Buat Anda-Anda yang sudah baca blogpost saya yang sebelumnya pasti sekarang aware bahwa saya punya latar belakang industrial design, dimana seorang industrial designer itu memiliki jalan pikiran terpola yang unik dan selalu melihat dari sisi keberlangsungan bisnis (selalu mulai dari pemikiran dengan bagaimana sebuah produk yang di desain bisa dibuat dan diproduksi massa) dengan keterikatannya juga dalam bidang marketing karena cakupannya sampai ke pengguna.

Cara berpikir seperti ini adalah pola pikir khas yang dimiliki oleh seorang industrial designer, yang kemudian mulai diajarkan di d.school (the Hasso Plattner Institute of Design yang merupakan bagian dari Stanford University) yang disebut dengan istilah Design Thinking. Saya pribadi mengenal istilah ini karena IDEO mempopulerkan dan menerapkannya pada layanannya. Yes, dari jaman saya masih duduk dibangku perkuliahan saya memang mengagumi IDEO.

Ini juga yang membuat saya memutuskan untuk mengajar mata kuliah Design Thinking di salah satu universitas di Jakarta.

Design Thinking ini sebetulnya sangat mengacu pada Human-Centered Design, dimana paham ini menganut bahwa sebuah perancangan itu yang utama harus selalu mengacu pada manusia sebagai pengguna, sebelum dilanjutkan pada unsur-unsur lain seperti estetika dan lain sebagainya.

Walaupun tidak seekstrim pendekatan yang dilakukan oleh Victor Papanek dalam bukunya Design For The Real World, namun saya melihat kedua pendekatan tersebut ada benang merahnya yaitu bermuara pada pengguna, bukan sekedar kosmetik.

Well, ini akan jadi pembahasan yang panjang sih jika dilanjutkan. Kapan-kapan ya dilanjutkannya…:-)

Ps: Ternyata saya pernah membuat blogpost tentang Design Thinking juga di tahun 2017….silahkan cek di sini

Photo by Kumpan Electric on Unsplash