Me being A Buzzer?


Pagi ini saya mendapatkan pertanyaan yang membuat saya tertegun sejenak. “Mas, rate mu berapa ya kalau jadi buzzer?”.…..Well, to be honest saya pribadi sangat jarang jadi buzzer dengan pengertian sebuah brand memanfaatkan network/follower yang saya miliki untuk menyampaikan message mereka. Saya tanya dulu akhirnya tentang pengertian buzzer dimata si penanya tersebut karena bagi saya seorang buzzer itu bukanlah sebuah TOA (baca: loudspeaker), bagi saya kegiatan buzzing itu seharusnya tidak serta merta hanya menyebarkan message, namun harus ada strategi penyampaian pesan didalamnya serta eksekusinya didasari dari hasil strategi komunikasi tersebut. Banyak brand yang hanya menyiapkan message untuk didistribusikan ke KOL dan memperlakukan KOL sebagai alat amplifikasi bagi message mereka….It won’t work that way, folks.

How I’m doing this? What usually I’m doing? Give me a proper brief, I will create a digital communication strategy which will be implemented on how the brand message can be conveyed to the target market, and I will lead the team to execute. You can get the optimum impact on the market, I’ll guarantee…:-)

Menyikapi Kewajiban Bayar Pajak, Untuk Bisnis Online Maupun Offline


tax

Saat ini sedang heboh karena adanya pernyataan dari Ditjen Pajak yang menyebutkan bahwa mereka akan meminta para selebgram dan buzzer atau siapapun yang mencari penghasilan di media sosial untuk membayar pajak pendapatan. Apakah ini hal baru? Dan bagaimana menyikapinya? Mari kita bahas.

Baca lebih lanjut

Storyteller di Dunia Maya yang kita sebut dengan Buzzer


buzzing bee

“Kira-kira Bangwin mau gak ya jadi buzzer? Rada ragu tadinya mau tanya karena banyak yang bilang Bangwin gak suka dengan profesi buzzer”

Sore tadi saya dihubungi salah satu teman saya lewat Whatsapp yang menanyakan pertanyaan di atas ini. Dan pertanyaan tersebut menyadarkan saya bahwa banyak yang menyangka saya ‘alergi’ terhadap profesi ‘buzzer’ tersebut, which is totally wrong. Saya sama sekali tidak alergi ataupun benci terhadap profesi buzzer namun saya berpendapat bahwa aktivitas buzzing itu seharusnya bukan hanya sekedar jadi amplifiernya klien tapi seharusnya ya more than that. Dan mungkin tidak banyak yang tahu bahwa saya juga melakukan pekerjaan buzzing tersebut dengan formulasi dan pendekatan yang mungkin agak berbeda, sehingga kelihatannya saya tidak pernah melakukan hal tersebut. Baca lebih lanjut