Beberapa saat yang lalu dipercaya untuk menjadi moderator dalam sebuah webinar yang bertajuk “Moving Forward After Covid-19” dimana pada webinar ini dihadiri oleh narasumber yang cukup punya nama besar, seperti, Peter Shearer (Wahyoo.com), Rama Mamuaya (Dailysocial), Aldo Rambie (Facebook Indonesia) dan ibu Nenny Soemawinata, seorang business woman yang sudah lama malang melintang di dunia profesional, pendidikan, media, agency dan juga social business.

Saya tidak akan membahas jalannya webinar tersebut, tapi saya akan membahas tentang pertanyaan yang saya terima setelah acara tersebut selesai, yaitu dari bapak Susilo Sutjipto, seorang praktisi konsultan dibidang perkapalan dan jasa angkutan ferry penyebrangan. Pertanyaannya seperti ini:

Assalamualaikum pak moderator, salam sejahtera bagi kita semua, ijin saya mau menyampaikan pertanyaan. Perkenankan saya susilo sutjipto praktisi konsultan di bidang perkapalan dan jasa angkutan ferry penyeberangan. Semua ke 4 pembicara sangat berbobot dan menguasai dibidangnya dan saya sangat terkesan sekali. Pertanyaannya: bagaimana cara implementasi dari teori2 yg disampaikan ke 4 pembicara agar dapat dimengerti difahami dan terlaksana dgn baik serta merata di komunitas kelas bawah? Seperti diketahui bahwa sebagian besar masyarakat kita didominasi strata sosial menengah kebawah dgn kebiasaan/culture masyarakat yg senang berkumpul kongkow2 dengan tingkat kedisiplinan yg sangat rendah, sebagai contoh hal yg paling simpel saja bhw utk melaksanakan protokol kesehatan secara disiplin dan kosisten, itu saja sangat sulit dalam pelaksanaannya, survey membuktikan di wilayah Bodetabek masyarakat yg tdk suka memakai masker mencapai sampe 70 percent, maksud saya apakah mampu utk masyarakat kelas menengah kebawah menerima dan dapat dimengerti sesuai konsep pembicara 1 dan ke 3. Pembicara ke 2 dan ke 4 dalam konsep/program sudah menyentuh masyarakat kelas UMKM, pembicara ke 2 dgn konsep al memberikan jalan kemudahan2 dalam order & delivery dari pelaku usaha, pembicara ke 4 dgn konsep al memberikan latihan2 kepada pelaku usaha UMKM dgn memberikan pencerahan supaya melek IT dari aspek bisnisnya. Konsep2 tsb diatas Jangan sampe membentuk kesenjangan sosial baru dlm masa new normal nanti yaitu kesenjangan sosial dibidang digitalisasi, online sistem, IT dll sehingga akan membentuk pengangguran2 baru (cukup membahayakan utk keamanan negara) yg tadinya padat karya menjadi padat teknologi digitalisasi. Agar Moving forward after covid 19 dapat berjalan dgn baik tanpa kendala. Demikian pertanyaan saya maaf kalo terlalu panjang. Terima kasih.

Terima kasih atas pertanyaannya pak Susilo. Yak betul, permasalahan strata sosial, tingkat pengetahuan serta penetrasi teknologi adalah pondasi bagi segala hal yang berkaitan dengan digital bisa berjalan dengan baik. Lalu bagaimana caranya agar problem-problem yang bapak sampaikan bisa teratasi? Kalau kita bicara pada saat sekarang ya tidak ada cara lain selain melakukannya secara paralel. Mulai dari edukasi, penetrasi dan membangun habit tersebut.

Untuk perusahaan bisa memulainya dengan pelatihan-pelatihan bagi karyawan agar mereka dapat lebih memanfaatkan teknologi digital yang justru tidak bisa tidak harus mereka gunakan. Setelah para karyawan terbiasa maka dapat dimulai proses penetrasi yang lebih mendalam pada sistem kerja karyawan di perusahaan tersebut, misalnya pemanfaatan remote working demi efektivitas dan efisiensi dalam pekerjaan.

Setelah semua itu dilakukan, tinggal membiasakannya hingga menjadi habit baru bagi para karyawan sebagai individu yang siap untuk menghadapi pekerjaan-pekerjaan dan mampu memanfaatkan teknologi digital dengan seoptimal mungkin.

Kelihatannya mudah, tapi percayalah ini butuh komitmen yang luar biasa besar, karena pandemi ini menjadikan kita semua tidak memiliki kemewahan yang disebut dengan waktu.

Ingin tahu lebih jauh? Mending kita ngobrol karena dengan ngobrol saya jadi lebih bisa tahu kebutuhan Anda seperti apa dan bisa memberikan saran baiknya seperti apa.

Yuk ah…:-)

People photo created by prostooleh – www.freepik.com