Kepercayaan


Selama virus Covid-19 yang masih menjadi pandemi ini belum ada obat dan vaksinnya maka kita hidup kita akan selalu dihantui ketidakpercayaan. Ini berlaku untuk apapun, di manapun dan dalam situasi apapun, mulai dari menjalani kehidupan maupun menjalani pekerjaan. Kita tidak mau membeli barang jika orang yang menjual barang kelihatannya “gak sehat” karena kita takut kalau ternyata si penjual ini bawa virus. Well, sorry to say, jaman pandemi ini semua akan diarahkan ke arah sana.

Tidak bisa semua dipecahkan oleh kehadiran teknologi digital. Pernah lihat bagaimana barang-barang mahal di sebuah mall di Malaysia dipenuhi dengan jamur? Selama lockdown dilaksanakan merawat barang-barang tersebut tidak dapat dilakukan secara online. Belum lagi para pekerja informal yang ikut jadi korban karena ketakutan kita terhadap virus yang tidak kasat mata tersebut.

Ya ketakutan…..it’s a fear factor yang mendorong rasa ketidakpercayaan terhadap segala sesuatu yang dianggap memiliki resiko tertular. Ini bukan masalah butuh atau tidak butuh, karena kebutuhan kita tidak berubah hanya saja cara untuk mendapatkannya jadi sangat-sangat dipikirkan. Dari mana kebutuhan-kebutuhan tersebut bisa didapat? dengan cara apa? Orang yang mengantarkan bagaimana? dan seterusnya. Banyak faktor yang menjadi acuan agar kita bisa merasa aman untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut. Dan bila faktor-faktor tersebut bisa membuat kita yakin bahwa kita aman, baru kehidupan bisa berjalan.

Saya ingat suatu waktu istri saya memesan kopi dari toko kopi yang cukup terkenal, di mana saat sampai rumah, si pengantar mendemonstrasikan penyemprotan alkohol 70% didepan si penerima. Apa yang dilakukan oleh si pengantar ini tidak lain tidak bukan adalah untuk mendapatkan kepercayaan si pembeli. Dengan demikian pembeli jadi percaya dan tidak takut untuk membeli produk yang mereka jual.

Pada saat saya menentukan untuk memanggil layanan potong rambut oleh pak Agus ke rumah pun itu dengan pertimbangan yang cukup lama setelah beberapa lama memilih barber shop yang menawarkan layanannya di masa pandemi ini. Bagaimana si pemberi jasa bertindak dalam menjalankan layanannya dalam rangka memberikan rasa aman jadi sangat menentukan. Pak Agus selalu menggunakan hand sanitizer, masker dan juga face shield saat melakukan tugasnya. Selain itu proses potong rambutnya juga dilakukan diluar, yang artinya tidak di dalam ruang tertutup. Poin-poin tersebutlah yang menjadikan saya memilih pak Agus untuk melakukan potong rambut terhadap saya, anak saya dan papa saya di rumah.

Di masa pandemi ini kepercayaan akan jadi modal untuk menentukan reputasi seseorang. Sebagai konsumen tentu saja kita semua ingin memastikan apa yang kita konsumsi tidak disajikan dengan tambahan bencana (Covid-19), dan ini harus dipahami oleh semua pelaku bisnis agar bisnis mereka bisa mendapatkan kepercayaan dari konsumen yang suka atau tidak suka memikirkan ulang segalanya karena kondisi pandemi ini.

Foto: Tyas Handayani

4 pemikiran pada “Kepercayaan

  1. Ping balik: Mengalir | Abang Edwin S.A.

  2. Ping balik: Mal dan Rasa Aman | Abang Edwin S.A.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.