Saya masih ingat percakapan saya sekitar 10 tahun yang lalu dengan seorang teman yang bekerja di sebuah advertising agency, membahas tentang pengaplikasian digital yang pada saat itu saya lihat akan mendominasi di seluruh kehidupan kita. Teman saya itu bilang bahwa mereka di dunia advertising tidak terlalu memikirkan masalah tersebut, karena pasar Indonesia masih jauh dari digital. Ia menggunakan istilah kasual “Belanda masih jauh Bang, santai aja”.

Jelas bahwa teman saya ini bukan orang digital, karena jika ia adalah orang yang mengikuti perkembangan teknologi digital maka ia pasti akan paham betapa percepatan penetrasi teknologi digital ini cepatnya bukan main. Mengapa demikian? Karena simply this technology makes our live easier, sehingga secara sukarela dan tanpa diminta masyarakat mengambilnya sendiri tanpa dorongan apapun untuk ikut serta dalam penggunaannya.

Tidak sampai 1 tahun apa yang saya bicarakan dengan teman saya tersebut terbukti. Disrupsi secara nyata terjadi pada hampir semua media, dimana masyarakat mulai shifting dari media tradisional ke media digital sehingga memporak porandakan peta dunia iklan. Banyak biro iklan besar yang biasa menangani project-project 360 kehilangan pekerjaan karena klien-klien mereka tidak lagi mengalokasikan budget beriklan mereka sepenuhnya pada media tradisional. Bahkan banyak brand yang mulai memutuskan untuk menjalankan in-house agency karena dirasakan lebih manageable dalam hal budget terutama yang berkaitan dengan media digital. Hal ini sangat memukul agency-agency besar. Kebetulan saya juga sempat mendapatkan masukkan serupa saat mewawancara lewat podcast, sahabat saya Chandra Marsono seorang praktisi digital yang sudah lama malang melintang di dunia advertising.

Tahun 2019 merupakan tahun dimana penggunaan digital mulai memuncak tinggi, disaat pandemi Covid 19 mulai menerpa dunia sampai sekarang. Digital adalah sebuah keharusan agar pekerjaan bisa jalan dan ekonomi bisa berputar, walaupun di beberapa sektor masih harus dijalankan secara non digital (misalnya pertanian tentu saja tidak bisa kalau tidak dilakukan secara langsung). Pekerjaan-pekerjaan yang tadinya harus dilakukan di kantor, sebisanya jika tidak harus on-hands dialihkan menjadi Work-From-Home (WFH). Penetrasi digital menjadi keharusan, tidak bisa tidak, dan kalau saya masih bisa ngobrol lagi dengan teman saya dulu, maka saya akan bilang ke dia, “Sekarang Belandanya sudah masuk ke rumah kita nih, mau gimana kita?”

Photo by Pixabay on Pexels.com