Penjual atau Kolektor


Penjual akan menjual barang karena mata pencahariannya ia dapatkan dari barang yang ia jual. Sedangkan kolektor akan menjual barang karena ada permintaan orang yang bisa menghargai koleksi kesayangannya dengan harga yang ia anggap pantas. Keduanya melakukan aktivitas menjual tapi dengan perspektif yang sangat berbeda.

Seorang penjual akan tahu persis bahwa kebutuhan dan selera orang itu berbeda-beda, sehingga ia bisa menempatkan barang/jasa apapun yang ia jual pada posisi yang tepat, sehingga akhirnya ia bisa membuka peluang penjualan jadi lebih luas.

Kolektor jika ia mau menjual barang yang dititipkan padanya biasanya akan selalu menempatkan posisi sebagai pembeli lengkap dengan radar sense dan selera, serta objektivitasnya. Sehingga sebelum ia memutuskan akan membantu jualkan barang tersebut, ia harus yakin betul bahwa barang tersebut adalah masuk dalam selera dia. Biasanya ia tahu betul apa yang ia anggap baik dan akan mengejar apa yang ia inginkan. Ia akan mengacu betul pada seleranya sebagai filter awal agar saat menjual barang titipannya tersebut ia tidak kehilangan muka.

Nah, apa jadinya jika Anda ingin menjual barang tapi menggunakan sense kolektor dalam menjual? Jika Anda memang di kenal sebagai kolektor barang-barang yang hendak Anda jual, saya pikir tidak akan jadi masalah dengan asumsi jejaring pembeli Anda sudah terbangun.

Namun kalau Anda bukan kolektor, dan niatan Anda menjual barang adalah untuk semata-mata mendapatkan profit, ada baiknya pangsa pasarnya diperluas tanpa harus memasukkan unsur selera pribadi di dalamnya. Ya yang akan membeli kan bukan Anda, dan selera Anda tidak bisa mewakili selera seluruh pembeli bukan?

Inti dari menjual itu kan untuk mendapatkan hasil dari penjualannya, bukan mendapatkan kebanggaan karena barang yang dijual itu sesuai dengan selera penjual. Pilihannya mau jadi penjual yang menjual barang atau kolektor yang menjual koleksinya?

Kalau Anda bagaimana?

Photo by Ibrahim Rifath on Unsplash

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.