Kemarin saya sempat ketemu dan ngobrol dengan sahabat saya, EQ Puradiredja (yes you’re right EQ is a guy from Humania). Obrolan kami didominasi oleh sharing pengalaman tentang being a parent. Ya kebetulan anak-anak kami memang belum lewat SD dan saat pandemi mendera semua sistem pendidikan jadinya mereka harus menjalani pendidikan secara online, dan tanpa terasa kita semua sudah melewati 2 tahun hidup dalam kondisi new normal ini.

Kondisi pandemi yang berjilid-jilid tanpa kita ketahui kapan akan selesai ini membuat a new normal slowly but sure jadi normal yang sesungguhnya, para orang tua mulai menerima bahwa pendidikan yang dilakukan lewat online mau tidak mau harus dijalani sebagai suatu cara satu-satunya untuk bisa terus belajar, setidaknya untuk anak-anak ya. Opsi lain dalam menjalankan pendidikan adalah hybrid, yaitu dengan membagi online dan tatap muka yang juga sudah mulai ditawarkan, namun membuka pintu kemungkinan bagi anak-anak kita untuk terpapar oleh virus itu bukanlah opsi yang baik bagi kita para orang tua. Oleh karena itu opsi ini walaupun ditawarkan tidak cukup untuk memenuhi kuota keputusan, maka sampai saat ini, online masih tetap dijalani.

Peran guru, peran orang tua

Dalam pendidikan online tentu saja peranan guru jadi sangat-sangat penting dalam menerapkan metode belajar-mengajar yang tepat. Dengan kemampuan berinteraksi utuh dengan para murid yang dibatasi hanya dengan layar monitor, hal ini manjadi sangat challenging tentunya. Oleh karena itu menurut saya pribadi, guru harus berbagi peran dengan orang tua dalam proses belajar-mengajar secara online. Ya kalau ingin jujur sih sebetulnya tanggung jawab pendidikan itu kan nomer satu ada di pundak orang tua ya, sistem sekolah menawarkan pengalihan tanggung jawab pendidikan dipindahkan ke sekolah dengan imbalan biaya tertentu sehingga seolah-olah tanggung jawab jadi kelihatannya ada pada guru sepenuhnya. Tapi sebenarnya bukan begitu bukan? Tetap saja orang tua yang punya tanggung jawab pendidikan terhadap anak-anak mereka.

Nah pandemi dengan kondisi new normalnya mengubah banyak hal. Pendidikan sekolah via online juga mengubah banyak hal termasuk peranan orang tua yang kembali menjadi partner guru dalam menjalankan fungsi pendidikan tersebut. Tanggung jawab pendidikan ini harus kembali diterima oleh orang tua karena jadinya tidak masuk akal jika orang tua marah-marah karena jadi harus ikutan membantu mengajar jadi tandemnya guru dalam menjalani pendidikan online.

Penyesuaian yang harusnya terjadi

Ok….pertanyaan yang muncul setelah semua orang tua sudah menerima pengembalian tanggung jawab pendidikan ke tangan mereka adalah penyesuaian. Sistem pendidikan ini dibangun dengan situasi dan kondisi saat pandemi belum hadir. tatap muka langsung adalah esensi dari praktek pendidikan. Mengapa diperlukan bangunan sekolah? Seberapa besar beban guru setelah orang tua ikut serta jadi ‘guru’ juga?

Tentunya harus ada penyesuaian, rekalkulasi pembiayaan agar semua pihak yang terlibat dalam sistem pendidikan bisa menerima dengan senang hati. Berapa biaya sekolah yang kita bayarkan sebelum pandemi dan berapa biaya sekolah yang seharusnya kita bayarkan setelah pandemi hadir lalu membuat sistem pendidikan berubah? It a subject to discuss. Yang pasti harus ada penyesuaian. Mari kita sama-sama membuat kembali daftar kebutuhan di era new normal ini dan menerapkan penyesuaian yang fair.

Kemampuan bersosialisasi

Satu hal yang paling kelihatan bakalan banyak hilang adalah interaksi antar manusia. WFH mengurangi interaksi real antar manusia dalam bekerja, namun bagi kita orang dewasa, saya pikir kita sudah cukup kenyang dengan hal tersebut. Bagaimana dengan anak-anak kita dengan sekolah online nya? Pastilah juga akan berkurang banyak. Disini pe er nya orang tua untuk mencari cara agar kebutuhan bersosialisasi anak-anak tetap dapat terpenuhi.

Kontrol

Ini adalah masalah kontrol. Resiko yang ditimbulkan oleh pandemi semuanya sama saja, hanya saja jika kontrol itu diberikan kepada yang memang memiliki tanggung jawab, maka segalanya bisa dijalankan dengan baik. Siapa yang bertanggung jawab terhadap anak-anak? Ya tentu saja orang tuanya, oleh karena itu keputusan memilih untuk tetap berada di sekolah online banyak dirasakan keputusan yang tepat. Kontrol ada pada orang tua. Masalah pembelajaran, bukan lagi sepenuhnya tugas guru, karena peranan orang tua dibutuhkan pada sistem pendidikan online. Orang tua kembali mendapatkan kontrol tersebut. Pemenuhan kebutuhan bersosialisasi, juga sepenuhnya ada di tangan orang tua.

Jadi sekarang sudah saatnya sebagai orang tua kita mulai berhenti mengeluh karena harus ikut menemani anak dalam belajar secara online. Mulailah menjalankan kembali tanggung jawab kita. Segala permasalahan yang muncul karena pandemi sudah teridentifikasi. Yuk kita diskusikan pemecahannya…:-)

Photo by August de Richelieu on Pexels.com