Akhirnya setelah dua semester tertunda, pendidikan S2 saya selesai. Thank God! Ingatan saya kembali pada saat jaman dulu di tahun 1997 saya sudah hampir melanjutkan pendidikan S2 di Australia (UNSW, Sydney) yang akhirnya batal karena krisis moneter yang membuat biaya yang harus dikeluarkan pada saat itu membengkak jadi dua kali lipat lebih. Kekecewaan tersebut membuat saya menguburkan dalam-dalam keinginan saya tersebut sampai akhirnya saya melihatnya kembali di tahun 2018.

Untuk apa sih gelar S2? Buat saya ini bukan sekedar pembuktian tapi lebih usaha saya untuk bisa masuk ke dunia pendidikan di Indonesia. Mengapa kok cuman di Indonesia? Nyatanya memang untuk bisa mengajar di Indonesia harus memiliki jenjang pendidikan tertentu yang spesifik secara akademis. Pengalaman saya menjadi dosen di NYC, Amerika Serikat (ya saya pernah mengajar di sana), opsi untuk dapat menjadi pengajar bukan hanya didasari oleh jenjang akademis, namun juga bisa dengan pengalaman profesional yang mencukupi, dan dengan modal itu lah saya bisa jadi pengajar di sana.

Apa yang saya dapatkan dari menyelesaikan jenjang pendidikan S2? Ya ilmu yang pasti. Kesadaran bahwa semua pendapat dan opini harus memiliki dasar yang kuat itu yang paling terasa. Kita dibebaskan untuk berpendapat tapi harus ada data yang membuktikan atau memperkuat pendapat tersebut. Selebihnya adalah tatacara penyampaian yang bisa diterima dalam sistem akademis.

Ada yang bertanya, apakah saya akan melanjutkan ke jenjang S3? Well, saya harus mendapatkan alasan yang cukup kuat untuk dapat melanjutkan ke jenjang S3. Saat ini prioritas saya pribadi adalah survive dan menjamin dapur dulu, mengingat anak saya juga baru berumur 9 tahun.

Bagaimana hubungannya make a living dengan S2? Pilihannya ijazah tersebut dijadikan modal untuk bekerja secara profesional atau ya bekerja di sektor akademis, yang kata orang unsur pengabdiannya cukup besar. Apakah benar demikian? Ya mungkin saja, namun saya tidak terlalu peduli sih, yang penting setidaknya ilmu yang saya dapatkan bisa dijadikan penopang hidup plus juga membantu orang lain.

Pencapaian gelar Magister ini akan saya jadikan titik tolak baru untuk memulai hal-hal baru pula yang dulunya cukup sulit dilakukan saat belum memiliki gelar tersebut, contohnya ya mengajar….:-)

Selain mengajar? Ada banyak hal lain yang mengantri….let’s see