Beberapa saat yang lalu setelah saya memposting tulisan tentang perbedaan antara blockchain dan cryptocurrency, berdatangan pertanyaan-pertanyaan susulan yang menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan kedua hal ini, khususnya tentang penggunaan cryptocurrency. Salah satu yang paling banyak ditanyakan adalah kemungkinan cryptocurrency digunakan sebagai alat tukar selayaknya mata uang yang berlaku di suatu negara.

Ya sepanjang pengetahuan saya tentang sistem ekonomi sih sebenarnya jawaban saya untuk pertanyaan tersebut ya bisa-bisa saja, hanya saja saya tidak bisa hanya menjawab dengan jawaban tersebut tanpa penjelasan lebih lanjut bukan? Oleh karena itu mungkin akan saya coba jelaskan lebih jauh sampai ke kondisi terakhir dimana kemungkinan tersebut makin besar.

Cryptocurrency seperti Bitcoin dan Ethereum menawarkan sejumlah manfaat, dan salah satu yang paling mendasar adalah tidak memerlukan adanya lembaga perantara untuk mengirim pembayaran, yang artinya ini membuka kemungkinan penggunaannya bagi siapa saja di seluruh dunia (tanpa mesti direpotkan pada perbedaan negara, geografis dan waktu). Tetapi satu kelemahan utama dari cryptocurrency ini adalah harganya yang tidak dapat diprediksi dan memiliki kecenderungan untuk berfluktuasi, terkadang liar.

Ini membuat cryptocurrency menjadi sulit untuk digunakan oleh orang biasa. Umumnya, orang berharap dapat mengetahui berapa nilai uang mereka seminggu dari sekarang, baik untuk keamanan dan penghidupan mereka.

Ketidakpastian Cryptocurrency berbeda dengan harga uang kertas yang umumnya stabil, seperti dolar AS, atau aset lain, seperti emas. Nilai mata uang seperti dolar memang berubah secara bertahap dari waktu ke waktu, tetapi pada cryptocurrency perubahan sehari-hari yang terjadi seringkali lebih drastis, di mana nilainya naik dan turun secara teratur.

Grafik di bawah ini menunjukkan harga bitcoin (BTC, -0,46%) vs dolar AS (USD) dibandingkan dengan mata uang fiat lainnya, dolar Kanada (CAD), untuk melihat seberapa besar fluktuasi setiap mata uang dalam kaitannya.

Fluktuasi harga untuk bitcoin (garis hitam) cenderung jauh lebih besar daripada dolar AS (garis oranye). (Untuk tujuan perbandingan ini, keduanya dinormalisasi ke dolar Kanada, atau CAD.)

Karena kondisi inilah maka muncul apa yang disebut dengan stablecoin. Wah apalagi itu?

“Stablecoin” adalah jenis cryptocurrency yang nilainya terkait dengan aset di luar crypto, seperti dolar AS atau emas, untuk menstabilkan harga.

Stablecoin bernilai lebih dari $10 miliar per Mei 2020. Di negara-negara seperti Brasil, banyak orang beralih ke stablecoin sebagai alternatif mata uang nasional mereka dalam kondisi ekonomi yang tidak menentu. Sementara itu, di Hong Kong, beberapa orang menggunakan stablecoin untuk menghindari sensor internet baru dalam iklim politik yang kacau.

Sekilas tentang Stablecoin

Stablecoin mencoba mengatasi fluktuasi harga dengan mengikat nilai cryptocurrency ke aset lain yang lebih stabil, dan biasanya yang diikatnya ke mata uang fiat. Fiat adalah istilah untuk mata uang yang dikeluarkan pemerintah yang biasa kita gunakan sehari-hari, seperti dolar, euro rupiah, dan cenderung tetap stabil dari waktu ke waktu.

Biasanya entitas di belakang stablecoin akan menyiapkan “cadangan” di mana ia menyimpan aset yang mendukung stablecoin dengan aman, misalnya, $ 1 juta di bank tradisional (jenis bank dengan cabang dan teller dan ATM di lobi) untuk dicadangkan satu juta unit stablecoin.

Beginilah cara stablecoin dan aset dunia nyata diikat bersama. Uang dalam cadangan berfungsi sebagai “jaminan” untuk stablecoin. Seorang pengguna secara teoritis dapat menebus satu unit stablecoin untuk satu unit aset yang mendukungnya.

Ada jenis stablecoin yang lebih kompleks yang dijamin oleh cryptocurrency lain daripada fiat namun masih harus direkayasa untuk melacak aset utama seperti dolar.

Maker, mungkin penerbit stablecoin paling terkenal yang menggunakan mekanisme ini, menyelesaikannya dengan bantuan Collateralized Debt Positions (CDP), yang mengunci agunan cryptocurrency pengguna. Kemudian, setelah smartcontract mendeteksi bahwa agunan sudah diamankan, maka pengguna dapat menggunakannya untuk meminjam stablecoin yang namanya dai yang baru dicetak.

Variasi stablecoin ketiga, yang dikenal sebagai stablecoin algoritmik, tidak dijaminkan sama sekali; sebagai gantinya, koin dibuat untuk menjaga nilai koin sesuai dengan harga target. Katakanlah koin turun dari harga target $1 menjadi $0,75. Algoritme akan secara otomatis menghancurkan sebagian besar koin untuk menghasilkan lebih banyak kelangkaan, mengangkat harga stablecoin.

Jenis stablecoin ini tidak populer sejauh ini. Salah satu stablecoin paling populer yang mengikuti model ini, “Basis”, ditutup pada tahun 2018 karena masalah regulasi.

Jenis Jaminan yang Digunakan untuk Stablecoin

Dengan menggunakan kerangka kerja penggunaan jaminan ini, stablecoin hadir dalam berbagai “flavor”, dan penjaminan stablecoinnya menggunakan berbagai jenis aset sebagai pendukung:

  • Fiat: Fiat adalah jaminan paling umum untuk stablecoin. Dolar AS adalah yang paling populer di antara mata uang fiat, tetapi perusahaan juga mengeksplorasi stablecoin yang dipatok ke mata uang fiat lainnya, seperti Bilira, yang dipatok ke Lira Turki atau untuk Rupiah Token (IDRT) yang dipatok ke Rupiah.
  • Logam mulia: Beberapa cryptocurrency terikat dengan nilai logam mulia seperti emas atau perak.
  • Cryptocurrency: Beberapa stablecoin bahkan menggunakan cryptocurrency lain, seperti Ether, token asli jaringan Ethereum, sebagai jaminan.

Apa Stablecoin yang Paling Populer?

Untuk memberi Anda gambaran tentang eksperimen yang terjadi di lahan stablecoin, mari kita lihat beberapa stablecoin paling populer.

Diem

Diem (sebelumnya dikenal sebagai Libra) adalah stablecoin yang masih dalam proses pengerjaan, awalnya disusun oleh platform media sosial dunia yang kuat, Facebook. Sementara libra belum diluncurkan, itu memiliki dampak psikologis yang lebih besar daripada stablecoin lainnya.

Pemerintah, terutama China, sekarang mengeksplorasi mata uang digital mereka sendiri yang terinspirasi oleh kripto, sebagian karena mereka khawatir Diem akan menjadi ancaman kompetitif karena Facebook adalah perusahaan multinasional dengan miliaran pengguna dari seluruh dunia.

Awalnya, Diem Association, konsorsium yang dibentuk oleh Facebook, mengatakan Diem akan didukung oleh “sekeranjang” mata uang, termasuk dolar AS dan euro. Namun karena masalah regulasi global, asosiasi tersebut telah mundur dari visi awalnya yang ambisius. Sebaliknya, mereka sekarang berencana untuk fokus pada pengembangan beberapa stablecoin, masing-masing didukung oleh mata uang nasional yang terpisah.

Tether

Tether, atau USDT (-0,01%), adalah salah satu stablecoin tertua, diluncurkan pada tahun 2014, dan paling populer hingga saat ini. Saat ini salah satu cryptocurrency paling berharga secara keseluruhan berdasarkan kapitalisasi pasar.

Penggunaan utama USDT adalah memindahkan uang antar bursa dengan cepat untuk memanfaatkan peluang arbitrase ketika harga mata uang kripto berbeda di dua bursa; pedagang dapat menghasilkan uang dari perbedaan ini. Namun juga ditemukan penggunaan lainnya, seperti misalnya importir China yang ditempatkan di Rusia juga telah menggunakan USDT untuk mengirim nilai jutaan dolar melintasi perbatasan, melewati kontrol modal yang ketat di China.

USD Coin

Diluncurkan pada tahun 2018, USD Coin adalah stablecoin yang dikelola bersama oleh perusahaan cryptocurrency Circle dan Coinbase melalui Centre consortium.

Seperti Tether, USD Coin juga dipatok ke dolar AS. Ini adalah stablecoin terbesar kedua berdasarkan kapitalisasi pasar.

Dai

Berjalan pada protokol MakerDAO, dai adalah stablecoin di blockchain Ethereum. Dibuat pada tahun 2015, dai (+0,02%) dipatok ke dolar AS dan didukung oleh Ether (ETH, -3,39%), token di belakang Ethereum.

Tidak seperti stablecoin lainnya, MakerDAO bermaksud agar dai didesentralisasi, artinya tidak ada otoritas pusat yang dipercaya untuk mengontrol sistem. Sebaliknya, smart contract Ethereum (yang menyandikan aturan yang tidak dapat diubah) yang menjalankan tugas ini sebagai gantinya.

Namun, masih ada masalah dengan model inovatif ini; misalnya, jika smart contract yang mendukung MakerDAO tidak bekerja persis seperti yang diharapkan. Memang, mereka sempat dipermainkan awal tahun 2020 yang menyebabkan kerugian sebesar $8 juta.

Apakah Stablecoin Memiliki Kekurangan?

Ada beberapa kelemahan stablecoin yang perlu diingat. Karena cara stablecoin biasanya diatur, mereka memiliki titik kesulitan yang berbeda dari cryptocurrency lainnya.

Media publikasi khusus cryptocurrency, The Capital, misalnya, berpendapat bahwa sementara stablecoin disebut “stabil”, mereka hanya stabil seperti aset yang diikat dengan stablecoin. Secara tradisional, harga dolar sangat stabil, tetapi jika itu berubah, setiap fluktuasi nilai dolar akan tercermin dalam stablecoin.

Jika cadangan disimpan di bank atau di tempat lainnya, kerentanan lain yang muncul adalah risiko pihak lawan (counterparty risk). Ini bermuara pada pertanyaan: Apakah entitas tersebut benar-benar memiliki agunan yang diklaimnya? Ini telah menjadi pertanyaan yang sering diajukan ke Tether, misalnya, tanpa jawaban yang jelas. Tether belum memberikan audit terbuka penuh atas cadangannya.

Banyak penerbit stablecoin tidak memberikan transparansi tentang di mana cadangan mereka disimpan, yang dapat membantu pengguna menentukan seberapa berisiko stablecoin untuk diinvestasikan. Mengetahui di mana uang mereka disimpan, pengguna dapat melihat apakah stablecoin beroperasi tanpa lisensi di wilayah tempat cadangan disimpan. Jika operator stablecoin tidak memiliki lisensi, regulator berpotensi membekukan dana yang mendasari stablecoin tersebut, contohnya demikian.

Lebih jauh lagi, mungkin saja cadangan yang mendukung stablecoin ternyata tidak cukup untuk menebus setiap unit, berpotensi mengguncang kepercayaan pada stablecoin tersebut jadinya.

Cryptocurrency diciptakan untuk menggantikan perusahaan perantara yang biasanya dipercaya dengan uang pengguna. Secara alami, perusahaan perantaraini jadi memiliki kendali atas uang itu, sebagai contoh, mereka biasanya dapat menahan transaksi agar tidak terjadi. Beberapa stablecoin menambahkan kemampuan untuk menghentikan transaksi juga.

USD Coin secara terbuka memiliki “jalan belakang” untuk menghentikan pembayaran jika koin digunakan secara ilegal. Circle, salah satu perusahaan di balik USD Coin, mengonfirmasi pada Juli 2020 bahwa mereka membekukan $100.000 USD Coin atas perintah penegak hukum.

*Disadur dari berbagai sumber

Business photo created by ViDIstudio – www.freepik.com