Manipulasi Psikologis


Pernah gak kalian atau salah satu anggota keluarga kalian tertipu sama orang lewat telpon atau media sosial, disuruh transfer uang, atau diminta untuk mengirimkan OTP dengan alasan-alasan tertentu yang mengakibatkan hilangnya uang yang ada di rekening? Praktek ini jauh lebih marak terjadi ketika mulai banyak layanan-layanan pembayaran online di negara kita bermunculan. Dan tadi malam saya dan juga beberapa teman-teman content creator diundang untuk mendengarkan sedikit pemaparan dari Center for Digital Society (CfDS) – Universitas Gadjah Mada, Gojek dan Gopay tentang kajian yang mereka tentang penipuan dengan teknik rekayasa sosial yang dikenal dengan istilah Manipulasi Psikologis (MAGIS).

Terus terang saya sih baru dengar tadi malam istilah manipulasi psikologis ini, namun setidaknya jika dijelaskan pengertiannya adalah penipuan menggunakan teknik rekayasa sosial atau dalam bahasa Inggris Social Engineering, buat saya jadi lebih clear, karena istilah social engineering sendiri sudah dikenal lama.

Contoh usaha penipuan dengan menggunakan praktek Magis bisa dilihat pada video pada Instagram dibawah ini dimana bahkan adminnya Gojek sendiri pernah mengalaminya.

Kevin Aluwi, Co-CEO dari Gojek tadi malam menjelaskan saat mingle di acara dinner yang diselenggarakan, bahwa pihak Gojek dengan Gopay adalah pihak yang seringkali diminta pertanggung jawaban atas terjadinya penipuan yang menggunakan praktek Magis oleh para penjahat tersebut (saya menggunakan istilah penjahat ya). Padahal kalau diteliti sebetulnya praktek Magis tersebut dilakukan secara direct ke pengguna sehingga pengguna tertipu dan membuka jalan bagi para penjahat menguras isi rekening mereka. Namun karena platform yang jadi sasaran kebanyakan adalah Gojek/Gopay maka mereka merasa perlu mengambil tindakan agar para pengguna bisa lebih terlindungi sekaligus juga mengedukasi mereka agar bisa terhindar dari praktek kejahatan Magis ini.

Kajian yang dilakukan atas kerjasama Center for Digital Society (UGM), Gojek dan Gopay ini menghasilkan temuan-temuan yang menunjukkan bahwa kejahatan dengan praktek Magis ini terjadi karena pemanfaatan teknologi oleh masyarakat di Indonesia itu tidak sebanding dengan tingkat literasi digital yang masih tergolong rendah. Hal ini disampaikan oleh Anisa Pratita Kirana Mantovani, S.I.P, LLM (Tita), Manager of Partnership Research at CfDS (Center for Digital Society) – Universitas Gadjah Mada tadi malam. Hasil kajiannya sendiri bisa didapatkan di sini.

(Tita dari CfDS – UGM menyampaikan hasil kajian)

Dalam kesempatan tersebut Tita juga menyampaikan bahwa hasil kajian mereka juga menemukan bahwa penipuan dengan teknik rekayasa sosial tersebut dapat dicegah dengan, salah satunya, mengedukasi pengguna dan calon pengguna teknologi guna meningkatkan literasi digital, atau yang kemudian disebut dengan Kompetensi Keamanan Teknologi Digital (KKTD). Peningkatan KKTD dapat dicapai dengan cara pendidikan, pelatihan, dan peningkatan kesadaran pengguna.

Kajian ini juga menemukan bahwa peningkatan literasi digital atau KKTD pengguna teknologi di Indonesia menjadi tanggung jawab bersama para pemangku kepentingan, yang diidentifikasi sebagai pemerintah, industri, organisasi masyarakat, dan pengguna itu sendiri.

Menyikapi hasil kajian tersebut maka pihak Gojek/Gopay memperkenalkan tiga pilar inisiatif #AmanBersama Gojek, yang tadi malam disampaikan langsung oleh Kevin Aluwi selaku Co-CEO dari Gojek.

