Berbicara tentang kepasrahan maka kita akan sampai pada titik di kedalaman makna. Begitu juga dalam sebuah karya. Tidak banyak karya yang berhasil mencapai kedalaman makna yang dapat dialami (ditransfer) ke penikmat karya tersebut dengan hampir seragam. Karena kita tahu bahwa sebuah karya seni dalam bentuk apapun akan menjadi milik penikmat saat di karya tersebut dicerna. Penikmat yang merasakannya dan lalu menyematkan definisi pada karya tersebut.

Ini juga karena masalah selera juga sepertinya sehingga saya sangat jarang mendapatkan artis, musisi atau grup dari dalam negeri yang berhasil membuat saya merinding saat mendengarkan karya mereka. Oleh karena itu saat saya mendengarkan karya-karya dari Hursa ini cukup membuat saya kaget bahwa ternyata ada karya anak bangsa yang seperti ini.

Ya judul tulisan ini saya ambil dari karya sebuah band indie yang tadi sudah saya sebut, Hursa, sebuah band yang terdiri dari 4 orang musisi. Saya tidak akan menulis lebih jauh tentang band ini karena semua informasi tentunya bisa kalian dapatkan di internet. Tulisan ini akan lebih menyoroti karya mereka yang berjudul “Bersumarah”.

Bicara kedalaman makna dalam karya, saya pikir “Bersumarah” ini adalah salah satu contoh yang paling pas, walaupun karya ini bukanlah satu-satunya karya dalam negeri yang mencapai level tersebut. Kedalaman makna biasanya dicapai atas kombinasi yang tepat antara lirik dan aransemen. Sebelum jauh dan jadi membingungkan kalian, mungkin lebih enak kita simak dulu kali ya.

Tidak ada yang aneh dalam penciptaan lagu ini saat saya tanyakan langsung pada pencipta, pemain gitar dan kebetulan juga yang menyanyikan lagu “Bersumarah” ini, Pandji Akbari Kautsar. Penemuan dasar lagu dilakukan seperti kebanyakan grup band lain, yaitu jamming sampai mendapatkan chordnya lalu mulai digarap part-part dasarnya. Tidak ada yang aneh. Hal yang menarik justru didapat saat penciptaan lirik, dimana Pandji menceritakannya pada kesempatan ngobrol lewat WA bahwa ide lirik itu muncul di kepala pas sedang ada di dalam pesawat, dimana keadaan sedang turbulensi parah, sementara itu mereka harus menjalani perjalanan lewat udara selama 3 hari karena bolak-balik manggung di luar kota. Turbulensi adalah konsekuensi karena cuaca sedang tidak bersahabat.

Di dalam pesawat yang terkena turbulensi parah itu Pandji kepikiran, ini kalau terombang ambing di pesawat seperti ini, apa yang kita bisa lakukan ya? Kalo di darat, mungkin kita masih bisa mencoba menghindar misalnya ketika hampir diserempet mobil, atau motor mau jatuh, ada tindakan-tindakan yg mungkin bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya kecelakaan. Tapi kalau di dalam pesawat, terkurung, sepertinya tidak ada yang bisa dilakukan kecuali pasrah. Jadilah lagu Bersumarah tersebut yang artinya kurang lebih berpasrah diri.

Dengan cerita terwujudnya lagu Bersumarah ini saya pribadi mendapatkan kejelasan mengapa lagu tersebut jadi terasa dalam. Ya karena ada proses perenungan yang mendalam juga saat hidup mereka bergantung hanya dari kabin pesawat……pada akhirnya berkembang menjadi lagu memasrahkan diri ketika semua usaha sudah dilakukan…..Bersumarah.

Satu tahun setelah album Harap & Tuah (2019) ini dirilis, mereka kembali merilis album yang direkam secara live yang judulnya “Stripped Down Series”(2020) yang berisikan 3 buah lagu dari album Harap & Tuah” yang dibawakan secara minimalis (makanya namanya stripped down). Jika kalian dengarkan lagu “Bersumarah” di album ini jadi jauh lebih mencekam. Vokal tinggi Pandji dipadukan dengan vokal Teza Sumendra yang terasa soulnya membuat lagu ini seperti yang saya bilang, lebih mencekam. Coba dengarkan sendiri deh:

Dulu saya hanya mendapatkan lagu-lagu seperti ini dari grup-grup Eropa, salah satunya adalah MEW, dengan nuansa prog pop, spacy. Kini di kazanah musik lokal ada Hursa!