Opini + Pemikiran + Celotehan

Celoteh

Logika Penerapan Label Halal

Beberapa saat lalu terjadi kehebohan menyusul dengan munculnya logo halal yang diperbaharui. Well, saya sih tidak mempermasalahkan logo baru tersebut, tapi justru saya masih bingung apakah memang ada kebutuhan untuk menempelkan label halal tersebut pada makanan di negara kita ini?

Saya ingat waktu saya diberi kesempatan untuk berkunjung ke beberapa negara yang mayoritas penduduknya tidak mengenal halal-haram untuk makanan mereka, pada saat itu saya harus bertanya-tanya pada orang sekitar untuk dapat menemukan tempat yang menjual makanan halal agar kami bisa makan dengan aman. Saya berpikir, akan sangat membantu jika di negara-negara seperti ini petunjuk tentang makanan halal justru diadakan, dimana mayoritas penduduknya memang tidak berurusan dengan halal atau haramnya makanan.

Kembali ke negara kita yang mayoritasnya penganut agama yang memang menerapkan aturan halal-haram, apakah juga begitu sulitnya untuk menemukan makanan halal, sehingga harus ada label halal?

Bukankah sebaiknya justru label non-halal yang seharusnya diterapkan agar kita jadi tidak salah makan ditengah-tengah semua makanan halal yang ada?

Bagaimana menurut Anda?

Photo by Arthur Osipyan on Unsplash

2 Comments

  1. Karena untuk sampai ke keputusan halal haram bnyk sekali prosesnya. Nggak bisa hanya sekedar bertanya. Saya pernah ikut acara penjasan dr salah satu staf yg biasa mengurus sertifikasi. Perjalanannya panjang dr proses produksi hingga sumber lain. Di negara di luar yg ada lembaga tsb prinsip yg dipegang juga sama utk sertifikasinya.
    Produk baru yg blm atau mau sertifikasi blm tentu haram juga tp hukumnya syubhat. Kalau cuma bertanya bisa sj mmg dia nggak pakai pork misalnya. Tp kita nggak tahu apkh saat masak pancinya yg digunakan tdk bersamaan dg saat pelaku memasak dg pork? Atau bgmn proses di dapurnya. Krn mmg tdk semua org tahu semua syaratnya.

    Yakin bang mau menerapkan cara yg diusulkan? Kita menyebut secara verbal sesuatu haram saja banyak org yang rame apalagi tertulis…

    • Comment by post author

      Ya itu hanya masalah penyebutan sih……bagi penganut agama tertentu, halal vs haram adalah masalah baik vs dosa……sehingga penggunaan kata-kata halal & haram jadi mendiskreditkan bahan makanan tertentu walaupun bagi agama lainnya. Bahkan kata “babi” saja dianggap tidak baik regardless agama. Ya betul permasalahannya adalah mindset masyarakat yang sudah keburu terbentuk sehingga memang kita tidak bisa lagi menggunakan kata-kata haram karena konotasinya jadi buruk bahkan untuk yang agamanya membolehkan sekaligus (prejudice dari penganut agama yang menerapkan). Jadi ya menurut saya harus dicari padanan istilah yang belum terkontaminasi.

Leave a Reply

%d bloggers like this: