Pendewasaan dalam Berekspresi


Mungkin kalian bertanya-tanya, mengapa keliatannya blog saya tidak fokus ke satu bidang lagi? Dimana sebelumnya saya selalu membuat konten yang tidak jauh dari bidang yang relevan dengan saya: community management dan media sosial. Lalu kini saya mulai membuat konten dengan topik yang agak melebar.  Baca lebih lanjut

Iklan

Posting Tentang Musik


konser

Saya suka musik, mungkin tidak banyak orang tahu tentang itu. Tapi mungkin juga banyak yang sudah tahu dan saya yakin orang-orang yang tahu itu adalah teman-teman yang sempat in-touch dengan saya di era 80an dan 90an….yes I’m an oldskool haha…..  Baca lebih lanjut

Memperkenalkan: Bangwinissimo.Com


Saya memutuskan untuk memisahkan aktivitas blogging saya jadi dua, yaitu berkaitan dengan makin banyaknya pekerjaan konsultansi yang datang sehingga rasanya jika tidak diberikan ‘tempat khusus’ maka kelihatannya tidak serius.

Blog khusus yang berkaitan dengan pekerjaan saya bisa dikunjungi di bangwinissimo.com, dan ya, tidak seperti website-website corporate lainnya saya tetap mempertahankan bentuk blog dengan alasan saya tidak ingin memberikan perasaan ‘berjarak’ terhadap pengunjung nantinya. Selain itu dengan blog saya juga bisa mempertahankan pendekatan ‘bercerita’ (storytelling) dalam memaparkan kasus-kasus yang mungkin saja Anda alami atau sedang Anda coba pecahkan, sehingga kita bisa mendapatkan manfaat bersama-sama nantinya.

Sedangkan blog ini (bangwin.net) akan saya isi dengan tulisan-tulisan saya yang lebih personal dengan topik-topik yang lebih luas.

Mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi kita semua ya….Amiiien

Foto: exchange3d.com

Liberate Yourself


Terus terang tulisan dari Richard MacManus yang bercerita tentang bagaimana seorang penulis novel yang karyanya ditolak hampir 100 kali akhirnya memutuskan membangun jaringan social di internet yang memfasilitasi penulis-penulis yang bernasib sama dengan dirinya ini cukup membuat saya kembali mengingat-ingat betapa banyak kejadian serupa (dengan ending yang berbeda tentunya) terjadi di tanah air kita ini. Tidak saja bicara mengenai karya tulisan namun hampir diseluruh bidang kreatif. Indonesia bisa dibilang gudangnya karya kreatif hanya kanal-kanal untuk penyaluran yang berupa distribusi masih bisa dibilang sangat-sangat kurang. Ini terjadi pada pemusik, penulis, seniman-seniman murni dan lain-lain. Tulisan Richard di atas adalah salah satu contoh dimana seorang pelaku seni yang berfikir out-of-the-box, keluar dari jaringan yang ada dan mewujudkan sendiri apa yang ia cita-citakan.

Kemarin saya sempat diperkenalkan dan ngobrol dengan suami dari teman SMA saya, kandidat doktoral NUS, Singapura yang namanya mas Idham Bachtiar Setiadi (untuk selanjutnya kita panggil saja mas Idham). Sebagai kandidat doktoral, tentunya mas Idham memiliki tulisan-tulisan yang menarik yang saya yakin akan sangat menarik jika bisa dibaca oleh khalayak umum, namun mas Idham mengemukakan bahwa tulisan-tulisannya selalu terjegal dan gagal terbit pada media-media yang ia kirimkan. Kasus yang berbeda yang akan saya ceritakan sebagai contoh selanjutnya adalah sahabat saya yang juga kandidat doktoral di UI, Yuka Narendra. Yuka memindahkan tulisan-tulisan analitisnya ke sebuah blog, walaupun masih dalam tahap awal, Yuka sendiri cukup senang dengan bisa mempublish tulisannya sendiri.

Di sekitar tahun 2006an saya diperkenalkan dengan situs social networking (seingat saya istilah social networking belum terlalu populer) yang bernama Kemudian.com, dengan konsep hampir sama dengan situs Writer’s Bloq yang dibahas oleh Richard MacManus di atas. Lalu Kemudian.com ini jadi lumayan populer. beberapa buku karya penggunanya sempat akhirnya diterbitkan karena kreativitas mereka tertangkap oleh para penerbit pada platform ini.

Internet liberating lot of things, salah satunya kemampuan kita melakukan self-publishing. Nayia Moysidis “melompat” jauh setelah berkali-kali ditolak penerbit dengan membangun Writer’s Bloq, sahabat saya Yuka Narendra menggunakan blog untuk menampilkan tulisan-tulisan analitis gaya disertasinya, juga mas Idham yang akhirnya mengungkapkan ketertarikannya untuk mempublish tulisan-tulisannya lewat blog. Beberapa orang musisi yang saya kenal pun mulai mempublish karya-karya mereka menggunakan platform-platform social media khusus musik seperti SoundCloud dan platform-platform lainnya yang tersedia.

Saya yakin masih banyak orang-orang seperti mereka dan internet memungkinkan mereka untuk melakukannya. Oleh karena itu, seperti yang selalu muncul dalam saran-saran saya jika ngobrol tentang internet dan dunianya, apa lagi yang  Anda tunggu 🙂

(sumber foto)