Jika ada yang pernah ngobrol dengan saya tentang strategi komunikasi untuk pasar Indonesia, pasti ingat bahwa saya sering bilang jika orang Indonesia itu kebanyakan bukanlah inisiator, bukanlah orang yang mau duluan melakukan sesuatu, mereka lebih suka menunggu orang lain melakukannya, dan berhasil lalu berbondong-bondong ikutan. Ya, orang Indonesia itu follower, dan hal tersebut kembali terbukti saat Raffi Ahmad menjadi salah satu orang Indonesia yang diberikan vaksinasi Covid 19 pertama kali (tentunya sesudah pak Jokowi).

Hampir seluruh linimasa media sosial membahas tentang kenapa jadi Raffi Ahmad ya? Seorang seleb yang mestinya tidak kesulitan juga untuk membeli sendiri vaksin Covid 19 tersebut. Hampir semua orang mencibir namun tanpa disadari di tingkatan masyarakat lainnya banyak yang berubah pikiran untuk mau diberikan vaksin Covid 16 buat negara China tersebut, dimana sebelumnya kegalauan melanda ditambah dikompor-kompori oleh para provokator yang memang dari dulu tidak menginginkan adanya kedamaian di bumi pertiwi ini.

Anggapan pemilihan Raffi Ahmad yang banyak dianggap tidak tepat, namun hasilnya membuat banyak orang jadi yakin untuk ikutan juga karena pujaannya mau diberikan vaksin menurut saya jadi sebuah cerita sukses, karena kita semua tahu bahwa tingkat keberhasilan menahan laju penyebaran Covid 19 di Indonesia hampir bisa dikatakan tidak mungkin hanya dengan kewajiban melakukan PSBB.

Kita harus menelan acuan-acuan ideal yang mempertanyakan keberadaan Raffi Ahmad dan mulai menerima bahwa masyarakat kita masihlah masyarakat yang berbasis idola. Lupakan idealisme-idealisme keilmuan dan sains, panggil saja seorang influencer dan niscaya banyak yang akan ikut.

Tidak ada yang salah kan?