Jaga Diri, Jaga Jarak, Jaga Sesama


Saya kemarin berbelanja bulanan di Lotte Mart, Bintaro bersama istri saya. Karena kondisi yang mengharuskan kita untuk melakukan social distancing maka kita menjaga betul jarak antara kita dengan orang lain (sembari menggunakan masker dan juga membekali diri dengan sanitizer).

Selayaknya menjalani social distancing, maka kami selalu menjaga jarak dengan orang lain termasuk pada saat antre di kasir, dan selama antre itu karena ada jarak sekitar 1-1,5 meter antara kami dengan pembeli lainnya, beberapa kali kami hendak diselak oleh orang lain, dan untung saya selalu menegur, “Maaf mbak/ibu, ini antre ya”…..mereka menatap dengan kebingungan. Mereka sepertinya gak ngeh kalau kita mempraktekkan social distancing dan mereka kayaknya juga gak tahu bahwa seharusnya mereka juga melakukan social distancing tersebut.

Sepulangnya dari belanja bulanan, setelah ganti baju, bersih-bersih dan cuci tangan, saya duduk di meja kerja saya sambil merenung dan mikir mengapa orang kebanyakan jika di luaran itu cuek walaupun sudah diperingatkan untuk melakukan social distancing. Beberapa kemungkinan penyebab muncul di kepala saya, yaitu:

Pemberlakuan sesuatu yang tidak umum sudah bisa dipastikan membuat semuanya jadi canggung karena tidak terbiasa. Ya melakukan sesuatu yang tidak biasa pastilah jadi gagap, dan cara yang paling tepat adalah mengencourage dengan mencontohkan, sehingga mereka paham dan meniru lalu mulai membiasakan diri. Kalau hanya disuruh melalui perantara media sih gak akan kemakan.

Banyak juga lho yang tidak paham arti dari social distancing tersebut. Ketidak pahaman ini biasanya dimulai dari sisi bahasa. Istilah social distancing ini kan menggunakan bahasa Inggris. Keren sih tapi apa gunanya kekerenan tersebut jika banyak yang gak ngerti? Saya pikir akan lebih efektif jika menggunakan bahasa Indonesia yang gamblang saja, misalnya: Jaga Jarak, Tidak boleh Dekat-Dekat, Jangan Keluar Rumah, atau apapun yang dapat menggambarkan social distancing tersebut.

Ada juga yang berserah diri pada Tuhan dengan bilang bahwa jika Tuhan menghendaki kita bisa mati kapan saja, jadi buat apa harus takut sama virus. Well…saya agak ketus sih untuk urusan ini karena di agama manapun kita diajarkan untuk dapat saling mengasihi satu sama lain, jadi dengan argumentasi ini sama saja kalian mengajak semua orang jadi punya resiko tertular virus bersama-sama yang siapapun tidak bisa mengontrolnya. Hidup dan mati memang di tangan Tuhan, tapi ikhtiar untuk tetap menjaga kehidupan harus dilakukan terlebih dahulu.

Nah segitu aja sudah cukup merepotkan bukan? Jadi mulailah mawas diri (vigilant) dan siap sedia menegur, memberi tahu siapapun agar mereka bisa ikutan menjaga kesepakatan kita bersama untuk bisa memutuskan mata rantai penyebaran virus Covid-19 ini dengan cara menjaga jarak. dan juga menjaga diri dengan selalu menjaga kebersihan diri.

Photo by Luke Southern on Unsplash

2 pemikiran pada “Jaga Diri, Jaga Jarak, Jaga Sesama

  1. Mengubah kebiasaan memang tidak mudah sih bang. Apalagi kalau harus drastis dan tanpa edukasi yang pas.
    Ya kita-kita ini yang jadi konten kreator harusnya memang lebih sering untuk memberi pemahaman dan pengetahuan buat mereka yang masih belum mengerti.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.