Aturan Tidak Tertulis


Saya gak tahu apakah jaman sekarang masih banyak orang main layangan. Pertanyaan tersebut terjawab sore ini ketika anak saya berteriak dari teras atas rumah kami, “papa…papa…..I see a kites papa”. Dan saya mendongak dan mendapati ada beberapa layangan yang diterbangkan cukup tinggi. Ya ternyata dijaman gaming berbasis online ini masih banyak juga anak-anak yang masih main layangan. Ya tentu saja beda pasar ya, agak-agak tendensius juga jika melihat sesempit itu.

Cerita berlanjut ketika beberapa menit kemudian ada satu layangan putus nyangkut menjuntai dari atap rumah tetangga depan. Saya dengan santai jalan ke depan dan mengambil layangan tersebut, menyemprotnya dengan semprotan alkohol (protokol covid-19) dan membawa masuk untuk diperlihatkan pada anak saya.

Respon yang saya dapat justru berbeda saat saya menunjukkan layangan yang saya dapatkan. Istri dan anak saya langsung bertanya, “Dapat dari mana pa?” Saya jawab, “Di depan rumah ada layangan putus”. Mereka berdua celingukkan dan merespon, “Kok diambil pa?”…..jedeeeer, saya langsung bingung.

Jaman saya masih kecil dulu, ya lebih tua sedikit dari anak saya sekarang, saya dikenal sebagai pemain layangan militan, ketika masih tinggal di Banjarmasin. Saya dijuluki sebagai penguasa atap, karena selalu main layangan di atap sirap sepulang sekolah, dan bisa mengejar layangan putus dengan berlari dari satu atap ke atap lainnya. Layangan yang putus itu berarti hilang juga hak kepemilikannya. Itu ground rules yang berlaku pada semua pemain layangan. Jika tidak ingin kehilangan kepemilikan layanganmu ya jangan sampai putus, karena kalau putus ya akan jadi rebutan orang.

Nah sepertinya ground rules tersebut belum dipahami oleh istri dan anak saya, sehingga ketika saya membawa “pampasan perang” hasil dari jalanan berupa layangan putus, mereka bingung, mungkin mereka merasa ayah/suaminya kok mengambil milik orang lain yang bukan haknya.

Tidak berlama-lama, saya langsung menjelaskan aturan main (ground rules) di atas seperti yang saya jelaskan, agar tentunya saya tidak jadi contoh yang tidak baik di rumah.

Eh, ngomong-ngomong, ide yang bagus juga jika saya mulai memperkenalkan ke anak saya untuk main layangan ya? Kalau mintanya drone bisa gawat juga sih….hahaha!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.