marketing pun kebingungan bagaimana harus bersaing karena otentisitas teks tidak lagi bernilai. Hampir semua orang bisa membuat teks yang sama, bahkan bot pun bisa melakukkannya.

    Sementara monetisasi seharusnya bisa jatuh pada kreatifitas dan originalitas. Masalahnya, pasar pada dasarnya tidak butuh itu.

    Ya, pada akhirnya semua entitas internet menjadi media. Dan semua menjadi media yang tidak mendapatkan bayaran.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.