Mengelola Harapan


Hampir setiap kegagalan itu selalu diikuti oleh kekecewaan, dan terkadang dampaknya jauh lebih buruk daripada yang dapat kita bayangkan.

Menyebalkan memang.

Seperti kita semua sadari, mengubah ide menjadi kenyataan adalah proses yang menarik. Bagi saya sih hal tersebut akan jadi pengalaman paling menakjubkan yang bisa kita miliki. saya yakin banyak dari kita pun memiliki perasaan yang sama. Jika Anda berhasil, Anda akan puas. Jika gagal, Anda masih bisa mendapat pelajaran dari pengalaman yang didapat. Namun, semua itu tidak ada gunanya jika Anda tenggelam dalam kekecewaan mendalam yang disebabkan oleh kegagalan. Bahkan pengalaman yang didapat akan jauh lebih menyakitkan daripada yang pernah Anda bayangkan.

Bagi saya, akan jauh lebih baik jika kita melakukan sesuatu dengan asumsi bahwa kita tidak akan pernah dihargai, ataupun dikenal, dan bahwa semua yang kita lakukan tidak sepadan dengan waktu dan energi yang dikeluarkan.

Keuntungan dari melihat dari sudut pandang seperti itu adalah bahwa jika Anda membuat prestasi yang baik, itu akan menjadi bonus. Keuntungan lain adalah Anda akan memiliki satu pertanyaan lagi untuk dijawab:

“Apakah kamu ingin mewujudkan ide ini atau tidak?”

Begitu kita semua dapat dengan jujur menjawab pertanyaan tersebut, maka kita akan dapat melakukan segalanya dengan lebih mudah.

Photo by Ahmed Hasan on Unsplash

Satu pemikiran pada “Mengelola Harapan

  1. Beda orang beda motif.
    Saya ngeblog lagi setelah sekian tahun menghilang karena ingin merawat ingatan dan melatih kemampuan berbahasa tanpa memaksa orang lain membaca, misalnya di grup WA. Lebih untuk kepentingan terapeutik saya.

    Saya tetap menikmati meski pembaca blog saya tak sebanyak dulu, begitu pun pengikut akun baru di Twitter, karena lanskap digital sudah berubah, penghuninya pun orang baru yang tak kenal saya maupun saya kenal. Semua mulai dari awal lagi seperti isi bensin di SPBU: dari nol. 😊

    Dulu pun tujuan utama ngeblog — artinya cuma tujuan kesekian yang receh — bukan untuk tenar, makanya pakai nom du guerre, dan ketika dulu di medsos saya dikenal dengan identitas saya, oleh lebih dari dua ratus orang, saya pun gerah dan gamang. Sampai sekarang saya tidak pede untuk approve penilaian orang di LinkedIn tentang apa yang mereka yakini sebagai kompetensi saya. 🤭

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.