Mungkin kata ini adalah kata yang paling populer di dunia maya. Mulai dari penyebutan “content creator” atau pembuat konten, sampai jargon-jargon “demi-konten” untuk menunjukkan kecenderungan seseorang yang menjadikan apapun yang lewat didepan matanya menjadi materi untuk di share di dunia maya. Yang pasti, pengertian konten sekarang jadi sangat-sangat berkembang, seiring dengan medium yang bisa digunakan juga berkembang, ya kita tahu lah, mulai status di Twitter sampai video pendek di TikTok, semua orang berlomba-lomba melakukannya.

Pertanyaan saya (dan juga mungkin banyak orang lain juga) apakah sekedar membuat sesuatu lalu membagikannya, maka layak di sebut konten? Nah ini yang menarik, karena banyak yang pemahamannya seperti itu. “Bikin aja dulu lah, yang penting kontenmu dikenal dulu”, begitu kata banyak orang yang buat saya justru membingungkan. Lho kenapa membingungkan, Bang? Ya karena buat saya konten itu tidak bisa disebut sebagai konten kalau tidak memiliki cerita yang dapat dipahami oleh calon penikmatnya.

Bagi saya jauh sebelum kita mengenal apa yang disebut dengan konten, seharusnya kita harus bisa “bercerita”. Dalam menceritakan sesuatu maka kejelasan cerita tersebut nomer satu dan nomer berikutnya adalah menarik atau tidaknya cerita tersebut, baru nomer-nomer selanjutnya ditambahkan. Jika semua sudah menjadi ramuan yang tepat, maka jadilah konten dengan fundamental cerita yang pas.

Pada jaman sekarang, sebuah konten bahkan tidak cukup hanya memiliki cerita yang menarik. Konten haruslah memiliki manfaat yang relevan dengan banyak orang atau setidaknya target audiens yang dituju.

Nah jika sudah sampai sini, seharusnya siapapun mesti mulai hati-hati untuk menyebut apa yang dibuat sebagai konten.

Bukankah begitu?

Photo by Jon Flobrant on Unsplash