Banyak yang menyebutkan bahwa beberapa tahun terakhir ini adalah tahun kebangkitan audio di media sosial. Saya masih ingat saat Anchor.FM tiba-tiba diakuisisi oleh Spotify bersama-sama dengan Gimlet Media. Keduanya adalah nama besar di dunia podcast yang menjadi simbol kubu audio di tengah-tengah hingar-bingarnya para vlogger dan YouTuber di dunia video online. Saat itu lah saya sadar bahwa audio akan mulai naik daun di media sosial.

Media sosial adalah media tempat semua orang dapat mengekspresikan apapun. Jika kalian suka berbagi pendapat maka media sosial lah tempatnya. Jika kalian ingin dikenal oleh banyak orang (dalam pengertian apapun), media sosial bisa jadi satu titik awal. Sebagai sebuah sarana, media sosialpun basisnya beragam, ada blog yang berbasis tulisan, ada yang berbasis fotografi seperti Instagram dan Pinterest. Ada yang berbasis video seperti YouTube dan yang terakhir yang saya singgung di awal adalah yang berbasis audio, yaitu podcast. Dan ya ternyata masih terus berkembang ke tempat ngobrol online….literally ngobrol….pakai suara tapi online, dengan lahirnya Clubhouse.

Well sebetulnya ngobrol online pakai suara ini bukan dimulai oleh Clubhouse sih karena kita bisa melakukannya juga di Whatsapp dengan fungsi conference call nya, namun bedanya, di Clubhouse ini kalian bisa bikin semacam open talkshow berbasis audio.

Clubhouse mulai masuk ke market dengan hanya menyasar pasar iOS, dengan keikut sertaannya menggunakan sistem invitation (kayak member-get-member). Dan baru kemarin (tanggal 21 Mei 2021) dibuka untuk pengguna Android. Walaupun Twitter beberapa bulan sebelumnya juga sudah mulai membuka layanan serupa (Twitter Spaces), hanya saya pribadi merasa ada perbedaan diantara kedua platform tersebut (walaupun layanannya sama). Eksklusivitas dari Clubhouse jauh terasa dengan adanya sistem invitation tersebut ketimbang Twitter Spaces.

Apakah media sosial untuk talkshow online ini akan terus diminati? Sekarang iya karena banyak orang yang tidak terlalu nyaman ada didepan kamera, sehingga audio jadi jawaban. Namun in the long run, saya tidak terlalu yakin karena menurut saya belum ada medium yang bisa mengalahkan video dalam hal kelengkapannya (teks, audio, visual, effect, etc). Tapi ya bukan berarti audio ini akan langsung hilang. Pasarnya ada dan akan tetap ada.

Siap ngobrol di Clubhouse? follow saya di @bangwinissimo

Photo by Anton Maksimov juvnsky on Unsplash