Idealisme dan Pasar


Idealisme itu bisa dicapai jika kita bisa mengikuti kemauan pasar, karena pasar lah yang menjamin supaya kita bisa tetap idealis. Pertanyaannya bagaimana jika yang menjadi idealisme bagi kita itu berseberangan dengan apa yang diinginkan pasar? Ribet kan?

Saya punya sahabat seorang musisi yang namanya Riza Arshad (alm). Ya dia sudah meninggal dunia beberapa tahun silam. Ija (panggilan dari Riza Arshad) adalah seorang multi instrumentalis kontemporer. Karya-karya idealisnya menorehkan namanya menjadi salah satu musisi yang cukup di hormati di kancah musik jazz Indonesia maupun di dunia. Walaupun demikian yang disebut “karya idealis” itu bukanlah sebuah karya yang bisa dinikmati oleh kebanyakan orang. Demikian juga karya-karyanya Ija, dan kenyataannya itu lah karya idealisnya Ija.

Pertanyaannya, apakah Ija bisa menopang kehidupannya dengan karya-karya idealisnya tersebut? Saya pernah ngobrol dengan Ija pada satu kesempatan dan ia sempat bercerita bahwa untuk hidup dirinya juga jadi session player pada band-band lain dan juga membuat lagu-lagu buat iklan yang notabene sangat mengikuti kemauan brand. Ini adalah strategi yang Ija lakukan agar ia tetap bisa menghasilkan karya-karya idealisnya yaitu kompromi dengan apa yang bisa diterima oleh pasar demi kehidupannya.

Cerita lain saya dengar dari salah satu teman, seorang desainer produk yang karya-karyanya sudah sering memenangkan award. Ia bercerita bahwa karya-karya terbaik yang membuatnya mendapatkan penghargaan itu tidak bisa menjamin produk-produknya laku di pasar. Karena pasar selalu meminta kompromi dalam konteks harga, dan harga hanya bisa ditekan dengan cara meningkatkan jumlah produksi. Desainer produk di Indonesia tidak bisa hidup jika ia tidak bekerja di perusahaan atau ia tidak membuat perusahaannya sendiri. Teman saya ini membuat perusahaannya sendiri dan pasar membuatnya stress karena permintaan harga yang lebih murah dari kemampuan produksi. Ini bukanlah sebuah masalah yang mudah untuk dipecahkan sebetulnya.

Intinya adalah as a human being, kita semua akan bisa berkarya dengan baik jika hidup kita terjamin. Bahkan seorang Vincent Van Gogh saja sepanjang hidupnya tidak dalam kondisi yang baik. Karya-karya Van Gogh mulai dikenal dunia ketika dirinya sudah meninggal.

Definisi karya yang baik itu adalah karya yang bisa mengakomodir idealisme tentunya. Jika idealisme yang dimiliki oleh si kreator sesuai dengan pasar, maka hidupnya akan lebih mudah. Namun jika idealisme si kreator tidak sesuai dengan pasar maka ia harus membuat plan B agar ia tetap bisa hidup, karena kalau ia tidak bisa menjamin hidupnya, lupakan saja karya-karya idealisnya bisa dilahirkan.

Hidup dan berkarya itu memang seperti mengendarai mobil di jalan-jalan kota Jakarta. Harus pintar-pintar mengetahui kondisi lalu lintas agar bisa cepat sampai di tujuan.

Photo by timJ on Unsplash

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.