Mengapa Konten yang Berisikan Emosi Moral Lebih Mudah Menjadi Viral di Online


Media sosial mengubah karakter percakapan politik kita. Seperti yang telah diperlihatkan oleh banyak orang, perhatian kita adalah sumber daya yang langka yang terus-menerus diperjuangkan oleh para politisi dan jurnalis, dan dunia online telah menjadi pemicu utama kemarahan moral kita. Kedua gagasan ini, ternyata, pada dasarnya terkait. Menurut makalah yang dibuat oleh 3 orang peneliti, Ana P. Gantman, Willian J. Brady dan Jay Van Bavel, kata-kata yang menarik bagi perasaan benar dan salah seseorang sangat efektif dalam hal menarik perhatian, yang dapat membantu menjelaskan realitas politik akhir-akhir ini.

Sempat terpikir oleh ketiga peneliti tersebut bahwa cara orang menggulirkan isu di media sosial itu sangat mirip dengan metode klasik yang digunakan para psikolog untuk mengukur kemampuan orang dalam memperhatikan sesuatu. Ketika kita tanpa sadar menelusuri media sosial, kita dengan cepat menghadirkan aliran rangsangan verbal kepada diri kita sendiri. Para psikolog telah mempelajari masalah ini selama beberapa dekade dengan cara menunjukkan kepada para subjek pergantian kata-kata yang cepat, satu demi satu, dalam sekejap mata. Di laboratorium penelitian, orang diminta menemukan kata target di antara kumpulan kata-kata lain. Begitu mereka menemukannya, ada slot waktu singkat di mana kata itu menarik perhatian mereka. Jika ada kata target kedua di slot waktu tersebut, kebanyakan orang bahkan tidak melihatnya, hampir seperti mereka mengedipkan mata dengan mata terbuka.

Ada pengecualian, yaitu jika kata target kedua secara emosional signifikan bagi pembaca, orang itu akan melihatnya. Beberapa kata sangat penting bagi kita sehingga mereka dapat menarik perhatian kita bahkan ketika kita sudah memperhatikan sesuatu yang lain.

Ana, William dan Jay berpikir bahwa mungkin kata-kata moral itu menjadi istimewa hanya dengan cara ini, menarik perhatian bahkan ketika dialokasikan di tempat lain. Memang, sebelumnya mereka bertiga telah menemukan bahwa orang-orang tampaknya sangat terbiasa dengan rangsangan moral di dunia di sekitar mereka. Hasil ini dapat membantu menjelaskan mengapa orang berbagi konten moral tertentu lewat online yaitu kata-kata yang menarik bagi moralitas kita menembus kebisingan di media sosial.

Untuk menguji gagasan ini, mereka menjalankan sepasang percobaan di lab, menggunakan tugas yang sengaja meniru umpan di Twitter. Orang-orang disuguhi aliran twit fiktif dengan berbagai jenis kata yang digunakan untuk tagar. Kami menemukan bahwa kata-kata moral (seperti kejahatan, belas kasihan, kanan), kata-kata emosional (seperti takut, cinta, menangis) dan kata-kata moral-emosional (seperti pelecehan, kehormatan, dendam) menarik lebih banyak perhatian daripada yang netral (seperti pantai , novel, labirin). Ini bahkan terjadi ketika orang telah berfokus pada term-term sebelumnya. Artinya, kata-kata moral dan emosional ini menembus kebisingan dan menarik perhatian subyek.

Mereka kemudian memeriksa bagaimana temuan ini terkait dengan kegiatan berbagi di Twitter. Kami menganalisis kumpulan data besar yang berisi percakapan di Twitter tentang topik-topik politik (khususnya, kontrol senjata api, pernikahan sesama jenis dan perubahan iklim). Percakapan ini adalah bagian dari makalah mereka bertiga yang diterbitkan sebelumnya, yang menunjukkan bahwa pesan dengan kata-kata moral-emosional 20 persen lebih mungkin untuk dibagikan oleh orang lain di Twitter. Mereka kemudian bertanya apakah kata-kata yang menarik perhatian di lab adalah kata-kata yang sama yang menyebar di Twitter.

Mereka bertiga menganalisis hampir 50.000 Tweet yang menggunakan kata-kata yang telah mereka pelajari dalam eksperimen. Beberapa dari temuan mereka sangat menarik perhatian, yang diukur dengan tugas pengamatan mereka di lab. Yang lain hampir tidak terlihat. Yang paling penting, penangkapan perhatian adalah prediktor yang kuat untuk berbagi pesan dengan kata-kata yang sama ini secara online. Kata-kata moral dan emosional (seperti cabul, membunuh, jahat, iman dan dosa) adalah yang paling menarik. Ketika mereka tertanam dalam tweet, mereka secara signifikan lebih mungkin untuk dibagikan dibandingkan dengan kata-kata netral. Ini sangat mengejutkan karena ukuran perhatian kami didasarkan pada sekelompok orang yang sama sekali berbeda dari mereka yang me-retweet pesan.

Mungkin sebagai akibat dari begitu banyaknya konten moral yang berlomba-lomba mencari perhatian kita di Twitter, banyak dari kita mengasosiasikan Twitter dengan pengalaman moral negatif seperti kemarahan. Tetapi pesan moral positif juga mendapatkan daya tarik di media sosial. Misalnya, setelah hak pernikahan sesama jenis ditegakkan oleh Mahkamah Agung A.S., tagar #lovewins menjadi alat percakapan instan di mana orang-orang dari seluruh dunia berbagi curahan kegembiraan.

Dengan semakin banyaknya perbincangan politik pada media sosial, maka ketiga peneliti tersebut berpendapat bahwa akan sangat berharga untuk memahami apa yang dapat. Meskipun sulit untuk mengendalikan apa yang menarik perhatian kita semua, begitu kita tahu alasan mengapa moralitas selalu muncul di hadapan kita, kita bisa lebih sadar tentang bagaimana kita berinteraksi dengan posting-posting pada Twitter kita. Kita dapat memilih apa yang berharga bagi kita untuk menghabiskan waktu kita membaca ekstra dan apa yang kita putuskan untuk dibagikan.


Tulisan ini dibuat berdasarkan artikel yang dibuat oleh 3 orang peneliti: Ana P. Gantman, William J. Brady dan Jay Van Bavel.

Ana P. Gantman adalah asisten profesor psikologi di Brooklyn College. Dia mempelajari proses moralisasi – bagaimana preferensi kita menjadi nilai-nilai kita – dan konsekuensinya terhadap perilaku, kognisi, dan persepsi. Anda dapat mempelajari lebih lanjut tentang penelitiannya di www.anagantman.com.

William J. Brady adalah mahasiswa postdoctoral National Science Foundation di departemen psikologi di Yale University. Dia mempelajari proses psikologis yang mendorong interaksi orang selama keterlibatan moral dan politik secara online dan bagaimana lingkungan digital membentuk ekspresi emosi dan nilai-nilai moral kita.

Jay Van Bavel adalah profesor psikologi dan ilmu saraf di New York University. Dia mempelajari bagaimana keprihatinan kolektif kita – identitas kelompok, nilai-nilai moral dan keyakinan politik – mengubah persepsi dan evaluasi kita terhadap dunia di sekitar kita.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.