Tentang Ego


Pertanyaan dalam diri saya tentang ego ini sebetulnya sudah muncul sejak lama. Saya memiliki pengertian tentang ego mungkin hampir sama dengan sebagian besar dari kalian yaitu perasaan ingin diakui, atau keinginan mendapatkan pengakuan, yang kadang jika berlebihan membuat orang lain sebal. Apakah salah memiliki ego? Yuk kita bahas sedikit.

Banyak yang bilang media sosial itu adalah tempat orang memberi makan ego, dimana para pengguna melemparkan kail agar orang lain bisa mengapresiasi apapun yang disampaikan. Benar demikian? Saya tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut secara langsung dan yang saya lakukan adalah mencoba mencari literatur yang membahas masalah ini.

Kita mengenal kata egoisme dengan konotasi negatif, padahal kalau egoisme itu bisa menyebabkan orang melakukan hal-hal bodoh, irasional dan destruktif, maka egoisme juga membuat orang bertindak mulia dan sangat berani. Jadi apakah egoisme itu?

Menurut Edward Bok, seorang editor dan pejuang kesejahteraan manusia, yang disebut dengan ego dan egoisme itu adalah “percikan api ilahi” yang tertanam dalam diri manusia dan hanya orang-orang yang sudah menyalakan “percikan api ilahi” dalam diri mereka inilah yang akan mencapai hal-hal besar.

Ego itu berkaitan dengan respek, dan dalam lubuk hati setiap orang, ada sesuatu yang sangat penting untuk diri mereka masing-masing dan membutuhkan respek. Ego ini juga merupakan fundamental dari harga diri (self-esteem).

Dalam buku The Art of Dealing With People karya Les Giblin, dijelaskan ada empat fakta kehidupan yang harus selalu kita semua camkan, yaitu:

  1. Kita semua egois (dalam arti positif, yaitu “mementingkan diri sendiri”).
  2. Kita lebih tertarik pada diri sendiri, dari pada yang lainnya.
  3. Setiap orang yang kita jumpai ingin merasa dirinya penting dan “memiliki nilai.
  4. Setiap orang sangat mengharapkan persetujuan dari orang lain, sehingga ia bisa menyetujui dirinya sendiri.

Jadi kita ini pada dasarnya selalu lapar-ego, dan hanya bila ego ini terpuaskan (setidaknya sebagian saja) barulah kita dapat melupakan diri sendiri dan lalu mulai memberikan perhatian kepada hal lain. Hanya mereka yang sudah bisa menyukai diri sendiri yang bisa bermurah hati dan bersahabat dengan orang lain. Dengan demikian kita jadi tahu sekarang bahwa orang yang hanya mementingkan dirinya sendiri (egoistis) itu itu bukan karena harga dirinya berlebih, namun justru kekurangan harga diri.

Sama seperti lapar makanan, lapar ego itu sesuatu yang wajar dialami oleh siapapun, dan makanan bagi ego memiliki fungsi yang sama seperti makanan bagi tubuh, yaitu untuk pemeliharaan diri. Jika tubuh membutuhkan makan agar bisa tetap hidup, maka ego membutuhkan respek, persetujuan dan perasaan puas karena telah mencapai sesuatu yang bermakna bagi dirinya.

Nah, mudah-mudahan saya dan juga kalian para pembaca tulisan ini tentunya bisa lebih bersabar menghadapi orang-orang yang memang sedang lapar- ego, dan ingat, mungkin saja pada satu saat kita juga ada dipihak yang sama kelaparannya dengan mereka.

Photo by Kelly Sikkema on Unsplash

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.