Setelah menunggu beberapa lama (dan rasanya tak kunjung datang) akhirnya saat vaksinasi Covid19 tiba. Karena ingin segera mendapatkannya, maka saya tidak menunggu jatah yang semestinya saya dapatkan dari RT/RW, melainkan ikut mendaftarkan diri pada vaksinasi yang diselenggarakan oleh Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) – Departemen Kesehatan yang berlokasi di Jalan Hang Jebat, Kebayoran Baru.

Setelah mencari hari yang kosong, saya dijadwalkan untuk mendapatkan vaksin pada tanggal 4 Juni 2021, dan ini bukanlah hari pertama melainkan minggu ke dua dari dimulainya proses vaksinasi tersebut. Ya tidak apa-apa lah, yang penting segera dapat, saya pikir demikian. Seminggu sebelum tanggal saya di vaksinasi saya baru tahu bahwa vaksin yang digunakan itu adalah vaksin yang diproduksi oleh AstraZeneca (AZ).

Vaksin AZ ini cukup terkenal setelah vaksin Sinovac (ayah kandung dan ibu mertua saya menggunakan vaksin Sinovac soalnya). Namun keterkenalan vaksin AZ ini ya cukup bikin keraguan juga karena beberapa negara sempat menahan peredaran vaksin ini sebelum akhirnya kembali diijinkan untuk digunakan. Silahkan cari sendiri di mesin pencari ya.

Tanggal 4 Juni 2021, saya sampai di BBPK Hang Jebat sekitar pukul 10.45, dan mengikuti proses registrasi berdasarkan nomer antrian yang saya dapatkan lewat aplikasi loket.com. Kurang dari 10 menit saya sudah selesai di vaksin dan menunggu sekitar 15 menitan untuk observasi, dan setelah itu saya pulang. Tidak ada keluhan apa-apa.

Tanggal 5 Juni 2021, setelah 24 jam paska vaksinasi, bagian lengan saya yang disuntik oleh vaksin masih terasa pegal dan sakit, seperti bengkak tapi secara fisik tidak bengkak. Tubuh saya mulai terasa meriang dengan peningkatan suhu tubuh, walaupun masih dibawah 38 derajat Celsius (saya putuskan untuk minum paracetamol 500 mg). Saya tidur siang cukup lama, lalu malamnya saat tidur juga masih terasa meriangnya sehingga saya minum lagi paracetamol kedua yang dibekali oleh perawat ditempat vaksin.

Tanggal 6 Juni 2021, kondisi tubuh mulai kembali normal. Meriangnya sudah turun, hanya saja lengan masih sakit. Overall kondisi sudah kembali normal.

Hari ini saya mencoba mengingat-ingat kembali. Jika dibandingkan dengan pengalaman mengantarkan dan mengamati ayah saya vaksin pertama dan kedua (Sinovac) terdapat 2 perbedaan yang cukup signifikan. Yang pertama side effect, vaksin Sinovac sama sekali tidak memberikan reaksi/efek apa-apa terhadap ayah saya. Sedangkan vaksin AZ memberikan reaksi seperti di atas yang saya ceritakan. Yang kedua adalah rentang waktu. Pemberian vaksin Sinovac adalah dua kali dalam rentang waktu 28 hari, sedangkan vaksin AZ 2 bulan lebih (saya vaksin pertama pada tanggal 4 Juni dan vaksin kedua dijadwalkan pada tanggal 27 Agustus). Dari situ saya berkesimpulan bahwa vaksin AZ ini memang lebih keras yang akhirnya merdampak memberikan reaksi pada kebanyakan penerimanya. Mengapa saya bilang kebanyakan, karena dari beberapa teman yang juga menerima vaksin AZ, ada juga yang tidak mengalami reaksi naiknya panas tubuh dan meriang seperti saya.

Sekali lagi tulisan ini bukan bermaksud untuk menakut-nakuti. Setiap vaksin pasti memiliki efek, namun demi kesehatan kita bersama tetap harus kita jalani bukan? Efek yang muncul juga hanya sementara sebagai respon tubuh sebelum beradaptasi dan mulai membentuk antibodi.

Bagaimana dengan kalian? Sudah pada menerima vaksin belum? Bagi-bagi dong ceritanya 🙂