Brand Marketing Di Masa Krisis Pandemi


Dalam masa krisis, mungkin sulit bagi para marketers untuk mengetahui dari mana harus memulai. Hanya dalam beberapa minggu, orang telah beralih ke mode survival, fokus pada diri mereka sendiri, keluarga mereka, karyawan mereka, pelanggan mereka, dan komunitas mereka. Konten-konten di media sosial mencerminkan hal ini, dengan berseliwerannya permohonan agar sesama warga negara untuk mengikuti pedoman keselamatan dari pemerintah. Orang-orang telah melewati batas partisan untuk membangun jembatan di lingkungan dan komunitas mereka dan bersatu melawan kekuatan yang tidak terlihat.

Dengan himbauan untuk menjaga jarak yang membuat banyak orang tetap tinggal di rumah, kita juga bisa melihat perubahan besar dalam tren perilaku. Konsumen telah kembali ke siaran televisi kabel dan sumber media premium lainnya untuk mendapatkan informasi-informasi yang kredibel. Mereka juga mencari lebih banyak cara pelarian dan hiburan dengan mengunduh aplikasi game, menghabiskan lebih banyak waktu di media sosial, dan juga streaming lebih banyak film. Dan antara pengaturan kerja remote, kelas latihan menggunakan live streaming, kuliah online, dan keterlibatan sosial, kita semua seperti menguji kekuatan bandwidth koneksi internet rumah.

Sementara itu, kebutuhan akan barang-barang memberi tekanan pada kanal-kanal baru, dengan permintaan untuk e-commerce naik ke level yang baru juga. Bagi mereka yang harus melakukan perjalanan keluar rumah, toko-toko penyedia bahan pokok adalah tujuan utama yang terpenting, tetapi ketersediaan barang juga kadang tidak konsisten. Masalah kesehatan dan keselamatan mendorong lebih banyak orang menuju sistem pembayaran non-tunai dan juga tanpa gesekan (non-kartu kredit), seperti menggunakan aplikasi untuk membayar dengan tanpa menyentuh permukaan perangkat EDC.

Beberapa perubahan perilaku ini mungkin bersifat sementara, tetapi banyak yang mungkin jadi permanen. Ketika orang bergerak melampaui mode untuk bertahan hidup saat ini, momentum di balik adopsi pengalaman digital tidak mungkin berbalik karena orang dipaksa oleh keadaan untuk mencoba hal-hal baru. Dengan begitu banyak perubahan yang begitu cepat selama masa sulit ini, tindakan apa yang dapat dilakukan para brand untuk melayani dan mengembangkan pelanggan mereka, mengurangi risiko, dan memaintain pelanggan mereka?

1. Hadir dengan empati dan transparansi

Orang-orang merasa rentan sekarang. Empati sangat penting. Banyak bank, misalnya, telah mulai mengenyampingkan biaya-biaya layanan yang biasanya mereka bebankan pada nasabah mereka, melihat kesulitan yang terjadi pada nasabah mereka. SAP telah membuat platform Qualtrics Remote Work Pulse jadi gratis bagi perusahaan yang mungkin harus dengan cepat beralih ke cara kerja yang baru. Contoh seperti itu menunjukkan kerendahan hati di hadapan kekuatan yang lebih besar dari kita semua.

Brand voices jadi lebih ‘lembut’ dari sebelumnya. Brand-brand yang menggunakan momen ini untuk menjadi eksploitatif secara komersial tidak akan berhasil. Lebih baik melakukannya seperti yang Guinness lakukan pada periode St. Patrick’s Day, ketika mereka mengalihkan fokusnya dari perayaan dan kumpul-kumpul di pub yang kemudian beralih pada pesan umur panjang dan kesejahteraan. Pada masa-masa ini, kita tidak memiliki semua jawaban, dan kami perlu mengakuinya. Jika Anda membuat janji, bahkan selama masa yang tidak pasti, Anda harus dapat memenuhi apa yang Anda katakan.

2. Gunakan media dengan cara yang lebih cekatan

Agar dapat mengalihkan pesan kreatof dengan cepat ketika keadaan berubah, para marketer tentunya akan ingin membangun model operasi yang dapat merespon lebih cepat secara internal dengan para agensi. Akses ke produksi secara remote dan kapasitas kreatif akan menjadi sangat penting ketika krisis berkembang. Nike, misalnya, segera pindah untuk mengadopsi pesan baru: “Play inside, play for the world”. Dan untuk mempromosikan praktek jaga-jarak dan menunjukkan komitmen terhadap keselamatan publik, Chiquita Brands menghapus Miss Chiquita dari logo mereka. “I’m already home. Please do the same and protect yourself”, bunyi tulisan pada caption Instagram-nya.

Selain karena alasan kreatifitas, karena paduan platform media yang digunakan oleh konsumen secara aktual ikut berubah dengan cepat, marketers harus mempertimbangkan untuk memodifikasi perpaduan media yang digunakan. Misalnya, dengan peningkatan konsumsi hiburan digital, marketers mungkin ingin meningkatkan penggunaan streaming video dan game mobile yang didukung iklan. Demikian pula, ketika konsumsi berita memuncak sementara konsumen berdesak-desakan untuk tetap mendapatkan informasi, brand tidak boleh jadi takut, mengingat tingginya tingkat keterlibatan dan relevansi. Berita mungkin hanya sebuah lingkungan yang memerlukan pemantauan lebih cermat tentang seberapa sering iklan muncul untuk menghindari materi iklan yang terlalu terbuka, yang dapat merusak ekuitas yang dimiliki oleh brand.

