Mudik


Kita tahu bahwa aktivitas mudik itu biasanya berhubungan dengan hari besar keagamaan, dimana para pemudik melakukan ritual mudik untuk bertemu dengan orang tua mereka dan juga kerabat agar dapat bermaaf-maafan di hari besar keagamaan. Namun saat ini di mana himbauan untuk tinggal di rumah saja serta PSBB diberlakukan dorongan untuk mudik bagi sebagian besar rakyat Indonesia semakin besar dimana alasannya bukan hanya alasan tradisi dan ritual keagamaan, namun alasan untuk bertahan hidup.

Dapatkah Anda bayangkan apa yang harus dilakukan jika tiba-tiba pekerjaan yang tidak bisa tidak biasanya harus dijalankan dengan cara keluar rumah, tiba-tiba harus terhenti? Tiba-tiba harus berdiam diri dalam rumah menunggu sampai penyebaran virus ini terhenti? Pertanyaan yang langsung muncul adalah bagaimana cara mereka untuk bertahan hidup? Bagaimana mereka dapat memberi makan keluarga mereka jika mereka tidak bisa bekerja?

Himbauan bekerja di rumah itu sulit untuk diikuti oleh semua orang. Bukannya tidak mau tapi banyak yang orang tidak mengerti bagaimana cara mereka hidup jika harus tinggal di rumah. Well that’s for real…..Mau dipaksakan ya bisa saja tapi harus ada pemecahan bagi orang-orang yang pekerjaannya tidak bisa dilakukan di rumah itu. Contohnya, bagaimana cara petani atau nelayan bekerja di rumah? Bagaimana tukang sayur keliling mau jualan?

Bertransformasi atau mengubah cara bekerja itu memerlukan learning curve yang tidak mudah dan seharusnya dilakukan jauh-jauh hari sebelum bencana terjadi. Butuh waktu untuk belajar, dan selama masa pembelajaran tetap saja mereka perlu makan. Selain itu pada kenyataannya memang tidak semua pekerjaan bisa dilakukan dari rumah.

Berkumpul adalah naluri alami yang dilakukan manusia jika sedang ada ancaman pada hidupnya. Kalau di perusahaan kita melakukan grouping jika ada masalah saat progres sedang berjalan. Ya sama saja? Menghadapi masalah akan terasa lebih mudah jika dihadapi bersama-sama. Hanya saja kondisi saat ini berbeda karena aktivitas berkumpul justru memperbesar resiko setiap orang dapat terkena wabah. Oleh karena itu niatan sebagian besar orang untuk berkumpul dengan keluarga di kampung di saat-saat sulit ini jadi buah simalakama.

Ok kembali ke pertanyaan saya pada paragraf kedua, apa yang harus dilakukan oleh orang-orang yang pekerjaannya tidak bisa dilakukan dari rumah agar mereka bisa hidup dan tetap tinggal di rumah?

Apakah mereka harus menunggu bantuan dari pemerintah?

Apakah kita semua harus mulai bergotong royong untuk dapat membantu?

Apakah kita semua harus menunggu dengan sabar sampai obat dan vaksinnya ditemukan?

Yang pasti meminta semua orang untuk tinggal di rumah jadi tidak masuk akal di jalankan bagi mereka yang tidak memiliki privilese untuk dapat bekerja dari rumah.

Ya pada akhirnya harus kita pahami, untuk dapat bertahan hidup kita tidak bisa hanya dengan menghindari wabah, tapi juga harus makan.

Foto: Coris at Indonesian Wikipedia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.