Saya masih ingat, jaman dulu mau ngajak perusahaan untuk mengadopsi teknologi digital itu sulitnya bukan main. Mereka sudah tahu ada teknologi tersebut tapi mereka seperti malas bergerak (atau gak rela untuk menyisihkan budgetnya) untuk mengurusi transformasi digital pada organisasi mereka.

Pandemi mengubah banyak hal dan membuat digital menjadi naik peranannya sebagai medium utama bahkan untuk beberapa perusahaan jadi sama sekali harus menggantungkan nasibnya lewat digital. Percepatan adopsi penggunaan digital bagi perusahaan jadi sesuatu yang harus segera dilakukan suka atau tidak suka.

Pusing? Bingung? Gimana mulainya? Ini yang biasa dicurhatin oleh para pemangku keputusan di perusahaan. Sebetulnya tidak usah pusing juga sih ya, buat simulasi kecil untuk melihat bagaimana penerapan digital di perusahaan kalian. Gak perlu yang advanced dulu karena sejatinya teknologi digital itu teknologi yang membuat hidup kita lebih mudah (seharusnya ya) secara gradual. Kalau memang harus mulai dari belajar dahulu, ya belajarlah dulu dari hal-hal yang sederhana. Tak perlu terburu-buru, sampai akhirnya mulai mendapatkan grip, dan tahu apa yang paling cocok buat perusahaan.

Problemnya adalah waktu. Di jaman sebelum pandemi saja hampir semua perusahaan tidak punya waktu. Semua pekerjaan kalau bisa selesainya itu kemarin. Nah kalau gak punya waktu, ya langsung terapkan saja. Lha kalau belum paham gimana menerapkannya? Harus mulai dari mana?

Jangan bingung ah…..Kembali ke tahun 2012, saya memutuskan untuk resign dari Yahoo! pada saat itu karena banyaknya kebutuhan perusahaan untuk bisa dengan segera catchup atas masuknya media sosial dan jejaring sosial. Orang-orang seperti saya adalah teman pendamping yang diminta untuk membimbing perusahaan supaya bisa lebih paham dan ujung-ujungnya bisa menghandle segala pernak-pernik usaha yang berkaitan dengan media sosial pada saat itu. Saya bekerja seperti dokter, dengan cara mengaawali segala sesuatunya dengan analisa dan memberikan saran berdasarkan diagnosa. Pekerjaan yang saya lakukan ini disebut dengan konsultan digital.

Lalu apa hubungannya profesi konsultan digital dengan transformasi? Ya sangat dekat lah. Konsultan digital lah yang memberikan saran atas analisa terhadap perusahaan yang mereka bantu, mendampingi mereka saat transformasi dijalankan. Sampai perusahaan bisa bertransformasi secara penuh.

Mudah-mudahan bisa lebih jelas kali ya? Oh iya, setiap konsultan setahu saya punya gaya bekerja yang berbeda-beda, jadi jangan heran jika ada konsultan yang berbeda cara kerjanya dengan saya. Lagian ini bukan masalah benar atau salah kok, melainkan lebih kepada style/gaya bekerja saja. Tinggal Anda mencari yang paling cocok saja…:-)

Photo by Suzanne D. Williams on Unsplash