6 Elemen Perilaku Manusia yang Menggerakkan Media Sosial


Saya suka mengamati. Terutama untuk hal-hal yang berkaitan dengan perilaku manusia yang ada di dunia maya. Manusia itu memiliki kecenderungan berperilaku berbeda dengan diri mereka saat berada di dunia maya dibandingkan dengan di dunia nyata. Dan hal ini pula yang membuat banyak komunikasi yang jadi gagal ketika diterapkan pada kedua dunia ini yang disebabkan ketidak tahuan perbedaan perilaku tersebut.

Dulu saat Twitter masih cukup berjaya, saya pernah membaca buku karya Mark Schaefer yang berjudul “The Tao of Twitter”, di mana akhirnya buku ini membawa saya ke buku-bukunya yang lain yang akhirnya menjadi favorit saya, salah satunya adalah “Born To Blog”. Selain itu saya juga memfollow Mark di Twitter juga, yang menggiring saya ke seseorang yang namanya Paul Fennemore yang pada saat itu profesinya adalah Managing Partner di Viapoint

Fennemore berpendapat bahwa setiap social media strategist perlu mempertimbangkan enam aspek perilaku manusia jika mereka ingin memahami faktor penggerak di media sosial. Media sosial mungkin merupakan fenomena teknologi yang relatif baru, tetapi pendorong perilaku yang menjelaskan mengapa dan bagaimana berbagai platform itu digunakan sudah lama ada. Tulisan ini menjelaskan, secara sangat mendasar, keenam pendorong utama ini, yaitu: altruisme, hedonisme, homofili, memetika, narsisme, dan tribalisme.

Altruisme

Altruisme adalah perilaku pengabdian tanpa pamrih untuk kesejahteraan orang lain. Penerapannya: Para pengguna jejaring sosial yang mudah berbagi informasi dengan pengguna lain. Mereka berbagi informasi hanya karena mereka percaya bahwa apa yang mereka bagikan itu mungkin bermanfaat. Perilaku ini terjadi bahkan ketika pengguna tidak tahu siapa yang mendapat manfaat dari informasi yang dibagikan.

Contoh: Sebuah penelitian menunjukkan bahwa altruisme adalah alasan utama mengapa banyak travelers tanpa pamrih berbagi pengalaman untuk membantu orang lain mendapatkan liburan yang lebih menyenangkan.

Hedonisme

Keyakinan bahwa kesenangan adalah tujuan utama, atau satu-satunya tujuan dalam hidup. Penerapannya: Hedonisme dapat memengaruhi media sosial dalam dua cara:

  1. Orang menggunakan media sosial karena melakukan itu adalah kegiatan yang menyenangkan.
  2. Orang menggunakan media sosial karena media sosial menyediakan cara baru mengakses kegiatan yang memberi mereka kesenangan, seperti bertemu orang.

Contoh: Yang membuat cemas para idealis, penelitian menunjukkan bahwa kaum muda biasanya tidak menggunakan jejaring sosial untuk mengubah dunia. Mereka menggunakannya untuk mengalami kenikmatan yang tertinggi secara digital dari sejumlah besar film, musik, komunikasi instan dan tentu saja, peluang seksual.

Homofili

Kecenderungan manusia untuk bergaul dengan orang lain yang memiliki kesamaan dengan diri mereka. Penerapannya: Orang-orang cenderung untuk bergabung dan menjadi terikat pada jejaring sosial yang penggunanya memiliki minat atau kepercayaan yang sama.

Contoh: Ada banyak penelitian terbaru yang mengungkapkan kekuatan rekomendasi dari rekan pada perilaku pembelian dan penemuan produk.

Memetika

Replikasi ide, kebiasaan dan kepercayaan lintas individu. Umumnya dikenal sebagai “meme.” Penerapannya: Agar pesan pemasaran menjadi viral, perlu menunjukkan karakteristik berikut:

  1. Diasimilasikan oleh pengguna media sosial
  2. Disimpan dalam memori pengguna tersebut;
  3. Direplikasi oleh pengguna dengan cara yang dapat diamati oleh pengguna lain;
  4. Ditransmisikan ke pengguna lain (yang, pada gilirannya, mengasimilasi, mempertahankan, dan mereplikasi pesan lebih lanjut).

Contoh: Berikut adalah beberapa meme Internet terbaik 2019.

Narsisme

Ketertarikan berlebihan pada diri sendiri. Penerapannya: Jejaring sosial menyediakan outlet bagi individu untuk terlibat dalam promosi diri. Secara khusus, penelitian menunjukkan bahwa pengguna Facebook lebih cenderung ekstrovert dan narsis.

Contoh: Penelitian dari University of Georgia menunjukkan bahwa kepribadian narsis memiliki tingkat aktivitas sosial yang lebih tinggi dalam komunitas online dan lebih banyak menggunakan konten yang mempromosikan diri. Orang asing yang melihat halaman Web pengguna ini menilai pemilik halaman lebih narsis.

Tribalisme

Perasaan identitas dan kesetiaan seseorang yang kuat terhadap kelompok tertentu (suku). Seseorang memperoleh nilai sosial dari berpartisipasi dalam komunitas itu. Penerapannya: Media sosial memungkinkan interaksi berkelanjutan antara pendukung brand, dan juga antara konsumen dan perusahaan, sehingga meningkatkan engagement.

Contoh: Penelitian di Inggris menunjukkan bahwa restoran dan jaringan hotel yang berhasil membuat pelanggan merasa menjadi bagian dari klan eksklusif yang menghasilkan loyalitas. Anggota klan ingin berkontribusi pada keberhasilan klan.

Apa pendorong utama perilaku manusia lainnya yang dapat Anda tambahkan ke daftar di atas ini? Apa yang memotivasi ANDA untuk menggunakan jejaring sosial?

Photo by Ethan Lee on Unsplash

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.