Suka Duka Menjadi Seorang Digital Nomad


Foto: Shivya Nath

Menjadi seorang traveler sekaligus juga menghasilkan uang terdengar seperti pekerjaan impian masa depan.

Menjalani hidup dengan cara yang dipilih sendiri, seperti misalnya duduk di bawah kanopi di pantai, menulis artikel berbayar sambil menyaksikan para peselancar menyusuri ombak di kejauhan, lalu hari berikutnya Anda menyesap segelas anggur di bar kota sambil menyiapkan kampanye iklan Facebook untuk klien dari sisi lain Dunia.

Selamat datang di dunia para digital nomad, begitulah mereka disebut. Singkatnya, digital nomad adalah orang yang berkomitmen untuk pekerjaan remote secara full-time. Ini adalah gaya hidup yang menawarkan fleksibilitas karena mereka dapat membawa pekerjaan mereka ke mana pun mereka pergi, selama mereka dapat mengirimkan pekerjaan dari sudut mana pun di dunia dan melakukan pertemuan secara virtual.

Beberapa melihatnya sebagai profesi yang menggoda karena menantang konsep “bekerja” yang berlaku. Fakta bahwa Anda tidak harus hadir di tempat kerja untuk melakukan pekerjaan adalah konsep yang cukup mengejutkan, terutama untuk budaya Asia Tenggara. Tapi itu tidak menghentikan para milenial untuk mendapatkannya.

Faktanya, di beberapa tahun terakhir telah terlihat peningkatan nomadisme digital dari Asia Tenggara.

Sebuah penelitian baru-baru ini mengungkapkan bahwa 7 dari 10 orang Singapura ingin bekerja secara remote agar dapat berkeliling dunia. Kelihatannya, tren ini dimulai pada 2013 ketika penyedia tempat kerja global Regus menemukan bahwa setidaknya 53% orang Malaysia menikmati bekerja di luar kantor.

Gambaran ini cukup menggoda, bagaimana menjalani fantasi gaya hidup ideal untuk pekerja 9-5. Tetapi pertanyaannya apakah semua orang cocok dengan gaya hidup ini? Coba kita lihat pandangan dari tiga orang digital nomad dari Asia Tenggara ini untuk mengetahui lebih banyak.

Jack Ong, seorang berkebangsaan Malaysia yang saat ini berkeliling Eropa sambil bekerja sebagai freelancer pemasar digital, mengakui bahwa meskipun ia menikmati cara hidup yang bebas, menjadi seorang digital nomads membutuhkan disiplin diri dan harus mengikuti jadwal yang ketat.

“Tidak diragukan lagi, ini mengasyikkan. Traveling selalu menyenangkan. Tapi Anda tidak bisa terlalu bersemangat, Anda harus selalu ingat ada pekerjaan yang harus dilakukan, email yang harus dibalas, dan klien untuk dipuaskan. Ini menantang, tetapi Anda pasti akan menjadi lebih baik dalam manajemen waktu dan pengendalian diri.

“Saya akui ada saat-saat ketika saya melewatkan satu atau dua tenggat waktu karena saya terlalu sibuk menjadi turis.”

Namun demikian, Jack mengatakan bahwa sejauh ini apa yang ia jalani ini benar-benar memuaskan, karena tempat bekerja dan juga jam kerja yang fleksibel, yang juga dengan sepenuh hati disetujui oleh Michelle Tan, seorang digital nomad lain yang berasal dari Singapura.

Michelle, yang biasa bekerja sambilan sebagai spesialis pemasaran online dan mengunjungi negara-negara seperti Prancis dan Selandia Baru, menyukai kebebasan yang ditawarkannya. Namun, seperti halnya Jack, Michelle menegaskan bahwa ada perbedaan antara liburan dan liburan bekerja.

“Dalam liburan kerja, Anda masih harus memikirkan pekerjaan dan deadline, jadi perlu bagi Anda untuk memiliki jadwal dan komitmen dalam menyisihkan waktu untuk melakukan hal-hal yang perlu dilakukan,” kata Michelle.

