Indispensable


Saya punya seorang sahabat. Sebut saja namanya adalah Dendi (tentu saja bukan nama asli). Saya kenal dengan Dendi ini saat saya bekerja untuk pertama kali semenjak lulus. Dendi adalah seorang desainer produk yang saya menyebutnya sebagai desainer yang memang dilahirkan memang hanya untuk mendesain, karena daya imajinasi dan kemampuan untuk mempresentasikan ide-idenya memang cukup baik.

Setelah kami berpisah, Dendi bekerja di perusahaan alat-alat rumah tangga yang berbahan plastik. Cukup lama ia bekerja di perusahaan ini yang lalu setelahnya ia sempat diminta untuk mengelola sebuah pemancingan yang akhirnya kembali ia bekerja di sebuah perusahaan internasional yang cukup terkenal.

Yang ingin saya ceritakan dari Dendi ini adalah semua orang yang bekerja dengan Dendi selalu menyukai pekerjaannya, dan akhirnya selalu ingin bekerja sama dengan Dendi. Bosnya di perusahaan plastik menganggap Dendi sebagai seorang Midas (ini penggambaran dari saya) dimana semua desain hasil pekerjaannya membuat penjualan dari produk-produk mereka selalu meningkat.

Di tempat ia bekerja terakhir ini pun cerita yang sama berulang. Ia menjadi orang yang paling senior (dalam hal umur) di bagian kreatif di kantornya. Dan tetap saja semua orang menyayanginya, dan menganggapnya punya kemampuan yang tidak di miliki oleh orang lain.

Apa yang membuat Dendi menjadi orang yang indispensible? Apakah kita bisa menjadi seperti Dendi?

Ya memang kita tidak bisa menyenangkan semua orang, namun setidaknya bekerja itu selalu punya pola yang sama, apapun jenis pekerjaannya. Pertama bisa menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan bisa berinteraksi dengan baik juga. Kelihatannya sederhana ya tapi kenyataannya banyak yang tidak bisa secara konsisten melakukan keduanya.

Selama saya kenal Dendi saya melihatnya selalu bersikap positif. Ya ngedumel-ngedumel sih manusiawilah tapi ia secara konsisten berusaha menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Yang kedua, ia juga memiliki kemampuan berinteraksi dengan orang lain yang sangat baik, sehingga orang-orang jadi suka dan memilih dia sebagai orang yang ingin diajak berinteraksi dalam hal pekerjaan bahkan untuk curhat sekalipun.

Saya jadi ingat bahwa bekerja itu tidak hanya sekedar menyelesaikan sebuah kerjaan tapi juga bagaimana kita bisa berinteraksi dan berkomunikasi yang baik sehingga pekerjaan tersebut tidak hanya selesai tapi bisa berdampak jauh lebih besar ketimbang hanya menyelesaikan pekerjaan kita semata. Dan kebiasaan yang dilakukan oleh Dendi kelihatannya jadi resep yang tertanam dalam dirinya dan membuatnya jadi individu yang selalu dibutuhkan (indispensible) yang ujung-ujungnya ia menjadi orang yang dianggap tak bisa digantikan (irreplaceable)

Siapa yang tak ingin jadi seperti Dendi, dan saya yakin kita semua ingin seperti Dendi.

Ada pengalaman serupa yang bisa di share? Saya ingin sekali mempelajarinya juga dari teman-teman…:-)

photo created by freepik – www.freepik.com

2 pemikiran pada “Indispensable

    • Haha….iya mas, dulu saya pikir karena keberuntungan, tapi ternyata bukan. Karena positive attitudenya dia. Sampai sekarang lho dia disayang sama perusahaan tempat ia bekerja. Bahkan perusahaan lamanya terus-terusan minta dia balik….hahaha

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.