3. Kaitkan brand Anda dengan kebaikan

Orang akan lebih mudah mengingat sebuah brand jika brand tersebut melakukan tindakan baik di masa krisis, terutama jika dilakukan dengan hati yang tulus. Tindakan baik ini bisa berupa donasi makanan bagi yang membutuhkan, menyediakan produk gratis untuk tenaga medis, atau terus membayar karyawan saat perusahaan ditutup untuk sementara. Adobe, misalnya, segera membuat Creative Cloud tersedia untuk lembaga-lembaga K-12 (sekolah dasar), mengetahui bahwa ini adalah momen untuk kebaikan ketimbang tetap melakukan aktivitas komersial murni. Konsumen kemungkinan akan ingat bagaimana Ford, GE, dan 3M bermitra untuk mengubah kapasitas produksi dan membuat orang kembali bekerja untuk membuat respirator dan ventilator untuk melawan virus corona. Dan orang-orang menghargai bahwa banyak perusahaan minuman beralkohol, ikut mulai menggunakan kembali kemampuan manufaktur alkoholnya untuk membuat hand-sanitizer, mengurangi kekurangannya ketersediaan dengan pesan “It’s in our hands to make a difference”.

Konten berisikan pesan baik yang mengurangi kecemasan dan mempromosikan pesan positif akan sangat membantu meningkatkan brand. Namun, perusahaan perlu menunjukkan bahwa kontribusi mereka bersifat material dan tidak semata-mata untuk keuntungan komersial. Konsumen mengakui keaslian dan tujuan sebenarnya.

4. Melacak tren dan membangun skenario

Pelacakan tren perilaku manusia yang sering dilakukan akan membantu marketers mendapatkan wawasan yang lebih baik secara real-time. Marketers akan ingin mengukur tren sentimen dan konsumsi secara teratur untuk mengadaptasi pesan dengan lebih baik, mengamati dengan seksama percakapan di seluruh platform media sosial, situs komunitas, dan halaman produk e-commerce untuk mencari peluang dan mengidentifikasi krisis yang menjulang lebih cepat. Perusahaan harus mempertimbangkan dengan cepat membangun dashboard dengan data semacam ini untuk memicu keputusan yang tepat juga.

Marketers juga perlu mempertimbangkan membangun hubungan yang lebih dalam dengan para atasan mereka (sampai ke c-level tentunya) untuk memberikan wawasan kepada eksekutif yang akan semakin terlibat dengan pilihan strategi pemasaran. Tim marketing harus bekerja sama dengan bagian keuangan dan bagian operasional untuk menentukan berbagai skenario dan hasil yang potensial, tergantung pada berapa lama krisis berlangsung.

5. Beradaptasi dengan cara-cara baru dalam bekerja

Banyak perusahaan dapat beralih ke pengaturan kerja jarak jauh (remote-working) dengan cepat. Menerapkan teknologi kolaborasi dapat secara lancar menyediakan tempat untuk ngobrol, berbagi file, kemampuan untuk meeting, memungkinkan tim untuk tetap terhubung dan tetap produktif. Bahkan, happy hour versi virtual juga sudah masuk dalam tatanan the new normal untuk membangun moral tim. Para mitra mulai melakukan “pitching” juga secara remote, melihat bahwa aktivitas dengan tatap muka langsung tidak mungkin dilakukan selama beberapa minggu mendatang. Para pemimpin harus melakukan yang terbaik untuk mentransisikan setiap elemen model operasional, mulai dari pemasaran, ke penjualan, ke layanan yang ujung-ujungnya ke kondisi new normal ini. Inovasi-inovasi baru dan bahkan peningkatan margin pasti akan muncul dari ketidaknyamanan yang kita alami saat ini.

Bagaimana kita dapat membuat rencana untuk selanjutnya dan seterusnya?

Kita semua saat ini berada dalam fase mengakui-dan-beradaptasi dengan pandemi Covid-19 ini. Namun selain itu kita juga harus merencanakan kehidupan di luar krisis. Saat kita mengevaluasi apa yang sudah diketahui, para pemimpin pemasaran harus bekerja secara eksternal untuk menjaga brand dan customer journey mereka secara keseluruhan, sambil bekerja secara internal untuk melakukan tiga hal:

  1. Memahami dampak gangguan bisnis dan terus melakukan pengamatan untuk hal-hal yang tidak terduga.
  2. Pelajari cara digital bekerja dan usahakan untuk dapat terus terhubung dengan pelanggan, mengingat bahwa ini kemungkinan akan memiliki efek yang bertahan lama.
  3. Memitigasi risiko terhadap pengalaman pelanggan dengan berpikir realistis dari luar-dalam.

Tidak diragukan lagi, ada percepatan dari agenda transformasi digital karena kita semua menyadari betapa cepatnya pelanggan dan karyawan telah melakukan perubahan dalam perjalanan dan pengalaman yang dimungkinkan secara digital.

Semua brand harus berpikir, beroperasi, dan bersikap dengan cara-cara baru selama keadaan yang tidak pasti dan belum pernah terjadi sebelumnya ini, dan kita semua harus belajar bersama dengan kepercayaan diri dan kerendahan hati.


*Diambil dari banyak sumber

Photo by visuals on Unsplash

2 pemikiran pada “Brand Marketing Di Masa Krisis Pandemi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.