Membabi-butanya Penyalahgunaan Agama


Kecenderungan yang saya lihat terjadi di negara kita adalah sebuah isue akan jadi lebih kuat jika dibubuhkan atribut agama, percakapan jadi memiliki kekuatan absolut jika mulai ditambahkan unsur-unsur agama didalamnya, walaupun kadang banyak yang dipaksakan karena yang ingin dicapai adalah kemenangan bukan esensi agama tersebut. Please don’t get me wrong, saya bukanlah seorang atheist, dan saya sangat percaya agama adalah panduan bagi kita semua untuk menjadi lebih baik dan berlaku baik. Coba cari apakah ada agama yang mengajarkan sesuatu yang tidak baik?

Beberapa saat lalu muncul sebuah iklan/jingle di radio tentang sebuah varian terbaru dari minyak angin yang menyebut produk mereka paling pas untuk digunakan pada bulan puasa karena tidak mengandung alkohol, jadi lebih halal. Apakah alkohol itu juga haram ketika dijadikan obat? Ok saya stop disini sebelum jadi topik diskusi baru.

Kita semua tahu bagaimana tindak tanduk beberapa ormas di tanah air ini ya, saya tidak perlu menyebutkan namanya satu persatu tapi hampir kebanyakan begitu mereka menggunakan atribut agama tertentu tiba-tiba seolah-olah jadi sebuah organisasi yang tak boleh dibantah oleh siapapun. Bahkan ketika mereka mulai melakukan tindakan-tindakan anarkispun mereka menganggap hal tersebut boleh dilakukan walaupun jelas-jelas itu melanggar hukum negara maupun hukum agama mereka sendiri.

Contoh kasus lain yang terjadi baru-baru ini adalah ketika salah satu kandidat putaran kedua pilkada DKI Jakarta menggunakan isue SARA untuk memukul popularitas kandidat saingannya. Bahkan untuk mencapai tujuannya salah satu artis simpatisan mereka pun mengeluarkan statement yang kontroversial. Lagi-lagi mereka menggunakan agama agar masyarakat bisa langsung takluk dan mengikuti apa yang mereka inginkan.

Agama adalah sebuah keyakinan dan hak individual yang (seharusnya) dilindungi oleh negara dan undang-undang, namun pada kenyataannya begitu sebuah keyakinan menjadi mayoritas dalam sebuah komunitas bahkan setingkat negarapun jadi susah untuk mengontrolnya. Kelompok-kelompok dengan agenda dan tujuan tertentu dengan mudahnya mengadopsi agama untuk mencapai tujuan dan kepentingan kelompok tersebut. Itulah alasannya kenapa negara-negara yang sudah jauh lebih mature tidak memasukkan agama sebagai unsur dalam menjalankan negara, atau dengan kata lain mengembalikan agama pada tempatnya yaitu hak dan keyakinan setiap individu. Dengan begitu negara pun bisa lebih leluasa dan netral dalam menjalankan tugasnya menjamin kebebasan berkeyakinan bagi masyarakatnya.

Bagaimana menurut Anda?

Foto: Tatan Syulflana – Latitudes.nu