Oleh Tibor Shanto

Jika Anda dalam bidang penjualan, maka Anda tidak dapat bersembunyi dari hype tentang social selling. Sosial adalah state of mind yang menginformasikan pelaksanaan penjualan Anda, pendekatan penjualan, dan bagaimana Anda memilih untuk terlibat dengan pembeli Anda, serta membawa mereka melalui siklus penjualan dan pembelian.

Ada banyak pembicaraan dalam pergeseran kekuasaan sehubungan dengan informasi dan ketersediaan serta penggunaannya oleh pembeli. Ceritanya adalah bahwa di masa lalu, penjual memegang keseimbangan kekuatan, karena mereka memiliki akses ke informasi yang tidak dimiliki pembeli. Ini membuat pembeli bergantung pada penjual untuk mendapatkan informasi dan sebagai akibatnya keseimbangan teralihkan ke penjual.

Tapi ini benar-benar lebih tentang state of mind dari apa pun. Penjual yang cerdas akan memanfaatkan informasi itu untuk membantu pembeli membuat keputusan yang tepat. Informasi adalah komoditas, kekuatan sebenarnya terletak pada pengetahuan, dan penjual yang cerdas menggunakan pengetahuan itu dengan cara yang saling menguntungkan, dan benar-benar dengan cara “Sosial”.

Anda hanya perlu melihat beberapa hal yang dilakukan Joe Gerard untuk menjadi seorang penjual mobil nomor satu dunia. Joe sudah bersosialisasi jauh sebelum dirinya menjadi acuan. Sementara Joe mungkin tidak memiliki peralatan yang cukup, namun dia tidak kekurangan sikap dan kebiasaan yang membuat beberapa social seller saat ini sukses.

Sama seperti ada banyak statistik yang menunjukkan penggunaan jaringan sosial dan pertemanan oleh pengambil keputusan sebelum dan selama proses pembelian, ada banyak statistik yang menunjukkan bahwa mereka kewalahan dan bingung dengan volume dan sifat yang saling bertentangan dari informasi tersebut. Membantu mereka memahami kebisingan adalah nilai nyata, membantu adalah hal sosial yang bisa Anda dapatkan.

Jika Marshall McLuhan melakukan aktivitas menjual hari ini, dia pasti akan menjadi social seller, tetapi dia akan menjadi penjual yang buruk, karena dalam penjualan, media bukanlah pesan, yang merupakan jebakan yang membuat banyak social sellers gagal, dengan berpikir bahwa alat-alat yang ada akan dapat menjadikan mereka penjual yang baik.

Sementara alat-alat bantu dan perkembangan teknologi telah membawa efisiensi pada prosesnya, pada intinya social selling itu benar-benar lebih banyak tentang cara Anda melihat penjualan dan yang lebih penting adalah pelanggan Anda.

Pandangan itu akan memberi Anda keuntungan terlepas dari alat-alat apa yang Anda pilih untuk mengerjakan pekerjaan Anda, bagaimana Anda melihat dan memilih untuk berurusan dengan pembeli Anda. Saya suka ungkapan: “A fool with a tool is still a fool”, hanya karena Anda memiliki akun Twitter, dan sejuta koneksi di LinkedIn, tidak membuat Anda jadi bersosialisasi, itu adalah dan akan selalu menjadi eksekusi dan niat Anda. sebagai penjual.

Tibor Shanto
LinkedIn: www.linkedin.com/in/tiborshanto
Web: www.sellbetter.ca
Twitter: @tiborshanto

Photo by Quintin Gellar on Pexels.com


Tulisan ini merupakan rangkaian dari serial tulisan “Social Selling Serial Tips” yang berisi kumpulan pendapat dari para praktisi terkemuka yang profilnya ada di LinkedIn. Anda dapat melihat siapa penulisnya dan menghubungi mereka langsung lewat setiap link yang ada pada akhir setiap tulisan.