The Blog of Abang Edwin S.A.

Celotehan

Pencapaian

Kita semua hanya bisa melihat apa yang terlihat, seperti kesuksesan dan kegagalan. Jarang orang bisa dan mau melihat apa yang membuat hasil akhir ini terjadi. Membandingkan hasil akhir satu dengan yang lainnya jadi semakin brutal saat proses tidak dilibatkan. Banyak orang yang hanya bisa menyalahkan diri sendiri, saat mereka tidak bisa sama dengan orang lain, padahal makna dari pencapaian itu seharusnya berbeda-beda. Katakanlah ada satu kesepakatan untuk mendefinisikan pengertian pencapaian tersebut, cara mencapainya pun berbeda-beda. Jadi banyak faktor yang harus dilewati sebenarnya sebelum bisa menjadi layak untuk diperbandingkan.

Pertanyaan yang penting yang seharusnya ditanyakan adalah apakah kita juga melewati proses tersebut? Apakah kita mengerjakan semua komponen yang harus dilakukan untuk mencapai sesuatu dengan benar? Dan banyak lagi.

Amir (nama rekaan), adalah seseorang yang ingin sekali sukses dijenjang karir. Menurutnya kesuksesan itu adalah jika ia bisa bekerja di perusahaan besar dengan tanggung jawab besar untuk perusahaan tersebut. Amir hanya tertarik pada bidang yang ia sukai (katakanlah bidang tersebut adalah komunikasi).

Namun Amir merasa bahwa Budi jauh lebih sukses dibanding dirinya. Budi membangun sebuah communication agency dari nol, sampai akhirnya ia mendapatkan beberapa klien brand besar. Amir merasa gagal.

Ilustrasi ini sering terjadi, dimana kita membandingkan diri kita dengan rekan kita yang lain secara langsung tanpa tahu/peduli apakah sebetulnya kondisinya bisa diperbandingkan atau tidak.

Apakah kondisi Amir dan Budi sama? Ya tentu saja tidak. Bidang pekerjaannya mungkin saja sama (communication). Untuk dapat menggerakkan sebuah communication agency, Budi harus melakukan semua hal yang dapat membuat perusahaan bergerak mendekati klien, you name it. Mulai dari permodalan saat memulai, memilih orang-orang yang akan bekerja, sampai dengan menghadapi klien-klien yang menjengkelkan.

Nah jika kondisinya saja tidak sama rasa-rasanya tidak akan bisa juga diperbandingkan secara apple-to-apple bukan?

Banyak orang yang hanya melihat kulitnya saja tanpa tahu perjuangan dan konsekuensi yang mengikuti sebuah pencapaian. Ya kalau mereka bisa paham, banyak juga yang bete dan merasa gagal karena menganggap diri mereka tidak sesukses orang lain yang notabene kondisi nya sama sekali tidak bisa diperbandingkan.

Ya kalau sudah begini, daripada ribut-ribut mendingan saya kembali ke laptop saja…hehehe

3 Comments

  1. Benar, saya pun mengalami pengalaman ini. Orang-orang di sekitar saya hanya mau melihat ‘hasil’, tapi tidak dengan usaha dan kerja keras untuk mewujudkan hasil.
    Seperti sebuah kebiasaan, budaya, untuk melihat hanya hasil saja, tanpa melihat usaha di baliknya. Usaha dan kerja keras dinilai tidak menarik, dan seperti buang-buang waktu saja. Miris sebenarnya melihat keadaan seperti ini. Untuk mengubah keadaan ini, sulit, dan memang membutuhkan waktu. Perlu bukti yang meyakinkan bahwa usaha dan kerja keras, itu yang lebih penting dari hanya sekedar hasil.

    • Comment by post author

      Terima kasih….Oleh karena itu mungkin dimulai dari diri kita sendiri untuk tidak lagi hanya melihat hasil akhir saja sebagai tolok ukur keberhasilan seseorang. Bisa mulai lebih apresiatif mungkin ya

      • Ia, saya setuju. Memang harus dimulai dari diri sendiri, satu demi satu. Sambil berharap agar dapat keadaan dapat berubah dan usaha kita membuahkan hasil.

Leave a Reply