Sebetulnya saya sudah mulai mengajar (jadi dosen) sejak beberapa bulan yang lalu, dimana saat itu sebetulnya saya belum lulus S2 (saya sidang di bulan Agustus 2021) di salah satu lembaga pendidikan yang namanya International Design School (IDS). Saya mengajar mata kuliah Digital Advertising di IDS, dan pada saat saya menulis blog ini saya sudah memasuki minggu ke 3 dalam sesi ke dua.

Di bulan Agustus 2021 ini, paska kelulusan saya (Magister Desain), saya mulai juga mengajar di Podomoro University, sebuah kampus yang selalu saya lewati saat kuliah di Universitas Trisakti, karena posisinya pada saat itu ada di Central Park Mall. Ya tentunya masa itu pandemi belum lah datang, dan saya selalu menggunakan kendaraan umum untuk pergi kuliah. Di Podomoro University ini saya mengajar 3 mata kuliah di program studi yang linear dengan background pendidikan S1 dan S2 saya, yaitu Desain Produk

Di bulan September 2021, kalau tidak ada halangan saya juga akan mulai mengajar di SAE Institute pada program studi Music Business, untuk mata kuliah Business Analysis.

Kelihatannya menyeramkan ya mengajar langsung di 3 tempat, kebayang hecticnya. Prinsip saya, dijaman sulit ini (setidaknya sulit bagi saya), hectic dengan pekerjaan yang pasti itu jauh lebih membahagiakan ketimbang santai tapi dipenuhi ketidak pastian. Ya banyak pekerjaan itu konsekuensi yang harus dijalankan. Dan satu hal lagi, proses belajar mengajarnya juga masih dilakukan secara online, jadi saya tidak perlu pontang panting untuk ke Central Park, Kemang dan Pejaten. Kalau kelas tatap muka sudah bisa diberlakukan lagi gimana? Ya kita pikirkan nanti saja itu ya….hehehe

Mengajar itu bagi saya fun, yang sebetulnya agak berat ya mempersiapkan materi ajar. Namun materi ajar itu sebetulnya justru kunci, karena di situlah signature gaya ajar si dosen terlihat. Lalu pertanyaannya apakah saya mampu membuat semua materi ajar tersebut sendiri? Jawabannya tidak dan ngapain juga bikin materi ajar sendiri dari nol?

Pada saat menentukan Rencana Pembelajaran Semester (RPS), setiap pengajar bisa menentukan literatur acuan untuk materi ajar, dengan acuan tersebut lalu pengajar bisa mengembangkannya menjadi materi ajar untuk dikomunikasikan pada para mahasiswa. Kedengarannya simple ya tapi saat kita diminta untuk mengajar lebih dari 3 mata kuliah, then another problem appears. Waktu yang tidak cukup.

Dalam hal ini saya menggunakan konsultan yang handal untuk membantu membuatkan materi ajar tersebut, yaitu istri saya sendiri, Tyas Handayani, yang membantu saya membaca buku acuan yang akan digunakan lalu memindahkan materi mentah dengan feeling mengajar in text ke PPT, lalu saya lanjutkan ke pemolesan materi ajar secara kosmetik sehingga bisa dipresentasikan di depan kelas.

Thanks ya istriku tersayang, tanpa dirimu mungkin urusan persiapan materi ajar tidak akan bisa kepegang juga…:-)

Bagi saya, proses belajar-mengajar itu bisa sukses jika intimate relationship antara dosen dan kelasnya bisa dibangun. Oleh karena itu biasanya masalah materi ajar (presentasi) itu jadi sangat penting, karena hanya dengan cara itulah kita sebagai pengajar bisa mentransfer ilmu yang secara komitmen dijanjikan oleh lembaga pendidikan ke para mahasiswa.

That’s all my ranting this morning sebelum jam 8 nanti saya mengajar…:-)

ps: Jika ada dari kalian yang ingin dibantu juga untuk mengembangkan materi presentasi, boleh lho kontak ke Tyas. Profesional aja, her work won’t disappoint you asalkan briefnya jelas

ps: Foto yang digunakan cuman ilustrasi lho ya, kita belum sampai ke titik di mana proses belajar mengajar menggunakan teknologi VR

Photo by Max Fischer on Pexels.com