Berlayar


Dulu banyak yang mempertanyakan saya ketika saya memutuskan untuk bekerja online. Ya ini dulu lho ya, walaupun sampai saat ini juga banyak yang bingung. Buat kebanyakan orang yang namanya bekerja yang ‘bener’ itu ya mestinya pergi ke kantor dan dapat meja sendiri, ada line telponnya yang bisa terhubung, plus laptop, dan seterusnya, dan seterusnya.

Saya mempertanyakan, kenapa mesti punya kantor ya kalau kita bisa bekerja dari mana saja? Oh kan kalau ada klien yang mau datang lebih enak menerimanya? Ya tinggal ketemuan aja di tempat yang enak buat ngobrol atau diskusi atau meeting. Oh kan jadi ada mailing address nya. Apa salahnya mailing address menggunakan alamat rumah? Kan yang penting suratnya sampai? Oh kan jadi lebih cepat untuk koordinasi dengan rekan kerja? Di jaman keemasan telekomunikasi seperti saat ini rada aneh jika urusan koordinasi mesti ketemu dan tatap muka. Pokoknya hampir semua alasan bagi keberadaan kantor itu saya pertanyakan walaupun saya tidak pernah menolak jika harus bekerja di kantor. Hanya saja jika saya punya kantor, ya jangan harap saya akan menyediakan semua itu, kecuali memang bisnis yang saya jalankan mengharuskannya. Misalnya kalau saya punya pabrik, ya sepertinya tidak mungkin dikerjakan dari rumah.

Melihat semuanya itu saya jadi merasa keberadaan kantor itu sebetulnya seperti sebuah kebutuhan sekunder bagi keberlangsungan bisnis tentunya ini berlaku untuk bisnis-bisnis tertentu lho ya, dan kebetulan semua bisnis yang ada di kepala saya rasa-rasanya tidak membutuhkan kantor. Jadi kalau saya punya kantor seperti hanya ingin mengedepankan gengsi semata.

Benarkah hanya gengsi? sepertinya tidak ya. Pernah mendengar istilah prototypicality? Yang artinya adalah image yang diciptakan oleh otak untuk menggambarkan segala hal, misalnya pakaian dokter selalu tergambar dengan warna putih, mobil pemadam kebakaran selalu tergambar dengan warna merah, demikian juga kata bekerja yang selalu digambarkan tempatnya di kantor, walaupun sebenarnya banyak juga pekerjaan yang tidak dilakukan di kantor.

Banyak yang lupa bahwa bekerja itu adalah sesuatu yang perlu dipertahankan, terutama jika sudah menyangkut dapur apalagi dapurnya orang banyak (bila bisnisnya sudah besar). Untuk mempertahankannya maka pekerjaan itu perlu fleksibel. Yang saya maksud fleksibel itu adalah pemilik bisnis ya bertanggung jawab atas hidup matinya si bisnis.

Saat Pizza Hut di Indonesia mulai menjual pizzanya di pinggir jalan di masa pandemi, banyak yang bertanya-tanya. Tidak sedikit yang menertawakan, namun yang namanya bisnis ya harus bisa bertahan dengan cara apapun. Masa pandemi adalah masa yang sangat sulit, dan Pizza Hut banting setir jadi pedagang asongan jualan pizza di pinggir jalan agar bisnisnya bisa jalan terus. Bagi Pizza Hut, tidak ada lagi gengsi yang harus dipertahankan. Masa ini adalah masa hidup dan mati dan segala inisiatif yang bisa mempertahankan hidup mereka ya akan coba dijalankan. FYI, Pizza Hut di negara asal mereka sudah filing for bankruptcy, untungnya Pizza Hut di Indonesia merupakan entity yang terpisah, sehingga tidak terkena resiko ikut tenggelam.

Hidup ini penuh dengan ketidakpastian, tapi dengan belajar dari pengalaman (pengalaman siapa saja) kita bisa sedikitnya memprediksi jalan seperti apa yang harus dilalui, saya biasanya menganalogikan kehidupan seperti sedang berlayar, kita harus bisa mempelajari gelombang laut, arah angin dan juga tanda-tanda di angkasa agar bisa sampai di tempat tujuan.

Photo by Ricardo Frantz on Unsplash

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.