Opini + Pemikiran + Celotehan

Celoteh

Teknologi Yang Akan Menyelesaikan Permasalahan Royalti

black headphones with mobile smartphone

Photo by Kaboompics .com on Pexels.com

Permasalahan di dunia kreatif itu hampir sama semua, mindset yang kacau dalam memandang profesi yang berdampak pada kurangnya apresiasi dan berakibat sulitnya profesional dibidang kreatif ini menjadikannya royalti sebagai sumber penghasilan mereka

Dulu saya mengalami sendiri karena saya punya latar belakang sebagai desainer. Orang-orang di negara ini tidak mengenal istilah royalti, mungkin karena bangsa kita tidak pernah jadi bangsa pencipta, tapi lebih condong pada bangsa pekerja, sehingga semua karya dianggap haknya akan 100% berpindah tangan pada pembeli jika sudah dibeli.

Demikian juga pada industri musik, pencipta karya musik juga mengalami hal yang sama. Walaupun sudah ada undang-undang yang mengatur (bahkan diperkuat oleh Peraturan Presiden no.56) tetap saja banyak yang mempertanyakan mengapa musisi dan pencipta lagu itu harus terus mendapatkan ‘bayaran’ lagi jika karya mereka didengar atau diperdengarkan (baca: dibeli rekamannya)? Kan urusan jual belinya sudah selesai saat rekaman mereka dibeli, itu menurut pandangan mereka yang mempertegas bahwa masih banyak yang tidak paham konsep royalti ini. Para pedagang (a.k.a label) bahkan memanfaatkan ketidak tahuan masyarakat ini untuk dapat mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dengan mengedepankan kontrak flat fee pada musisi dan pencipta lagu agar haknya berpindah tangan selama mungkin ke mereka sehingga mereka tidak perlu lagi bayar royalti.

Dengan adanya undang-undang yang mengharuskan pengguna karya musik membayar royalti, tidak membuat mereka serta merta melakukannya, oleh karena itu bermunculanlah organisasi-organisasi yang disebut dengan istilah collecting society yang niatnya adalah membantu pemilik hak (right owner) mengumpulkan hak mereka (royalti) dari para pengguna karya. Problemnya dengan para organisasi ini adalah pendataan. Bagaimana mereka bisa menyampaikan hasil pengumpulan hak tersebut ke pemegang hak atas karya jika mereka tidak memiliki pendataan yang baik? Pondasi dari keinginan baik mereka membantu pemegang hak menjadi rapuh karena distribusi royalti ke para pemegang hak jadi tidak akurat, bahkan mereka sendiri tidak bisa menjelaskannya secara rinci.

Kemunculan Teknologi Blockchain

Dalam beberapa tahun terakhir ini popularitas NFT didunia karya seni digital membumbung tinggi. Apa itu NFT? Mungkin akan lebih baik saya mengambil artikel lain untuk menjelaskan tentang NFT ini, yang pasti walaupun berbeda fungsi jika dibandingkan dengan mata uang kripto, keduanya menggunakan teknologi blockchain. Kelebihannya adalah apapun yang menggunakan teknologi blockchain ini akan terdesentralisasi yang artinya berjalan berdasarkan dukungan banyak pihak, ribuan bahkan jutaan untuk melakukan tugas-tugas yang perlu dijalankan. Selain itu teknologi blockchain juga memungkinkan untuk memasukkan aturan-aturan yang disepakati untuk diberlakukan pada transaksi yang dijalankan secara langsung yang sering disebut sebagai smartcontract.

Baik, lalu hubungannya apa dengan karya musik ataupun karya-karya lain yang perlu adanya royalti? Nah sederhananya sebetulnya jika dunia musik sudah mengadopsi teknologi blockchain dalam jual beli karya musik (menggunakan NFT ataupun Kripto) maka urusan pembagian royalti bisa disematkan pada smartcontract, sehingga setiap transaksi atas karya musik tersebut pembagian royalti langsung terjadi didepan. Setiap pemegang hak akan langsung mendapatkan haknya saat karya tersebut dijual, tidak lagi dikumpulkan pada saat-saat tertentu seperti yang dilakukan oleh para organisasi-organisasi collecting society yang saya jelaskan di atas.

Sekarang sudah cukup jelas bahwa urusan pembagian royalti sudah selesai urusannya ketika menggunakan teknologi blockchain. Akan ada ‘korban’ yaitu organisasi-organisasi yang tadinya pekerjaannya mengumpulkan royalti dari para pengguna. Namun jika royalti tidak perlu lagi dikumpulkan (karena sudah secara otomatis terdistribusikan) ya saya pikir tidak ada lagi yang perlu dipertahankan dari keberadaan organisasi-organisasi tersebut bukan? Itu semua adalah konsekuensi dari terjadinya disrupsi yang harus kita terima.

Mungkin yang belum mengadopsi teknologi blockchain akan masih membutuhkan bantuan pihak ketiga untuk mengumpulkan royalti tersebut, namun itu tinggal menunggu waktu saja menurut saya.

4 Comments

  1. Saya sepakat bang. Logo, desain grafis, jingle, dll juga merupakan konten yang bisa dijadikan NFT dan memberikan reward yang layak bagi penciptanya. Sayangnya NFT justru ‘terbelokkan’ maknanya menjadi hanya sekedar jual-beli-investasi ‘aneh’ berupa gambar2 ngawur.

Leave a Reply

%d bloggers like this: