Ngobrol di dunia online mungkin bukan sesuatu yang aneh. Kita melakukannya sejak jaman chatting itu masih menggunakan IRC (Internet Relay Chat) pada sistem operasi DOS, sampai berkembang dan berkembang memasukkin era sekarang dimana chatting itu menggunakan Whatsapp, Telegram atau Signal. Itu semua adalah medium untuk ngobrol berbasis teks. Kita ngobrol dengan mengetik, bukan ngobrol dalam artian ketemu dan langsung menggunakan suara, walaupun teknologi tersebut sudah bisa dilakukan dengan video call dan voice call. Kehebohan yang sebenarnya terjadi saat Clubhouse diperkenalkan dimana fiturnya adalah diskusi real-time dengan menggunakan audio, yak seperti chatting dalam group tapi menggunakan suara serta dilakukan secara realtime.

Saya tidak akan membahas Clubhouse secara spesifik, tapi yang ingin saya soroti adalah apakah Clubhouse akan sustain sebagai platform stand-alone untuk ngobrol rame-rame via online? Bahwa Clubhouse adalah produk yang keren, saya pikir ini saat ini bukan suatu pernyataan yang relevan lagi, namun dengan mulai banyaknya brand-brand besar menambahkan fitur audio-based discussion pada produk mereka maka persaingan menjadi sangat ketat menjadikan pertanyaan tentang bagaimana Clubhouse bisa sustain lah pertanyaan yang muncul ke permukaan

Jika kita perhatikan, kemunculan dari Twitter Spaces, Facebook Live Audio Room, Spotify Greenroom ini adalah usaha brand-brand besar tersebut untuk masuk ke ranah diskusi audio yang dipopulerkan oleh Clubhouse. Mereka menambahkan fungsi diskusi berbasis audio sebagai fitur, diatas user-based yang sudah terbentuk dan memiliki loyalitas cukup kuat.

Menurut saya pribadi akan lebih memudahkan bagi saya untuk dapat langsung terjun mencoba fitur tersebut tanpa harus singup lagi dan membangun jejaring saya terlebih dahulu seperti yang harus saya lakukan jika menggunakan Clubhouse, namun ya itu pendapat saya. Bagaimana menurut Anda?

Business vector created by upklyak – www.freepik.com