Manusia itu terlahir kreatif, hanya saja banyak yang tidak menyadarinya atau belum menemukannya. Tidak itu saja, bahkan banyak yang sudah menemukannya dan menyadarinya lalu membawanya ke tingkatan yang lebih baik lagi. Well saya tidak ingin membawa tulisan ini kearah sana dulu, cukup pada proses penemuan kekreatifitasan yang kita miliki saja ini sudah cukup memukau menurut saya.

Saya ingin cerita sedikit pengalaman yang saya alami dengan anak saya, dimana saya ikut berbagi sedikit pengalaman saya pada dia agar bisa lebih lancar dalam mengeksplorasi penciptaan.

Ibu Hartini, guru pianonya Evan, anak saya, selama pandemi mengeluh karena sangat sulit mengajar dan membimbing murid-muridnya via online. Ya bisa dimaklumi beliau usianya diatas saya dan berkenalan dengan cara belajar online lewat WA saja mungkin baru sekarang, ya memang pandemi ini membuat banyak orang jadi (terpaksa) harus belajar dan struggling agar bisa menjalankan fungsinya lewat online. Sampai akhirnya kami sebagai orang tua cukup percaya diri untuk bisa melepaskan Evan kembali ke kelas dengan persyaratan protokol yang ketat tentunya. Salah satu problem yang membuat Evan jadi agak keteteran adalah Evan jadi tidak bisa mengikuti satu bagian dari pelajaran piano tersebut karena ketidakmampuan diberlakukannya proses companiment atau pendampingan langsung oleh guru, sehingga ia belum bisa melatih instingnya untuk mendengar lagu dan lalu langsung mencari chord yang digunakan lalu mulai mengiringi. Ya proses yang menurut ibu Hartini harus dilakukan dengan metode companiment tersebut.

Dulu, saat saya baru belajar musik (saya belajar bass dan gitar), saya masih ingat metode yang saya gunakan ketika diberi tugas untuk memainkan chord-chord sebuah lagu (jazz standar pada saat itu) hanya dibekali dengan partitur. Saya tidak bisa baca not, yang saya baca adalah nama chord yang digunakan, mencari posisi tangan untuk chord tersebut lalu mulai memainkannya. Dengan demikian saya bisa ikut mengiringi sebuah lagu dibawakan bersama teman-teman lainnya.

Tantangan mulai sulit ketika saya mulai main band, karena tidak ada partitur dan tidak ada nama-nama chord, jadi saya harus mengandalkan kemampuan telinga saya untuk menangkap chord lalu mencarinya sendiri. Karena saya adalah pemain bass, maka cara yang termudah adalah mencari jalur bass line dari setiap lagu. Setelah bass linenya ditemukan baru mulai saya cari chord yang tepat.

Nah cara inilah yang saya ajarkan ke Evan agar bisa dengan cepat menemukan chord dan lalu mulai mengiringi lagu yang dimainkan

Saya (dari dulu dan sampai sekarang) adalah musisi otodidak walaupun akhirnya gagal jadi real musician. Saya belajar dan menemukan cara saya sendiri untuk bisa bermusik. Sampai akhirnya saya melihat anak saya mengalami hal yang sama lalu saya mencoba untuk membantunya.

Saat ini anak saya jadi excited, dan mencoba mencari chord dari berbagai lagu yang ia sukai dengan mengandalkan kemampuan telinganya menangkap nada.

Mission accomplished!