Menjadi Amatir


“Ah amatiran lo…..gak profesional!”

Apakah Anda pernah mendengar atau bahkan melontarkan kalimat seperti di atas? Tidak, saya tidak akan menjudge Anda jika pernah melakukannya, jangankan Anda, saya bahkan sering juga melakukannya terutama ketika sedang jengkel. Manusiawi kok…Tapi yang ingin saya bahas dalam tulisan ini adalah khusus kata “Amatir”. Ada yang tahu apa artinya?

Untuk mengetahui arti kata “Amatir” cara yang tercepat ya mencari tahu lewat Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dan yang tertera di situ adalah:

amatir/ama·tir/n kegiatan yang dilakukan atas dasar kesenangan dan bukan untuk memperoleh nafkah, misalnya orang yang bermain musik, melukis, menari, bermain tinju, sepak bola sebagai kesenangan;

Nah dengan definisi yang tertera pada KBBI di atas, kalimat di awal tulisan ini jadi relevan. Sehingga kita semua jadi takut dianggap amatir. Namun sebenar apa sih arti sebenarnya dari kata Amatir tersebut? Dalam bahasa Perancis, kata “Amateur” artinya adalah “Pecinta”, dengan pengertian lebih kepada orang-orang yang melakukan sesuatu atas dasar kesenangan, memperjuangkan karya dengan semangat cinta, tanpa mempedulikan potensi kepopuleran atau keuntungan (uang) yang kerap didapatkan oleh para profesional. Oleh karena itu para amatir ini tidak banyak mempertaruhkan sesuatu. Para amatir ini bersedia mencoba apa saja dan berbagi hasilnya. Dan kadang dalam proses mengerjakan sesuatu yang mereka cintai dan tanpa beban tersebut, mereka menemukan hal-hal baru.

“Dalam benak pemula, ada banyak kemungkinan yang muncul. Kemungkinan-kemungkinan tersebut justru hanya sedikit di benak para pakar” – Shunryu Suzuki

Seorang amatir tidak takut salah di muka umum. Mereka juga tidak ragu melakukan hal-hal yang dianggap konyol atau bodoh. Dalam bukunya yang berjudul Cognitive Surplus, Clay Shirky banyak menjelaskan proses kreatif yang banyak berkaitan dengan perilaku seorang amatir. Saya coba kutipkan di bawah ini:

“Hal yang paling bodoh dalam sebuah tindakan kreatif tetap termasuk dalam tindakan kreatif”.

“Dalam ruang lingkup pekerjaan kreatif, perbedaan antara hasil kerja medioker dan bagus itu sangat luas. Walau bagaimanapun hasil kerja medioker itu masih termasuk ruang lingkup kreatif, dan walaupun karya kalian masih ada dalam level medioker selalu ada kesempatan menjadi bagus dengan berlatih. Tidak ada perbedaan antara medioker dan bagus, yang membedakan adalah yang berkarya dan yang tidak berkarya.”

Para amatir tahu bahwa berkontribusi sesuatu itu lebih baik dibandingkan dengan tidak sama sekali.

Para amatir ini mungkin saja tidak pernah mendapatkan pendidikan formal, namun mereka adalah pembelajar seumur hidup. Mereka belajar secara terbuka sehingga orang lain juga dapat belajar dari pengalaman yang mereka dapatkan. Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh seorang penulis fiksi yang bernama David Foster Wallace. Ia mengatakan bahwa tulisan non-fiksi yang bagus adalah sebuah kesempatan untuk “mengamati seseorang yang cerdas dan berpikir secara mendalam tentang berbagai hal dari yang sempat kita lakukan dalam keseharian”. Begitu juga dengan seorang amatir, mereka hanya orang biasa yang terobsesi terhadap satu hal dan mengahabiskan banyak waktu untuk memikirkannya.

Seperti yang kita semua ketahui, dunia ini berubah dengan sangat cepat, sehingga mengharuskan kita semua menjadi amatir. Bahkan untu para profesional pun cara yang terbaik untuk dapat berkembang adalah dengan kembali meraih semangat amatir, terjun ke ketidak pastian dan ketidak tahuan. Ketika seorang Thom Yorke (frontman Radiohead) diminta pendapat tentang kekuatan terbesarnya, ia menjawab, “That I don’t know what I’m doing”. Seperti yang dilakukan oleh salah satu panutannya, Tom Waits, setiap kali Thom merasa lagu yang ditulisnya terlalu biasa, maka ia akan mengambil instrumen yang tak bisa dimainkannya lalu mencoba menulis lagu dengan instrumen tersebut. Ini adalah ciri lain dari para amatir, mereka menggunakan apapun yang dapat mereka gunakan untuk memperkenalkan gagasan mereka ke dunia.

“I’m an artist”, kata John Lennon, “Give me a Tuba and I’ll get you something out of it”.

Cara yang terbaik untuk mulai menunjukkan karya adalah dengan memfokuskan diri pada apa yang ingin dipelajari lalu berkomitmen untuk mempelajarinya di depan orang lain. Cari kelompok-kelompok yang memiliki ketertarikan yang sama, perhatikan apa yang orang lain bagikan, lalu mulai catat apa saja yang tidak mereka bagikan. Perhatikan celah-celah yang dapat diisi dengan usaha sendiri walaupun sulit untuk memulainya. Pada saat ini, jangan khawatirkan tentang pemasukkan (uang) atau karir yang bisa didapat dari ini. Lupakan dulu keinginan untuk menjadi pakar ataupun profesional, jadilah seorang amatir, maka orang-orang yang menyukai apa yang Anda kerjakan akan berdatangan.

*Disadur dari berbagai sumber

Foto: Andrea Shea/WBUR

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.