Negara kita (dan juga banyak negara lain) sedang ada dalam kondisi darurat sampah plastik. Saya tidak perlu memberikan bukti karena di jaman keterbukaan seperti sekarang ini segalanya tanpa di minta sudah terpaparkan di publik. Solusinya yang benar adalah berhenti menggunakan plastik. Tapi itu kan tidak semudah diucapkan, sehingga muncullah solusi-solusi kompromistis seperti salah satunya mendaur ulang sampah plastik tersebut.

Namun seperti kata yang saya gunakan di atas, “kompromistis”, yang artinya tidak tegas sehingga solusi tersebut menimbulkan konsekuensi yang jadinya bukan menyelesaikan masalah namun menimbulkan masalah baru.

Lho kok mendaur ulang disebut menimbulkan masalah baru? Begini… Aktivitas mendaur ulang itu tentunya membutuhkan effort. Jika daur ulang dilakukan secara hobi, ya bisa-bisa saja sih, dan tidak ada yang bisa kita diskusikan jika itu merupakan sebuah hobi. Daur ulang akan menimbulkan masalah jika kita mulai mencoba menjadikannya sebuah bisnis yang artinya menjadikannya membutuhkan plastik lebih banyak secara konsisten.

Dalam sebuah bisnis ada satu titik besaran bisnis tersebut yang kita tuju agar dapat membuat bisnis tersebut dapat menghasilkan profit. Nah, jika Anda menjalankan bisnis daur ulang maka skala besaran yang dikejar yang artinya membutuhkan plastik lebih banyak agar bisnis Anda bisa juga lebih besar dan lebih banyak mendapatkan profit.

Pada momen ini apakah Anda akan tetap memikirkan untuk mengurangi penggunaan bahan daur ulang tersebut? Bayangkan kalau sampah plastik yang Anda gunakan.

Photo by Hadley Jin on Unsplash