Limbah Plastik Rumah Tangga


Saya termasuk orang yang cukup concern terhadap permasalahan limbah plastik dan rasanya kalau punya cara yang baik untuk ikut berkontribusi dalam urusan limbah plastik ini pasti saya ikut.

Pasti banyak yang bilang, “udah bang, mulai dari yang basic-basic aja dulu kayak memilah sampah plastik dari sampah lainnya”. Well that easy tapi setelah itu mau diapain? Kalau gak tahu mau diapain juga ya jadinya percuma kan? Masa dibuang ke tempat sampah dimana kita semua sudah tahu bahwa sistem pembuangan sampahnya sendiri tidak mengenal pemilahan di level rumah tangga, sehingga sudah pasti akan dicampur lagi. Jadi buat apa kita pilah-pilah?

Intinya kita gak bisa hanya ngomongin limbah plastik rumah tangga tanpa mengaitkannya pada sistem pembuangan sampah yang lebih besar lagi. Nah kalau sudah sampai sini, dijamin overwhelmed deh. Karena memang permasalahannya itu dari hulu ke hilir. Lalu biasanya kita jadi nyerah atau terus mencari cara, atau kayak saya sekarang, bikin tulisan…hehehe

Anyway, beberapa saat yang lalu saya dikirimkan pesan WA oleh istri saya tentang perusahaan yang membuat bahan bangunan dari bahan sampah plastik. Perusahaan ini berusaha mengumpulkan bahan baku (limbah sampah plastik) dengan cara menghimbau agar semua orang memilah-milah plastik rumah tangga lalu mengirimkannya ke drop point yang mereka tentukan. Menarik bukan?

Saking tertariknya saya menyempatkan diri untuk menghubungi mereka lewat WA juga. Di dalam bayangan saya, sudah tergambar rencana saya untuk membuat program pemilahan sampah plastik di rumah sekalian ikut mengajak anak saya (yang alhamdulillah sudah mengerti tentang bahayanya limbah plastik ini terhadap lingkungan) untuk mempraktekkan pemilahan plastik tersebut.

Namun kemudian saya berpikir lagi, ini tidaklah selesai juga kalau urusannya masih ganjel di pengiriman limbah plastik tersebut, sementara itu pihak perusahaan tersebut kan make business dengan memproduksi bahan bangunan dari bahan-bahan limbah plastik tersebut (ya mereka pasti akan menjualnya). Ini akan jadi masalah kedepannya jika mereka maunya memang mendapatkan bahan baku secara cuma-cuma untuk menjalankan bisnis mereka tersebut (mudah-mudahan saja saya salah).

Kembali ke papan gambar, saya jadi berpikir lagi bagaimana ya solusi yang baik?. Dan kali-kali saja dari para pembaca punya ide?

Photo by Jasmin Sessler on Unsplash

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.