Cita-Cita


Jaman dulu, jaman saya masih muda, yang namanya cita-cita selalu jelas. Ingin jadi pilot, ingin jadi dokter, ingin jadi arsitek, dan lain sebagainya, walaupun banyak dari kita sebetulnya tidak paham seperti apa profesi tersebut. Begitu kita beranjak dewasa, yang namanya gambaran tentang cita-cita tersebut sudah mulai jelas. Banyak yang mulai meniti sejak SMA. Mereka dengan jelas tahu jurusan apa yang harus mereka ambil di SMA agar bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Begitu seterusnya. Pertanyaannya, apakah cita-cita kita semua masih sama? Apa jadinya jika pertanyaan “kamu mau jadi apa” itu baru diajukan saat ini?

Menurut saya (dan tentunya kalian boleh punya pendapat sendiri lho ya), pertanyaan tersebut tetap valid dan boleh-boleh saja diajukan kapan saja. Tapi menjawabnya itu bagi banyak orang adalah masalah besar. Betapa tidak, umur yang tidak muda lagi yang sudah didera oleh pengalaman hidup bertumpuk-tumpuk tentunya akan membuat kabur bayangan akan jawaban tentang cita-cita tersebut. Benarkah? Saya pikir sih tidak ya. Sahabat saya mas Sakti Makki, co-founder dari MakkiMakki Brand+Business Tranformation Consultant sempat berbagi pengalamannya di salah satu acara yang pada saat itu kaitannya dengan personal branding. Pada saat itu Sakti bercerita tentang siapa kita? Serta penekanan pada kewajaran jika kita selalu berubah dalam mendefinisikan siapa diri kita.

Karena akan panjang jika di bahas, maka silahkan tonton sendiri videonya Sakti Makki, dan kembali ke topik di awal tentang cita-cita, buat saya pribadi pertanyaan “kamu mau jadi apa?” pada usia saya saat ini akan jauh lebih sederhana dan lebih lebar. Saya pribadi akan menjawab, ingin bahagia dan ingin membahagiakan orang-orang yang saya cintai. caranya bagaimana? Nah pertanyaan kedua ini tidak lagi relevan dengan pertanyaan “kamu mau jadi apa?” tapi jadi krusial untuk urusan mewujudkan cita-cita tersebut.

Jadi bagi yang masih kebingungan karena merasa tidak tahu mau jadi apa sampai memasuki umur-umur yang kata orang mestinya sudah jadi apa yang diinginkan, jangan bingung karena setiap orang punya cita-cita (sesederhana ingin bahagia) dan cara yang berbeda-beda untuk mencapainya.

Photo by abigail low on Unsplash

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.