Panduan Hidup


Saya membaca kasus pembunuhan seorang hakim di Medan, yang mana eksekutor pembunuhannya dijanjikan imbalan umrah. Kasus ini cukup membingungkan bagi saya pribadi. Dan beberapa kasus lain ada juga yang melibatkan agama hanya untuk membungkus tindakan-tindakan kejahatan lainnya, misalnya melarikan uang penjualan rumah real-estate syariah. Atau kasus yang cukup terkenal, kasus First Travel.

Yang membuat pertanyaan besar di kepala saya adalah sebenarnya apa posisi agama bagi orang-orang ini ya? Para pelaku kejahatan yang membungkus kejahatannya dengan agama agar dapat memuluskan niat jahat mereka. Ya tentunya mereka sangat jeli melihat bahwa penggunaan agama membuat para penganut agama yang taat jadi percaya, jadi tunduk dan mau saja sampai akhirnya sadar bahwa mereka ditipu.

Agama adalah panduan hidup, tidak ada yang menyangsikan itu namun sangat menyedihkan buat saya jika panduan hidup tersebut justru dijadikan alat untuk mendapatkan keuntungan pribadi atau sekelompok orang.

6 pemikiran pada “Panduan Hidup

  1. Saya jadi ingat sebuah istilah ketika membaca tulisan ini,
    “Orang bisa saja menjadi religius, tapi belum tentu memiliki jiwa spiritual ” (kurang lebih pernyataannya demikian).

    Kadang, agama hanya dipraktikkan sebagai ritual saja, tapi tidak secara mendalam memahami hubungan sakral antara manusia/individu dengan Tuhannya.

    Disukai oleh 1 orang

    • Betul…..banyak malah yang justru menggunakan agama untuk kesenangan duniawi tanpa peduli apa yang mereka lakukan itu menyengsarakan orang lain. Jadi pertanyaannya untuk apa punya agama yang fungsi sebenarnya adalah sebagai panduan hidup?

      Disukai oleh 1 orang

      • Untuk pertanyaan tersebut, saya takutnya akan banyak yang mengarahkan ke ‘keperluan identitas di KTP’.

        Entahlah, persoalan agama, spiritualitas bagi saya ranahnya pribadi. Saya biarkan pribadi yang bersangkutan bergumul dengan Tuhannya serta ajaran agamanya. Saya mungkin akan memberikan pertolongan sesuai dengan kemampuan saja.

        Tapi ya memang, kalau sudah berhubungan dengan ‘menyengsarakan orang lain’, sebaiknya menggunaka hukum yang mengikat hidup orang banyaklah yang digunakan untuk memberikan penilaian.

        Tapi, tetap saja permasalahan seperti ini bikin binggung.

        Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan ke Abang Edwin SA Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.