Johana May, seorang digital nomad asal Jakarta punya pendapat yang sedikit berbeda dengan Jack dan Michelle. Jojo sudah bekerja secara remote untuk sebuah perusahaan global yang kantornya ada di UK semenjak tahun 2016, dan ia bilang bahwa yang membuatnya bahagia bekerja sebagai digital nomad karena waktunya yang bebas, bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja.

Namun bekerja sebagai digital nomad itu bagi Jojo bukannya tidak ada tantangan, antara lain karena ia dikontrak sebagai tenaga profesional oleh perusahaan yang berbasis di UK maka perusahaan tersebut tidak mengenal adanya THR, lalu Jojo sering merasa rindu akan keseruan suasana kantor yang tentunya tidak ia dapatkan saat bekerja sebagai digital nomad.

Perhitungan waktu kerja pun juga tidak sama dengan kerja kantoran biasa, Jojo menjelaskan bahwa dia bekerja berbasis jam (hourly based) dan karena ia bekerja berdasarkan jam maka dirinya harus terus melatih diri untuk disiplin bekerja dengan tidak ada target dan tanpa bos yang mengontrol, dan itu bukan hal yang mudah. 

Sekarang, jika kita perhatikan maka satu hal yang dapat dihubungkan pada semua digital nomad adalah perjuangan untuk tetap bisa online. Karena memiliki koneksi internet yang stabil itu sangat penting dan tanpa itu, Anda tidak berdaya.

“Koneksi internet yang baik itu sangat menentukan,” kata Jack. “Tanpa koneksi internet yang baik, maka kamu akan terputus dari dunia dan pekerjaanmu”. Oleh karena itu, ia sering harus tinggal di tempat yang memiliki koneksi internet paling kuat.

Bagi Michelle, dia sangat bergantung pada alat penjadwalan, terutama di tempat-tempat di mana konektivitas internet langka.

“Permasalahan ‘harus tetap online’ ini masih menjadi tantangan, pada hari-hari pendakian di kedalaman Tasmania misalnya. Tidak semua tempat Anda bisa online. Saat itulah Anda akan menemukan bahwa penggunaan alat penjadwalan yang tersedia secara online itu sangat membantu!”

Tidak diragukan lagi, mendapatkan akses internet di beberapa tempat sangat sulit. Anda selalu harus tergantung dari koneksi Wifi yang tidak stabil. Fakta lain yang perlu diketahui bahwa hackers/peretas dapat memperoleh akses ke perangkat Anda melalui jalur yang tidak aman, tentunya Anda tidak ingin hal itu terjadi.

Belum lagi tentang kerumitan dan kesulitan mencari kartu SIM di luar negeri. Karena kendala bahasa dan tidak terbiasa dengan paket pascabayar lokal, Anda bisa menghabiskan lebih dari yang seharusnya untuk paket yang tidak memenuhi kebutuhan Anda. Selain itu, menelepon ke rumah dengan kartu SIM lokal sering membuat Anda harus membayar harga yang lumayan.

Walau begitu beberapa pemecahan bisa didapatkan dari layanan internet dari penyedia telco juga, asalkan Anda rajin mencari tahu.

Iklan

2 pemikiran pada “Suka Duka Menjadi Seorang Digital Nomad

  1. Wah, ternyata menjadi seorang “digital nomad” tidak seenak yang saya pikirkan. Bekerja bisa di mana saja sambil liburan atau jelajah banyak kota/negara dan santai, tapi uang mengalir. Hehe. Nyatanya, setelah membaca artikel abang ini, mereka yang bekerja secara “digital nomad” juga memerlukan kemampuan dalam manajemen waktu yang baik, kedisiplinan, dan tentunya dapat mengatur konektivitas terhadap jaringan internet untuk dapat “bertahan hidup.”

    Thank you for sharing artikel tentang suka suka menjadi digital nomad ini, Bang. Good luck.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.