Sistem


Sebuah sistem itu dibuat agar mempermudah proses. Namun selain itu ada baiknya sebuah sistem juga dibuat dengan tingkat fleksibilitas tinggi. Mmmm….kedengarannya kok jadi mencla-mencle alias plin-plan ya? Kalau sebuah sistem dibuat lalu dibuat fleksibel ya buat apa punya sistem dong?

Sistem itu ada yang memang tertulis dan ada yang dijalankan berdasarkan kebiasaan, dan keduanya bisa jadi sama-sama menyebalkan bagi sebagian orang. Yak saya menyebutkan sebagian orang karena memang tidak semuanya merasakannya dan peduli juga. Dan kali ini saya mencoba mewakili golongan “sebagian” tersebut untuk bisa menggambarkan bagaimana menyebalkannya sistem tersebut jika tidak dibuat fleksibel.

Didalam industri pendidikan kita semua tahu bahwa tidak semua orang bisa menjadi tenaga pengajar karena untuk menjadi tenaga pengajar maka seseorang harus mencapai jenjang pendidikan tertentu. Pengalaman kerja? Saya berharap ini penting sih, namun yang pasti dengan menunjukkan ijazah yang menunjukkan prasyarat jenjang pendidikan tersebut telah terpenuhi lalu kalian bisa jadi pengajar. Sistem pendidikan di sini yang membuatnya seperti itu. Jutaan orang yang punya kesempatan berbagi ilmu dan punya kemampuan harus mengantri di satu pintu dulu seperti banjir di musim hujan untuk bisa menjadi tenaga pengajar, dan selanjutnya kalian pasti tahu yang akan terjadi.

Yang lainnya adalah sistem yang terbentuk karena norma, pendapat dan kebiasaan dalam dunia kerja. Framing orang yang sudah berumur itu adalah bayarnya mahal (karena levelnya tinggi) atau tidak mampu mengejar pace pekerjaan, sehingga semakin mereka berumur semakin menempel stigma tersebut tanpa bisa mereka tolak. Mengapa saya sebut framing? Karena tuduhan-tuduhan tersebut tidak serta merta benar adanya. Tuduhan-tuduhan tersebut dibuat hanya karena perusahaan merasa malas untuk menyeleksi lebih jauh sehingga dengan membuat framing tersebut, penyeleksian jadi lebih mudah dan sekaligus memangkas semua kesempatan mendapatkan orang-orang terbaik yang mungkin saja mereka dapatkan jika mereka tidak semalas itu.

Stop…stop….jangan ngotot dulu. Coba kembali ke alinea kedua di atas, baca lagi bahwa saya hanya mencoba mewakili sebagian orang yang jadi korban dari sebuah sistem.

Boleh dong sedikit bantu mereka untuk curcol….:-)

Photo by Clint Adair on Unsplash

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.