Membebaskan Pendidikan


Ya kita akhirnya sampai juga pada titik sekarang ini dengan dorongan dari wabah pandemi Covid-19 untuk melakukan semuanya dari rumah. Para orang tua harus ikut mengawal anak-anaknya untuk bersama-sama dengan para guru menjalankan pendidikan secara remote, dari rumah tentunya. Yang pasti ini adalah proses pembelajaran bagi kita semua untuk dapat tetap memberikan pendidikan bagi anak-anak kita dengan cara yang paling memungkinkan. Bagaimana dengan kita? Apakah kita sebagai orang tua siap untuk itu? Apakah guru-guru anak kita siap untuk itu? atau dalam skala yang lebih luas apakah sistem pendidikan kita siap untuk itu? Kalau belum lalu apa yang harus dibenahi?

Sebelum saya melanjutkan tulisan ini, saya harus meminta maaf terlebih dahulu jika ada teman-teman dari dunia pendidikan yang merasa tersinggung karena ulasan saya ini.

Sebetulnya konsep remote learning ini sudah lama ada. Beberapa universitas besar dunia sudah menyelenggarakannya. Saya pun dalam beberapa kesempatan selalu menyarankan ke beberapa teman di universitas agar dapat menerapkannya, namun entah mengapa belum banyak yang ingin mengadopsi dan menambahkannya pada sistem pendidikan tinggi kita. Saya curiga karena teknologi yang memungkinkan remote learning ini dianggap terlalu canggih atau mereka hanya simply malas untuk shifting dan belajar lagi. Pada saat itu bahkan para praktisi IT sudah jauh ke depan dalam bekerja secara remote. Mereka menggunakan Slack, Jira dan aplikasi-aplikasi lainnya untuk menunjang pekerjaan mereka agar bisa dilakukan secara remote.

Beberapa rekan yang berprofesi sebagai dosen pada saat itu berkilah bahwa dalam menyampaikan mata kuliah dibutuhkan pendampingan dan tidak bisa jika tidak dilakukan secara tatap-muka.

Dengan keterbatasan yang disampaikan tersebut, maka apa jadinya saat pandemi Covid-19 berlangsung dimana semua orang diharuskan belajar dari rumah? Apakah proses belajar-mengajar jadi tidak bisa dilangsungkan? Apakah proses pendampingan secara tatap-muka jadi tidak dapat dilakukan? Ternyata tidak, the show must go on, proses perkuliahan tetap berjalan dengan mengadopsi aplikasi-aplikasi seperti Zoom, Whatsapp, dan lain sebagainya. Ini membuktikan bahwa pendapat yang mereke kemukakan dulu itu adalah bentuk dari keresistensian sistem pendidikan terhadap perubahan. Dan unfortunately kondisi pandemi ini “memaksa” sistem pendidikan untuk beradaptasi ke model belajar mengajar secara remote. Walaupun ini hanyalah sementara namun setidaknya dunia pendidikan jadi dapat merasakan dan mengalaminya sendiri sistem remote ini.

Sistem belajar mengajar yang dulunya kaku, sekarang terbukti dapat dilaksanakan dengan sangat fleksibel. Pandemi ini membebaskan pendidikan sehingga dapat dilakukan dari mana saja dan kapan saja. Siapapun dapat membuktikan kemampuannya menjadi pengajar yang baik.

Photo by Chris Montgomery on Unsplash

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.