(Kevin Aluwi, Co-CEO Gojek, menjelaskan tentang 3 pilar inisiatif #AmanBersamaGojek)

Tiga pilar inisiatif #AmanBersamaGojek tersebut berfokus pada edukasi, teknologi dan proteksi.

Pilar Edukasi

Masyarakat, mitra dan pelanggan akan mendapatkan akses edukasi dalam bentuk yang mudah dipahami seperti poster, infografik, kuis di aplikasi Gojek, maupun video iklan layanan masyarakat bekerja sama dengan lembaga yang berwenang. Materi edukasi tersebut akan disampaikan melalui kanal resmi Gojek, seperti media sosial, shuffle cards dan komunikasi tatap muka secara berkala dengan mitra Gojek (Kopdar). Mereka pun melakukan sosialisasi di beberapa kota bersama CfDS – UGM dan pemangku kepentingan lainnya.

Pilar Teknologi

Implementasi teknologi dihadirkan oleh Gojek melalui Gojek SHIELD dengan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence), serta pengoperasiannya oleh tim keamanan digital yang mereka klaim sebagai tingkat dunia yang terdiri dari para data scientists, engineers dan juga pakar cyber security. Gojek SHIELD terdiri dari teknologi perlindungan yang menjaga seluruh pihak dalam ekosistem dari ancaman keamanan, termasuk diantaranya fitur penyamaran nomor telepon, intervensi chat, pendeteksi penipuan dan juga fitur tombol darurat yang terhubung dengan Unit darurat Gojek yang siaga 24 jam dalam memberikan pertolongan.

Pilar Proteksi

Pilar ini mencakup langkah antisipasi untuk meminimalisir berbagai bentuk resiko. Dalam memberikan pelayanannya, Gojek memberikan berbagai pelatihan kepada para mitra driver sehingga mereka dapat menjadi pelopor keselamatan. Pelatihan-pelatihan tersebut antara lain adalah pertolongan pertama pada kecelakaan, pelatihan anti-kekerasan seksual, serta keselamatan berkendara. Mereka menjelaskan bahwa program proteksi Gojek ini juga dilengkapi dengan jaminan perlindungan asuransi bagi mitra dan pelanggan, antara lain asuransi perjalanan di GoCar dan GoRide, asuransi kehilangan dan kerusakan barang untuk layanan logistik GoSend dan GoBox, serta asuransi layanan GoLife. Dan yang menarik dalam waktu dekat, mereka juga akan meluncurkan program Jaminan Saldo GoPay Kembali untuk melindungi transaksi di luar kendali pengguna (akibat dari kejahatan manipulasi psikologis).

Kevin Aluwi menegaskan, “Bagi Gojek, keamanan dan keselamatan adalah prioritas utama dan merupakan tanggung jawab bersama. Gojek telah dan akan terus berinvestasi pada pengembangan teknologi, serta berbagai program proteksi, baik bagi konsumen maupun mitra. Setara dengan dua fokus di atas, kami juga berinvestasi pada edukasi agar pelanggan dan mitra kami bisa mendapatkan manfaat paling optimal dari teknologi digital dan tidak dirugikan”.

Untuk mendapatkan informasi lebih jelas tentang inisiatif #AmanBersamaGojek ini silahkan kunjungi landing page ini.

Nah diluar semua pesan yang Gojek sampaikan pada para content creator yang diundang kemarin, satu hal yang perlu saya pribadi acungkan jempol adalah pemilihan venue yang tepat karena makanannya enak-enak, huehehehehe. Acara dinner bersama kemarin diadakan di restoran yang namanya Daun Muda Soulfood by Andrea Peresthu yang terletak di bilangan Wolter Monginsidi dekat gedung PLN, Blok M.

(Menikmati hidangan dinner bersama para content creator dan juga Gojek tentunya)

Thanks for inviting us, Gojek. Terima kasih atas upayanya agar kita semua bisa tetap #AmanBersamaGojek.

  • Foto: Conservative Daily News dan koleksi pribadi
  • Foto dokumentasi di galeri oleh Agung R/Gojek

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.